Kesan Alissa Mahasiswa Asal Jerman 6 Bulan Kuliah di Undip: Orang Indonesia Hangat Suka Membantu
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -Lingkungan perkuliahan dengan mahasiswa dari berbagai negara menjadi bagian dari upaya Universitas Diponegoro (Undip) memperluas pengalaman akademik dan pertukaran budaya di lingkungan kampus.
Hal itu salah satunya terlihat dari kehadiran mahasiswa asing dalam International Undergraduate Program (IUP) Business Administration Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Undip).
Pada tahun akademik 2026, terdapat 84 mahasiswa dalam satu angkatan IUP FISIP Undip.
Selain itu, terdapat 10 mahasiswa peserta Diponegoro Exchange Experience Program (DEEP) yang mengikuti perkuliahan selama satu semester.
Secara keseluruhan, kegiatan yang mempertemukan mahasiswa tersebut diikuti 104 mahasiswa.
Baca juga: Sosok Pria Terduga Pembunuh Mozza, Setelah 1 Tahun Akhirnya Tunjukkan Lokasi Jasad Korban
Salah satu peserta DEEP yakni Alissa Nikolenko, mahasiswa asal Jerman yang tercatat sebagai mahasiswa dari Bochum University of Applied Sciences.
Alissa mengikuti program pertukaran mahasiswa tersebut selama enam bulan atau satu semester.
Selama berada di Undip, ia mengikuti perkuliahan pada IUP Business Administration FISIP Undip.
Bagi Alissa, kesempatan belajar di Indonesia bukan hanya untuk mendapatkan pengalaman akademik di bidang bisnis, tetapi juga memahami budaya dan kehidupan masyarakat Indonesia.
"Saya memilih Asia Tenggara karena ingin mendapatkan pengalaman yang benar-benar berbeda, bukan hanya dari sisi budaya, tetapi juga dari masyarakat dan studi," kata Alissa kepada Tribunjateng.com, di sela International Students Gathering 2026 Jumat (4/9/2026) malam.
Ia memilih Undip setelah mencari informasi mengenai universitas tersebut, termasuk reputasi dan peringkatnya.
"Saya memilih Undip setelah mencari informasi mengenai universitas ini dan melihat reputasi serta peringkatnya. Itu yang membuat saya akhirnya memilih Undip," ujarnya.
Selama enam bulan di Indonesia, Alissa memiliki target yang tidak hanya berkaitan dengan perkuliahan.
Ia ingin memanfaatkan masa pertukarannya untuk mempelajari bahasa dan budaya Indonesia secara langsung.
"Setelah enam bulan, saya berharap bisa berbicara bahasa Indonesia dengan cukup baik sehingga bisa dipahami oleh orang lain. Saya juga ingin mempelajari pertukaran budaya dan memahami masyarakat serta bahasa Indonesia dengan lebih baik," tuturnya.
Dalam wawancara bersama Tribun, Alissa juga berusaha mempraktekkan kemampuannya berbahasa Indonesia meski belum fasih.
Menurut Alissa, pengalaman berinteraksi dengan masyarakat Indonesia memberikan kesan tersendiri.
Ia menilai masyarakat Indonesia memiliki karakter yang hangat dan suka membantu.
"Menurut pandangan pribadi saya, masyarakat Indonesia lebih hangat dan lebih suka membantu. Saya ingin beradaptasi dengan hal tersebut dan menjadikannya sebagai salah satu bagian dari karakter saya, menjadi pribadi yang lebih seperti itu," ungkapnya.
Alissa memilih jurusan Business Administration di Undip, alasannya karena bidang tersebut memiliki keterkaitan dengan studi yang ditempuhnya di Jerman.
Sementara itu, Dekan FISIP Undip, Teguh Yuwono, mengatakan mahasiswa internasional di FISIP Undip yang berasal dari berbagai negara seperti Rusia, Jerman, Belanda, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Vietnam, hingga sejumlah negara di Afrika seperti Madagaskar jumlah terus meningkat.
Teguh menilai keberadaan mahasiswa dari berbagai negara memberikan kesempatan bagi kampus untuk menciptakan ruang pertukaran budaya secara langsung.
Mahasiswa tidak hanya belajar mengenai budaya lokal dan nasional, tetapi juga mendapatkan pengalaman berinteraksi dengan latar belakang budaya yang berbeda dalam kehidupan sehari-hari di kampus.
"Nah, ini adalah sebuah new tradition, tradisi baru di FISIP. Interaksi kita hari ini sangat strong. Jadi, kita membangun tidak hanya sekadar budaya lokal dan budaya nasional, tetapi juga budaya internasional," jelasnya.
"Mereka berinteraksi, living di kampus serta dalam suasana kekeluargaan. Yang saya senang dari mereka adalah they are very optimistic. Mereka sharing budaya, sharing kultur, kuliah bersama, dan makan bersama," lanjut Teguh.
Menurut Teguh, menciptakan lingkungan yang terasa seperti rumah memiliki kaitan erat dengan kualitas proses pendidikan mahasiswa internasional.
Ia mengaku pernah merasakan langsung bagaimana kampus di luar negeri membangun suasana yang membuat mahasiswa dari negara lain merasa diterima.
"Dulu, waktu saya kuliah di luar negeri juga seperti ini. Kampus menciptakan suasana seperti like a home supaya, pertama, tidak stres. Kedua, happy. Ketiga, terjadi interchange cultures, atau pertukaran budaya," katanya.
Selain memperkuat lingkungan akademik, keberadaan mahasiswa asing juga diharapkan dapat memperluas posisi Semarang sebagai kota tujuan pendidikan.
"Kita juga ingin mendorong agar Semarang menjadi destinasi pendidikan. Selama ini, kota-kota lain yang selalu dijuluki sebagai kota pendidikan. Dengan Undip pada umumnya dan FISIP khususnya, hal seperti ini akan membuat ekspos kita lebih luas dan global visibility kita meningkat," tandasnya. (*)