Anggota DPR Ismail Bachtiar: Insha Allah Listrik di Sulsel Membaik Mulai Besok, Doakan!
Sudirman September 05, 2026 06:22 PM

MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM - Kondisi sistem kelistrikan Sulawesi Selatan (Sulsel) disebut mulai membaik setelah warga di sejumlah daerah menghadapi pemadaman bergilir selama sepekan terakhir.

Anggota DPR RI Komisi VI, Ismail Bachtiar, menyampaikan perkembangan tersebut melalui akun Instagram @ismailbachtiar, Sabtu (5/9/2026).

"InshaAllah sudah membaik mulai besok, doakan," tulis Ismail yang duduk di komisi yang membidangi perdagangan, kawasan perdagangan, pengawasan persaingan usaha, dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Senayan.

Pernyataan itu disampaikan ketika merespons unggahan Tribun-Timur.com yang sebelumnya memuat pernyataannya terkait pemadaman bergilir listrik di Sulsel.

Sebelumnya, Ismail menerima banyak keluhan masyarakat melalui WhatsApp dan media sosial terkait pemadaman.

Baca juga: 2 Pekan Diberikan ke PLN Atasi Pemadaman Listrik di Sulsel, Anggota DPR RI Akan Turun Tagih Progres

Alumnus Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin itu kemudian mengaku berkomunikasi dan koordinasi secara intensif dengan jajaran PT PLN (Persero), mulai tingkat direksi hingga pimpinan wilayah, untuk mengetahui penyebab gangguan sekaligus memastikan langkah penanganannya.

Hasil koordinasi tersebut, menurut Ismail, menunjukkan bahwa fenomena El Niño memang menjadi salah satu faktor yang memengaruhi ketersediaan daya listrik di Sulsel.

Namun, ia menegaskan El Niño bukan penyebab utama pemadaman bergilir yang terjadi.

"El Niño atau Godzilla El Niño menjadi salah satu faktor turunnya daya listrik yang ada di Sulawesi Selatan. Tetapi terhadap proses pemadaman, El Niño bukan menjadi penyebab utama," kata legislator dari Dapil Sulsel II, Selasa (1/9/2026), melalui video di akun Instagramnya.

Menurut Ismail, fenomena El Niño telah berlangsung selama satu hingga dua bulan.

Selama periode tersebut, penyaluran listrik kepada masyarakat pelanggan masih dapat berjalan dengan baik.

Pemadaman dalam beberapa hari terakhir, kata dia, lebih berkaitan dengan perbaikan pada dua unit pembangkit yang berada di Poso, Sulteng dan Jeneponto, Sulsel.

"Memang terjadi karena adanya perbaikan yang kemudian terjadi pada dua unit pembangkit kita masing-masing di Palu (PLTA Poso) dan Kabupaten Jeneponto," ujar politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut.

Gangguan pada pembangkit tidak selalu berdampak hanya di wilayah tempat pembangkit tersebut berada.

Sistem kelistrikan Sulawesi Selatan, Barat, dan Tengah (Sulselbarteng) bekerja melalui jaringan yang saling terhubung.

Karena itu, ketika kemampuan sejumlah pembangkit turun bersamaan, cadangan daya sistem ikut tertekan.

Kondisi tersebut menjadi semakin penting saat musim kemarau ketika pembangkit berbasis air menghadapi keterbatasan pasokan.

Salah satu pembangkit hidro utama adalah PLTA Bakaru di Kabupaten Pinrang yang memiliki kapasitas terpasang 126 megawatt (MW) dari dua unit turbin, masing-masing 63 MW.

Ketika debit air berkurang, kemampuan pembangkit hidro dapat ikut menurun.

Beban sistem kemudian perlu ditopang pembangkit lain.

Sementara, kapasitas terpasang PLTA Poso adalah 515 MW yang juga memasok kebutuhan listrik ke Sulsel dan tiga provinsi lainnya melalui sistem interkoneksi.

Di sektor termal, terdapat PLTU Jeneponto dengan kapasitas terpasang 250 MW, yang terdiri dari dua unit berkapasitas masing-masing 125 MW.

Pembangkit ini menjadi salah satu penopang penting sistem kelistrikan Sulsel.

Sementara itu, sistem kelistrikan Sulsel juga memiliki pembangkit berbasis energi angin.

PLTB Sidrap di Kabupaten Sidenreng Rappang memiliki kapasitas terpasang 75 MW, terdiri dari 30 turbin dengan kapasitas masing-masing 2,5 MW.

Ada pula PLTB Tolo di Jeneponto dengan kapasitas terpasang 72 MW, yang berasal dari 20 turbin berkapasitas masing-masing 3,6 MW.

Namun, kapasitas terpasang tidak otomatis berarti seluruh daya tersebut selalu tersedia untuk digunakan.

Kondisi pembangkit, pemeliharaan, ketersediaan bahan bakar atau sumber energi primer, serta kondisi jaringan turut menentukan daya yang benar-benar dapat disalurkan ke sistem.

Itulah sebabnya perbaikan pada unit pembangkit menjadi penting ketika cadangan daya sedang terbatas.

Dalam sistem kelistrikan yang saling terhubung, turunnya kemampuan sejumlah pembangkit dapat membuat jarak antara pasokan dan kebutuhan listrik semakin tipis.

Jika cadangan daya tidak mencukupi, PLN dapat melakukan pengurangan beban atau pemadaman bergilir sebagai langkah pengamanan sistem untuk mencegah gangguan yang lebih luas.

Konteks inilah yang membuat pemadaman bergilir selama sepekan terakhir tidak cukup dilihat hanya sebagai persoalan listrik padam di rumah warga.

Dampaknya dapat merembet ke aktivitas perdagangan, usaha, pelayanan publik hingga kegiatan rumah tangga yang bergantung pada pasokan listrik.

Karena itu, kepastian pemulihan sistem menjadi hal yang paling ditunggu masyarakat.

Ismail meminta PLN menyelesaikan persoalan pada dua unit pembangkit yang mengalami perbaikan tersebut paling lambat 4-5 September 2026.

"PLN sudah kami evaluasi dan meminta tenggang waktu paling lambat sampai tanggal 4-5 September 2026. Artinya dua atau tiga hari ke depan persoalan ini akan tuntas," kata Ismail, mantan Anggota DPRD Sulsel.

Ismail menyebut persoalan tersebut merupakan gangguan teknis yang bersifat minor dan meminta masyarakat tidak terlalu khawatir.(*)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.