Pabrik BYD Resmi Beroperasi di Subang: Produksi 100 Persen di Indonesia, Potensi Ekspor Global
Kemal Setia Permana September 05, 2026 05:11 PM

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG- PT BYD Motor Indonesia resmi beroperasi di kawasan Subang Smartpolitan Industrial Park setelah diresmikan pada Kamis (3/9/2026).

Pabrik bernilai investasi Rp11,7 triliun di atas lahan 126 hektare ini memiliki kapasitas produksi mencapai 150 ribu unit per tahun.  

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengatakan bahwa BYD telah merekrut hampir 9.000 tenaga kerja. Jumlah itu baru setengah dari kebutuhan pekerja di BYD yang mencakup tenaga engineer, elektronik, dan tenaga kerja terampil lainnya.

Selain BYD, Dedi menyebut investasi lain juga memberikan dampak terhadap penyerapan tenaga kerja. Satu di antaranya pembangunan data center di Purwakarta yang disebut menyerap sekitar 3.000 pekerja.

Derasnya investasi tersebut tecermin dari realisasi investasi Jawa Barat pada semester I 2026 yang mencapai Rp138,13 triliun. Investasi tersebut menyerap 246.887 tenaga kerja.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Barat, Dedi Taufik, mengatakan kehadiran pabrik BYD menjadi satu di antara investasi besar yang diharapkan mampu memperkuat industri kendaraan listrik sekaligus membuka lebih banyak lapangan kerja.

Percepatan investasi, kata Dedi, menjadi satu kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, baik di tingkat daerah maupun nasional.

Menurutnya, realisasi investasi Jawa Barat sepanjang 2025 mencapai Rp 296,8 triliun. Sementara pada 2026, pemerintah menargetkan realisasi investasi sebesar Rp 314 triliun.

"Selama ini investasi Jawa Barat memberikan kontribusi sekitar 15 persen terhadap investasi nasional. Karena itu, penyelesaian berbagai hambatan investasi di Jawa Barat diyakini akan memberikan dampak positif terhadap pencapaian investasi nasional," ujar Dedi.

Dalam investasi BYD, pemerintah daerah turut mengawal sejumlah persoalan, mulai dari pembebasan lahan, kesiapan infrastruktur, hingga kebutuhan sumber daya manusia.

Baca juga: BYD Subang Diprediksi Makin Besar, Pengamat Soroti Pasar Ekspor Hingga Risiko PHK

Perkuat Ekosistem

Sementara itu, Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita, mendorong investasi BYD di Indonesia tidak berhenti pada produksi kendaraan listrik. Dorongan tersebut muncul seiring pertumbuhan pasar kendaraan listrik nasional yang semakin besar. 

Pemerintah ingin pertumbuhan pasar diikuti penguatan industri kendaraan listrik dari hulu hingga hilir. Agus menilai Indonesia memiliki modal kuat untuk membangun mata rantai industri kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) secara utuh. 

"Indonesia memiliki modal yang kuat untuk membangun mata rantai industri kendaraan listrik secara utuh dari hulu hingga hilir, mulai dari industri pengolahan bahan baku, manufaktur baterai dan battery pack, manufaktur kendaraan listrik, pengembangan pasar domestik, hingga industri daur ulang baterai," kata Agus.

Karena itu, menurutnya, investasi yang masuk tidak cukup hanya berfokus pada produksi kendaraan. Investasi juga perlu terintegrasi dengan rantai pasok industri nasional. 

Pemerintah berharap pengembangan investasi BYD di Indonesia dapat memperkuat ekosistem kendaraan listrik. Fasilitas produksi di Jawa Barat dinilai menjadi satu bagian dari pengembangan tersebut. 

Keputusan BYD membangun fasilitas produksi di Jawa Barat, menurutnya, tepat. Jawa Barat merupakan satu basis industri terbesar di Indonesia. 

Pertumbuhan pasar kendaraan listrik juga menjadi satu pendorong pengembangan industri tersebut.

Hingga April 2026, populasi kendaraan listrik di Indonesia mencapai 468.231 unit. 

Jumlah itu terdiri atas 242.909 unit kendaraan roda dua dan 223.100 unit kendaraan roda empat. Pertumbuhan juga terlihat dari penjualan kendaraan listrik roda empat.

Selama semester I 2026, penjualan battery electric vehicle (BEV) mencapai 70.095 unit. Jumlah tersebut setara dengan pangsa pasar 16,06 persen. Sedangkan penjualan hybrid electric vehicle (HEV) mencapai 40.405 unit dengan pangsa pasar 9,26 persen.

Bagian Perjalanan Panjang

Vice President of BYD Co Ltd sekaligus General Manager of BYD Asia Pacific Auto Sales Division, Liu Xueliang, mengatakan, pembangunan fasilitas produksi di Indonesia merupakan bagian dari perjalanan panjang BYD dalam mengembangkan kendaraan energi baru. 

"Hari ini akhirnya kami bisa merealisasikan impian kami 30 tahun yang lalu," ujar Liu Xueliang.

Ia mengatakan, BYD telah mengambil keputusan besar dalam transformasi bisnisnya dengan menghentikan produksi kendaraan konvensional. "Di tahun 2022, BYD jadi merek mobil pertama yang berhenti memproduksi mobil konvensional," ujar Liu. 

Keputusan tersebut membuat BYD sepenuhnya berfokus pada kendaraan energi baru, baik kendaraan listrik berbasis baterai maupun teknologi elektrifikasi lainnya. 

