Kenalkan Tenun kepada Generasi Muda, SMAN 1 Sewon Ajak Siswa Berkreasi dengan Wastra Nusantara
Hari Susmayanti September 05, 2026 12:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kain tenun tidak hanya dipandang sebagai warisan budaya yang dikenakan dalam berbagai upacara adat. 

Di tengah perkembangan zaman, wastra Nusantara itu juga terus didorong agar dapat hadir dalam gaya hidup generasi muda.

Upaya tersebut dilakukan SMAN 1 Sewon, Bantul, melalui kegiatan pengenalan tenun yang digelar Jumat (4/9/2026). 

Kegiatan ini digelar menjelang peringatan Hari Tenun Nasional yang diperingati setiap 7 September, bekerja sama dengan Lawe Indonesia, lembaga sosial yang bergerak dalam pelestarian tenun tradisional dan pemberdayaan perempuan.

Sebanyak 100 siswa kelas XI mengikuti kegiatan tersebut.

Mereka tidak hanya mendapatkan pengenalan mengenai sejarah dan kekayaan tenun Nusantara, tetapi juga diajak mempraktikkan cara memadupadankan kain tenun dengan busana yang lebih kekinian.

Kepala SMAN 1 Sewon, Gami Sukarjo, mengatakan kegiatan tersebut menjadi langkah awal untuk mengenalkan tenun kepada siswa.

Harapannya, pengenalan itu tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi berkembang menjadi ketertarikan untuk mempelajari dan melestarikan tenun.

"Dalam rangka memperingati Hari Tenun Nasional, kami mendapat kerja sama dengan Lawe, lembaga yang konsentrasi terhadap tenun. Kami memberikan edukasi kepada siswa agar minimal mengenal tenun. Syukur-syukur nanti mereka mencintai dan bisa menyuarakan tenun sebagai produk lokal atau tradisional Indonesia yang harus tetap dipelajari dan dipertahankan," kata Gami.

Baca juga: PB XIV Mangkubumi Diruwat Jelang Penobatan jadi Raja Keraton Kasunanan Surakarta

Dalam kegiatan tersebut, siswa terlebih dahulu mendapatkan sosialisasi mengenai sejarah tenun.

Setelah itu, mereka diajak mengeksplorasi penggunaan kain tenun melalui praktik memadupadankan dengan berbagai material dan busana masa kini.

Menurut Gami, pendekatan tersebut penting agar tenun tidak hanya dikenal sebagai kain tradisional yang digunakan pada kesempatan tertentu. 

Siswa justru perlu melihat bahwa tenun dapat menjadi bagian dari ekspresi berpakaian generasi sekarang.

"Ini praktik memadupadankan tenun dengan busana kekinian. Harapannya anak-anak mulai tertarik memadupadankan tenun dengan material-material lain yang mungkin bisa digunakan untuk kekinian," ujarnya.

Ia berharap pengalaman yang didapat siswa di sekolah dapat berlanjut ketika mereka kembali ke lingkungan masing-masing. 

Dari ketertarikan itu, siswa diharapkan mulai mencari informasi lebih jauh mengenai tenun dan berbagai cara untuk mengembangkannya.

"Kami menganggap ini baru semacam pengenalan. Harapan kami nanti akan menjadi proses yang masif, yang bisa memasyarakat sebagaimana batik," kata Gami.

Sementara itu, Co-Founder Lawe Indonesia, Adinindyah, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Weaving for Life yang dikembangkan Lawe Indonesia bersama Terra Smitra.

Lawe Indonesia memiliki dua misi utama, yakni pelestarian tenun tradisional Indonesia dan pemberdayaan perempuan. 

Salah satu bagian dari program tersebut adalah Weaving Advocate yang secara khusus menyasar generasi muda agar ikut menyuarakan tenun melalui media sosial.

"Harapan kami kalau orang-orang muda ini sudah kenal dengan tenun, mereka bisa mencintai tenun. Kalau sudah cinta, biasanya apa pun akan dilakukan untuk memperjuangkan tenun tersebut," ujar Adinindyah.

Menurutnya, regenerasi menjadi salah satu tantangan dalam keberlangsungan tenun Indonesia. 

Di sejumlah daerah penghasil tenun, generasi muda mulai meninggalkan tradisi yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Padahal, tenun tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga dapat menjadi sumber penghidupan masyarakat di daerah penghasilnya.

Adinindyah mengatakan, generasi muda tidak harus menjadi penenun untuk ikut menjaga keberlangsungan tenun. 

Mereka dapat mengambil peran melalui berbagai bidang, mulai dari desain busana, produksi, fotografi, hingga membuat konten yang memperkenalkan cerita di balik kain tradisional tersebut.

"Orang-orang muda itu tidak harus menjadi penenun. Mereka bisa membuat produk, bisa menjadi fashion designer, bisa menjadi influencer yang menceritakan cerita-cerita tentang tenun. Misalnya menjadi YouTuber yang menceritakan tentang itu, itu juga bisa," katanya.

Dalam kegiatan di SMAN 1 Sewon, Lawe membawa berbagai kain tenun dari sejumlah daerah.

Di antaranya berasal dari Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Sumatra Utara, Jawa Timur, hingga kain dari Myanmar.

Kain-kain tersebut menjadi media bagi siswa untuk mengenal keberagaman tenun secara langsung. 

Adinindyah mengatakan, pendekatan pertama yang dilakukan memang bukan untuk mengajarkan seluruh aturan penggunaan maupun filosofi setiap kain, melainkan membangun kedekatan siswa dengan tenun.

"Intinya kami ingin mengenalkan. Mungkin belum semua punya pengalaman memegang tenun itu seperti apa, kemudian tenun ini dari mana. Mereka belum punya kesempatan untuk keliling Indonesia, jadi kita bawa Indonesia ke sini," ujarnya.

Selain mengenal dan mengapresiasi kain, siswa juga didorong untuk menceritakan pengalaman mereka setelah berkenalan dengan tenun melalui media sosial. 

Aktivasi tersebut diharapkan membuat tenun lebih dekat dengan kehidupan generasi muda.

Program pengenalan itu juga tidak berhenti pada kegiatan sehari di sekolah. Lawe Indonesia dan pihak sekolah telah membicarakan kemungkinan membuka kegiatan lanjutan bagi siswa yang memiliki ketertarikan lebih terhadap tenun.

Adinindyah mengatakan, Weaving for Life memiliki sejumlah kelas, mulai dari fotografi, storytelling, produksi dan pembuatan produk, menjahit, hingga perancangan. Kelas tersebut selama ini digelar secara daring maupun luring.

"Setelah ini akan menuju ke situ. Kami akan buka kelas-kelas di sini untuk anak-anak yang benar-benar tertarik. Bisa menjadi ekskul atau tambahan pengetahuan, menjadi life skill mereka," katanya.

Gami menyambut rencana tersebut. Ia berharap kegiatan pengenalan yang dilakukan bersama Lawe Indonesia dapat menjadi awal dari program yang lebih intensif sehingga siswa memiliki kesempatan untuk mengenal tenun secara lebih mendalam.

"Tadi saya sudah ngobrol dengan foundernya bahwa beliau memfasilitasi kalau siswa kami tertarik dengan kegiatan-kegiatan seperti ini. Insyaallah kita lanjutkan program-program terusannya, supaya anak-anak lebih intens belajar tenun," pungkas Gami.(nto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.