TRIBUNSTYLE.COM - Pemerintah Malaysia mengambil langkah darurat untuk meredakan kabut asap pekat yang menyelimuti wilayah Sarawak dengan melaksanakan operasi penyemaian awan (cloud seeding).
Operasi rekayasa cuaca ini mulai berjalan sejak Kamis (3/9/2026) dan direncanakan berlangsung selama tiga hari.
Dilansir TribunStyle dari YouTube Tribun Jateng, kabut asap yang berasal dari kebakaran hutan di Kalimantan, Indonesia, telah membuat kualitas udara di sejumlah wilayah Sarawak jatuh ke level berbahaya.
Sebagai respons cepat, otoritas setempat memutuskan menempuh rekayasa cuaca guna memicu turunnya hujan.
Hal ini diharapkan dapat membersihkan udara dari polutan sekaligus membantu memulihkan pasokan air yang tertekan akibat musim kemarau panjang.
Baca juga: Viral Video Gubernur Kalbar Ria Norsan Bentak Mahasiswa, Aksi Protes Karhutla Berujung Debat Panas
Operasi ini melibatkan pelepasan larutan garam ke dalam awan menggunakan pesawat militer C130 pada ketinggian 5.000 hingga 7.000 kaki.
Meski demikian, otoritas menegaskan keberhasilan langkah ini tetap sangat bergantung pada kondisi alam, terutama ketersediaan awan yang cukup matang untuk disemai.
Kondisi udara di Sarawak dilaporkan memburuk secara signifikan.
Ada tujuh lokasi yang mencatatkan Indeks Pencemar Udara (API) pada kategori berbahaya, yakni di atas angka 300.
Kota Serian menjadi wilayah yang paling parah terdampak, dengan angka API menyentuh 475.
Memburuknya kualitas udara ini turut memicu lonjakan keluhan kesehatan terkait gangguan pernapasan di kalangan masyarakat setempat.
Operasi penyemaian awan ini merupakan hasil kerja sama lintas instansi yang melibatkan Angkatan Udara Malaysia, Badan Penanggulangan Bencana Nasional, dan Departemen Meteorologi Malaysia.
Langkah ini dikoordinasikan langsung oleh Ketua Komite Manajemen Bencana Sarawak, Douglas Unggah Embas.
Fokus utama operasi diarahkan pada tiga bendungan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) serta 13 daerah tangkapan air, dengan tujuan memastikan efektivitas penanganan baik dari sisi pengendalian polusi maupun pemulihan cadangan air.
Selain kabut asap, Malaysia juga tengah menghadapi tantangan lain berupa krisis infrastruktur air.
Musim kemarau berkepanjangan yang berlangsung sejak Januari 2026 telah menekan pasokan air di sejumlah wilayah, hingga memaksa otoritas melakukan distribusi air minum darurat bagi lebih dari 225.000 warga.
(TribunStyle.com)