Kurangi Sampah Plastik dan Cemaran Mikroplastik di Balunijuk
Fitriadi September 05, 2026 12:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Pertumbuhan penduduk dan meningkatnya aktivitas perdagangan di Desa Balunijuk, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka, turut diikuti bertambahnya penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari. 

Kantong plastik, botol plastik, serta gelas plastik semakin mudah dijumpai, termasuk di lingkungan sekolah dan pesantren.

Kondisi tersebut menjadi perhatian tim dosen dosen Universitas Bangka Belitung (UBB) karena sampah plastik yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan persoalan lingkungan dalam jangka panjang. 

Karena itu, diperlukan upaya edukasi dan pengelolaan sampah yang praktis, mudah diterapkan, serta melibatkan masyarakat secara langsung.

Untuk itu, dosen UBB melaksanakan kegiatan Pengabdian Masyarakat Tingkat Universitas (PMTU).

Dengan tema Pelatihan Pengolahan Sampah Plastik Menjadi Ecobrick untuk Mengurangi Cemaran Mikroplastik di Sekolah Al-Mansyur, Desa Balunijuk.

Kegiatan  dilaksanakan di lingkungan Sekolah Al-Mansyur yang merupakan sekolah tingkat menengah sekaligus bagian dari lingkungan pesantren, pada Agustus 2026 lalu.

Kegiatan pengabdian melibatkan dosen dari berbagai disiplin ilmu yakni Dr. Umroh, S.T., M.Si. (Ilmu Kelautan), selaku Ketua, dan anggota Suci Puspita Sari, S.Si., M.Si. (Ilmu Kelautan), Phd, dan Robika, S.Si., M.Si (Biologi). 

Kolaborasi lintas bidang tersebut diharapkan dapat memberikan pendekatan yang komprehensif dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan peserta dalam mengelola sampah plastik.

Ketua tim, Umroh, mengatakan, Ecobrick menjadi salah satu alternatif pemanfaatan sampah plastik melalui proses pengumpulan dan pengemasan plastik bekas ke dalam botol plastik. Hingga menjadi material yang padat dan dapat dimanfaatkan kembali untuk berbagai kebutuhan. 

"Konsep ini tidak bertujuan memusnahkan plastik, tetapi memperpanjang masa pemanfaatannya sehingga sampah yang sebelumnya tidak bernilai dapat diubah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat," kata Umroh, Sabtu (5/9/2026).

Ia mengatakan, melalui kegiatan pengabdian ini, tim Pengabdian berupaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa, santri, serta masyarakat dalam memilah dan memanfaatkan sampah plastik.

"Peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai permasalahan sampah plastik dan mikroplastik, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung melalui pelatihan pembuatan ecobrick," lanjutnya.

Pelaksanaan pengabdian dosen UBB ini menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR), yakni metode yang menempatkan masyarakat dan peserta kegiatan sebagai bagian aktif dalam mengidentifikasi persoalan sekaligus mencari solusi. 

"Pendekatan partisipatif tersebut diharapkan dapat mendorong perubahan perilaku dalam pengelolaan sampah, khususnya sampah plastik yang dihasilkan dari aktivitas rumah tangga maupun lingkungan sekolah dan pesantren. Dengan keterampilan yang diperoleh, siswa dan santri diharapkan dapat menerapkan kebiasaan memilah serta memanfaatkan sampah plastik sejak dari sumbernya," jelasnya.

Dia menjelaskan, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bahwa pengelolaan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. 

Sekolah dan pesantren memiliki posisi strategis dalam menanamkan kebiasaan peduli lingkungan kepada generasi muda sehingga praktik pengelolaan sampah dapat terus dilakukan secara berkelanjutan.

"Selain memberikan manfaat langsung bagi Sekolah Al-Mansyur dan masyarakat Desa Balunijuk, kegiatan pengabdian dosen UBB ini juga diarahkan untuk menghasilkan produk ecobrick yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan lebih lanjut," katanya.

Sementara, hasil kegiatan sekaligus menjadi bentuk kolaborasi antara UBB dan pemerintah desa dalam mendorong pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan.

"Melalui edukasi dan pelatihan yang dilakukan secara langsung, kegiatan ini diharapkan tidak berhenti pada proses pembuatan ecobrick semata," terangnya.

Lebih jauh, program tersebut menjadi langkah awal untuk membangun budaya pengelolaan sampah plastik yang bertanggung jawab, mengurangi potensi pencemaran lingkungan. Serta menumbuhkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan dari ancaman sampah plastik dan mikroplastik.

"Dari Balunijuk, langkah kecil mengolah sampah plastik diharapkan dapat menjadi gerakan bersama menuju lingkungan sekolah, pesantren, dan masyarakat yang lebih bersih dan berkelanjutan," tutupnya. (*/Rilis/Bangkapos.com/Riki Pratama)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.