TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG- Ketua Fraksi PPP, DPRD Jabar Zaini Shofari mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Barat segera berkoordinasi dengan pemerintah pusat, untuk membuka kembali akses gerbang Tol Padaleunyi KM 151 dan memperpanjang jam operasional gerbang Tol KM 149, saat Persib Bandung bermain di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA).
Dikatakan Zaini, langkah tersebut penting untuk mengurai kemacetan yang hampir selalu terjadi, di kawasan Gedebage dan sejumlah akses menuju GBLA ketika pertandingan Persib digelar.
Selama ini, kata Zaini, gerbang Tol Padaleunyi KM 151 sudah tersedia sebagai salah satu akses menuju kawasan GBLA.
Tetapi, belum dimanfaatkan untuk mendukung mobilitas masyarakat ketika pertandingan Persib berlangsung.
"Akses pintu tol 151 itu kan sudah ada, tapi tidak pernah dipakai. Sehingga arus kendaraan itu kan semua numpuk kalau di Gedebage semua, atau nggak masuk lagi ke tol Buah Batu," ujar Zaini, Sabtu (5/9/2026).
Menurut Zaini, penumpukan kendaraan tersebut membuat dampak kemacetan pertandingan Persib meluas, hingga sejumlah ruas jalan di Bandung Timur.
Apalagi ketika pertandingan yang digelar merupakan laga besar, kepadatan kendaraan dapat semakin parah.
"Jadi, nggak selalu setiap ada pertandingan Persib itu numpuk, bahkan kalau pertandingannya misalnya big match, itu kan sampai ke Soekarno-Hatta macetnya. Belum di Cimencrang, ada Al Jabbar, apalagi dikasih hujan," katanya.
Zaini pun meminta berbagai pihak duduk bersama untuk mencari solusi persoalan lalu lintas di kawasan Bandung Timur, terutama Pemerintah Kota Bandung dalam menangani kemacetan.
"Jadi maksudnya harus ya banyak pihak, stakeholder terlibat di situ, bersama-sama ini terutama pemerintah kota," ujarnya.
Zaini menilai penanganan persoalan lalu lintas dan kemacetan di kawasan Bandung Timur masih belum menunjukkan perkembangan signifikan.
Menurutnya, pembenahan infrastruktur dan lalu lintas di wilayah tersebut masih berjalan lambat, dibandingkan dengan sejumlah kawasan lain di Kota Bandung.
Padahal, Bandung Timur terus berkembang menjadi kawasan dengan aktivitas masyarakat yang tinggi.
Selain Stadion GBLA, kawasan tersebut juga memiliki sejumlah fasilitas publik yang berpotensi menarik konsentrasi massa dalam waktu bersamaan.
"Iya kalau saya Bandung Timur masih jalan di tempat sepertinya ya. Karena kalau saya lihat di di tengah ya Bandung itu sudah mulai bersih," katanya.
Selain itu, fasilitas transportasi dan akses publik harus diselaraskan dengan jadwal pertandingan, termasuk memastikan layanan transportasi tetap tersedia hingga suporter selesai meninggalkan kawasan stadion.
"Harus sinergis dengan kebutuhan masyarakat. Contoh, Persib main malam hari, fasilitas umum yang digunakan itu harus sinergis dengan jadwal. Whoosh itu habis jam 21.00, sedangkan pertandingan normalnya kan jam 20.45," katanya.
Zaini mengatakan, waktu perjalanan dari Stadion GBLA menuju stasiun Whoosh juga tidak cukup singkat untuk mengejar batas akhir operasional layanan kereta cepat tersebut.
"Perjalanan dari stadion ke Whoosh itu hampir dipastikan tidak mungkin 10 menit gitu. Paling cepat itu 15 menit ya kan? Karena keluar dari area stadionnya, jalan ke area parkiran itu makan waktu paling cepat 15 menit. Itu salah satunya," katanya.