Pabrik di Subang telah mengintegrasikan semua tahapan utama produksi kendaraan di Indonesia.

"Seratus persen proses produksi mobil sudah dipindah ke Indonesia, dari stamping, welding, painting, dan assembly," katanya. 

Baca juga: Bidik 3 Poin Saat Jamu PSM, Marc Klok Sebut Pertandingan Perdana Selalu Bawa Atmosfer Berbeda

Mengenai kebutuhan tenaga kerja, Liu menyebut bisa mencapai 20 ribu tenaga lokal ketika pabrik beroperasi pada kapasitas maksimal. 

Kehadiran fasilitas produksi lokal juga sejalan dengan perkembangan bisnis BYD di Indonesia. Perusahaan mencatat penjualan yang terus meningkat sejak mulai memasarkan kendaraan listrik secara resmi di Tanah Air. 

"Jumlah penjualan BYD di Indonesia sudah hampir 100 ribu unit. Kami punya target di tahun depan menjadi 200 ribu unit," kata Liu. 

Target tersebut menunjukkan ambisi BYD untuk menggandakan penjualannya di Indonesia dalam waktu relatif singkat.

Pabrik lokal menjadi fondasi penting untuk mendukung peningkatan volume tersebut.

Produksi di dalam negeri juga memungkinkan BYD mengurangi ketergantungan terhadap impor kendaraan utuh sekaligus meningkatkan keterlibatan perusahaan dalam ekosistem industri otomotif 

Prospek Besar hingga 10 Tahun ke Depan

Pabrik BYD di Subang berpeluang berkembang dari sekadar fasilitas perakitan, tetapi menjadi bagian dari jaringan produksi regional, bahkan fasilitas produksi untuk pasar global. Investasi ini memiliki prospek besar dalam lima hingga 10 tahun ke depan seiring pertumbuhan kendaraan listrik di Indonesia dan Asia Tenggara. 

“Jika melihat tren penggunaan dan pembelian kendaraan listrik, rasanya cukup prospektif. Dalam konteks pasar Indonesia, sekiranya pengguna kendaraan listrik meningkat, tentu ini akan menjadi peluang pabrik BYD Subang menjadi bagian dari jaringan produksi BYD pada level regional,” ujar pengamat ekonom dari Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Aknolt Kristian Pakpahan, saat dihubungi Tribun, Kamis (3/9).

Ia menilai, perkembangan tersebut dapat membawa dampak lebih luas bagi Subang. Kehadiran industri kendaraan listrik berpotensi menciptakan lapangan pekerjaan sekaligus mendorong transfer pengetahuan dan teknologi.

Menurutnya, keberadaan pabrik BYD tidak hanya berdampak pada aktivitas manufaktur, tetapi juga bisa menjadi pendorong transformasi ekonomi daerah.

“Ditambah dengan pertumbuhan pengguna kendaraan listrik di Asia Tenggara, tentu pabrik BYD Subang bisa berkembang bukan sekadar fasilitas perakitan, tetapi menjadi fasilitas produksi global,” katanya.

Menurut Aknolt, apabila skenario tersebut terjadi, Subang berpeluang berkembang menjadi kawasan industri yang lebih maju. Efek ganda dapat muncul melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan kemampuan tenaga kerja, hingga transfer teknologi dari perusahaan global kepada industri dan pekerja lokal.

Namun, prospek tersebut bukan tanpa risiko. Dalam lima hingga 10 tahun ke depan, BYD tetap akan menghadapi sejumlah ketidakpastian, mulai dari perubahan kebijakan pemerintah hingga perkembangan teknologi kendaraan listrik dan munculnya kompetitor baru.

“Apakah pada lima sampai 10 tahun ke depan ada perubahan kendaraan listrik dan juga baterainya? Bagaimana sekiranya muncul kompetitor baru, misalnya dari Korea Selatan dan Jepang dalam pengembangan kendaraan listrik?” ujarnya.

Baca juga: Misteri Baru Dentuman Bandung: BMKG Singgung Teori Danau Purba dan Gas Metana

Sementara itu, dari sisi ketenagakerjaan, terdapat beberapa tanda yang relatif mudah diamati ketika perusahaan mulai memasuki tahap efisiensi.

“Jika muncul setop perekrutan, pengurangan jam atau sif kerja, pengurangan lembur, mulai ada kontrak yang tidak diperpanjang, dan pengurangan produksi, inilah tanda-tanda perusahaan masuk dalam tahap efisiensi dan pengurangan jumlah pekerja,” kata Aknolt.

Untuk menjaga keberlanjutan produksi sekaligus tenaga kerja, Aknolt menilai pasar ekspor menjadi faktor paling penting bagi pabrik BYD Subang.

“Bayangkan BYD hanya mengandalkan pasar domestik. Ketika penjualan lokal menurun, perusahaan tidak memiliki banyak pilihan selain menurunkan produksi,” ujarnya.

Menurut Aknolt, pengembangan pabrik BYD Subang perlu diarahkan sejak awal agar mampu melayani pasar yang lebih luas, termasuk pasar regional Asia Tenggara.

Dia meminta pemerintah mengubah pendekatan terhadap investasi BYD. Pemerintah tidak boleh berhenti pada keberhasilan menarik investasi asing, tetapi harus memastikan investasi tersebut mampu melahirkan ekosistem industri kendaraan listrik yang berkelanjutan.

“Pemerintah harus mengubah mindset dari sekadar menarik investasi asing atau investment attraction menuju pembangunan ekosistem industri kendaraan listrik atau industrial ecosystem development,” ucap dia. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.