Laporan Wartawan TribunSolo.com, Zharfan Muhana
TRIBUNSOLO.COM, KLATEN - Berkah air Sendang Tirto Sinongko kembali disyukuri warga Desa Pokak, Kecamatan Ceper, Klaten, Jawa Tengah.
Tradisi tahunan tersebut digelar pada Jumat (4/9/2026) dengan puncak acara berupa tasyakuran dan makan gulai kambing bersama.
Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun itu menjadi bentuk rasa syukur masyarakat atas keberadaan sumber air yang selama ini memberikan manfaat bagi kehidupan warga.
Rangkaian tradisi telah dimulai sejak Rabu (2/9/2026). Sejumlah kegiatan digelar, mulai dari membersihkan sendang, kirab budaya, puncak tasyakuran hingga ditutup dengan pentas seni ketoprak.
Baca juga: Mengenal Tradisi Mitoni, Syukuran Kehamilan yang Masih Eksis di Solo, Sudah Ada Sejak Zaman Jayabaya
Pada puncak tasyakuran, warga bersama-sama memasak puluhan kambing untuk kemudian disantap secara bersama-sama.
Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo bersama jajaran dan Forkopincam turut menghadiri kegiatan tersebut.
Salah satu tokoh masyarakat Rukun Kampung Dukuh Tegalduwur, Rusmiyadi, mengatakan tradisi tersebut telah berlangsung sejak dahulu dan terus dijaga masyarakat.
"Ini istilahnya syukuran, syukuran yang intinya ya pertama yaitu dulu kan dapat air dari Waduk atau sumber (Tirto Sinongko) ini. kan hasil nya melimpah, diwujudkan seperti ini (syukuran)," ujarnya.
Tradisi syukuran tahun ini juga ditandai dengan penyembelihan puluhan kambing. Daging kambing tersebut kemudian diolah menjadi gulai dan disantap bersama warga.
"Total ada 23 kambing. Itu dimasak gulai, dimakan bareng-bareng sama warga," jelasnya.
Tradisi Sendang Tirto Sinongko digelar satu tahun sekali. Waktunya biasanya berlangsung antara Agustus hingga September dan ditetapkan pada Jumat Wage.
Baca juga: Siapa Dalang Tengkleng? Sosok yang Pimpin Ruwatan PB XIV Hangabehi di Solo Sebelum Naik Tahta
Bagi warga, kegiatan tersebut bukan sekadar agenda tahunan. Syukuran menjadi ungkapan terima kasih atas rezeki dan hasil yang diperoleh selama setahun.
"Intinya kita alhamdulillah bisa dapat hasil yang melimpah, kita harus bersyukur agar di masa depan bisa bertambah," paparnya.
Tradisi ini juga memiliki cerita asal-usul yang berkembang di tengah masyarakat. Konon, bermula dari kisah seorang petani yang sedang menggarap sawah di sekitar sendang ketika musim kemarau.
Petani tersebut kemudian beristirahat di bawah pohon karena kelelahan dan kepanasan. Dalam kondisi setengah tertidur, ia disebut mendengar suara yang memintanya menggelar syukuran setelah panen.
Ia kemudian diminta menyiapkan sesaji berupa nasi tumpeng, menyembelih kambing yang dimasak dengan bumbu pecek serta menyediakan minuman dawet.
Petani itu lantas melaksanakan syukuran setelah panen pada Jumat Wage. Setelah tradisi tersebut dilakukan, tanaman disebut tumbuh subur dan hasil panen berhasil dengan baik.
Cerita tersebut kemudian diwariskan dari generasi ke generasi hingga tradisi syukuran Sendang Tirto Sinongko tetap dilaksanakan masyarakat Desa Pokak sampai sekarang.