Laporan Wartawan TribunSolo.com, Zharfan Muhana
TRIBUNSOLO.COM, KLATEN - Tradisi syukuran Sendang Tirto Sinongko yang rutin digelar masyarakat Desa Pokak, Kecamatan Ceper, Klaten, Jawa Tengah, memiliki cerita asal-usul yang diwariskan secara turun-temurun.
Tradisi tersebut dipercaya bermula dari pengalaman seorang petani yang mendengar pesan untuk bersyukur setelah mendapatkan hasil panen.
Cerita yang berkembang di masyarakat menyebutkan, peristiwa itu terjadi ketika seorang petani sedang menggarap sawah di dekat Sendang Tirto Sinongko pada musim kemarau.
Di tengah pekerjaannya, petani tersebut merasa kelelahan dan kepanasan. Ia kemudian memilih beristirahat di bawah sebuah pohon.
Saat dalam kondisi setengah tertidur, petani itu disebut mendengar suara yang memintanya menggelar syukuran setelah panen.
Baca juga: Berkah Air Sendang Tirto Sinongko, Warga Pokak Klaten Gelar Syukuran dan Makan Gulai Kambing
Dalam pesan tersebut, ia diminta menyiapkan sejumlah perlengkapan untuk syukuran. Di antaranya nasi tumpeng, kambing yang disembelih kemudian dimasak dengan bumbu pecek, serta minuman dawet.
Petani tersebut kemudian melaksanakan syukuran setelah masa panen. Pelaksanaannya dilakukan pada Jumat Wage.
Setelah syukuran dilakukan, tanaman yang ditanam petani tersebut dipercaya tumbuh subur. Hasil panennya pun disebut berhasil dengan baik.
Kisah tersebut kemudian menjadi bagian dari cerita yang dipercaya masyarakat dan menjadi awal dilestarikannya tradisi syukuran Sendang Tirto Sinongko.
Tradisi tersebut hingga kini masih dilaksanakan warga Desa Pokak. Kegiatan tahun ini digelar dalam rangkaian acara pada Rabu (2/9/2026) dan Jumat (4/9/2026).
Rangkaian kegiatan meliputi pembersihan sendang, kirab budaya, puncak tasyakuran dan pentas seni ketoprak.
Pada puncak tasyakuran, warga menyembelih 23 kambing yang kemudian dimasak menjadi gulai untuk disantap bersama.
Salah satu tokoh masyarakat Rukun Kampung Dukuh Tegalduwur, Rusmiyadi, mengatakan tradisi tersebut merupakan wujud rasa syukur warga atas berkah air dari sumber Tirto Sinongko.
"Ini istilahnya syukuran, syukuran yang intinya ya pertama yaitu dulu kan dapat air dari Waduk atau sumber (Tirto Sinongko) ini. kan hasil nya melimpah, diwujudkan seperti ini (syukuran)," ujarnya.
Tradisi ini digelar satu tahun sekali, biasanya pada Agustus-September yang bertepatan dengan Jumat Wage.
Baca juga: Mengenal Tradisi Mitoni, Syukuran Kehamilan yang Masih Eksis di Solo, Sudah Ada Sejak Zaman Jayabaya
Bagi masyarakat, pelaksanaan syukuran juga menjadi harapan agar keberkahan dan rezeki yang diterima warga terus bertambah.
"Intinya kita alhamdulillah bisa dapat hasil yang melimpah, kita harus bersyukur agar di masa depan bisa bertambah," paparnya.
"Total ada 23 kambing. Itu dimasak gulai, dimakan bareng-bareng sama warga," jelasnya.
Hingga kini, tradisi tersebut terus dijaga masyarakat Desa Pokak sebagai bentuk rasa syukur atas berkah air Sendang Tirto Sinongko sekaligus penghormatan terhadap warisan budaya yang telah berlangsung dari generasi ke generasi.