Festival Literasi Sumsel, Bunda Literasi OKU Timur Dorong Pojok Baca Desa Naik Kelas
Moch Krisna September 05, 2026 07:32 PM

TRIBUNSUMSEL.COM, MARTAPURA - Di tengah derasnya arus informasi digital yang semakin membentuk kebiasaan masyarakat, upaya menumbuhkan budaya membaca tidak lagi cukup dilakukan hanya di sekolah dan perpustakaan. Gerakan literasi harus menjangkau lingkungan terdekat masyarakat, mulai dari keluarga hingga desa.

Semangat itulah yang disuarakan Bunda Literasi Kabupaten OKU Timur, dr. Sheila Noberta, Sp.A., M.Kes, saat menghadiri Festival Literasi Sumatera Selatan Tahun 2026 di The Sultan Convention Center Palembang, Sabtu (5/9/2026).

Pada kesempatan tersebut, dr. Sheila kembali menegaskan komitmennya dalam memperluas gerakan literasi di Kabupaten OKU Timur. Salah satu langkah yang terus didorong adalah pengembangan Pojok Baca Desa agar dapat berkembang menjadi Perpustakaan Desa yang lebih representatif dan mampu memberikan akses bacaan yang lebih luas kepada masyarakat.

Festival Literasi Sumatera Selatan tahun ini mengusung tema “Literasi Mengakar, Peradaban Sumsel Bersinar” dan dibuka secara resmi oleh Gubernur Sumatera Selatan, Dr. H. Herman Deru, didampingi Bunda Literasi Provinsi Sumatera Selatan, Hj. Febrita Lustia Herman Deru.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Gubernur Sumatera Selatan H. Cik Ujang, Anggota DPD RI sekaligus Duta Literasi Sumsel dr. Ratu Tenny Leriva HD, perwakilan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Ketua KORMI Sumsel Samantha Tivanny HD, anggota DPRD Provinsi Sumatera Selatan, para kepala daerah, serta Bunda Literasi dan Bapak Literasi dari 17 kabupaten dan kota di Sumatera Selatan.

Bagi dr. Sheila, festival tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan momentum untuk kembali mengingatkan masyarakat bahwa membaca tetap memiliki peran penting dalam meningkatkan pengetahuan dan memperluas wawasan.

Menurutnya, perkembangan teknologi dan derasnya informasi digital harus diimbangi dengan kemampuan masyarakat untuk memahami serta menyaring setiap informasi yang diterima.

“Sebagai Bunda Literasi, menumbuhkan minat baca menjadi suatu gerakan yang harus terus diperluas hingga ke elemen terkecil, yaitu keluarga. Kebiasaan membaca tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah atau perpustakaan, tetapi harus tumbuh dari lingkungan keluarga dan kemudian berkembang di tengah masyarakat,” ujar dr. Sheila.

Ia mengatakan, keberadaan Pojok Baca di desa-desa dapat menjadi pintu awal untuk mendekatkan masyarakat dengan buku. Namun, gerakan tersebut perlu terus dikembangkan agar memiliki koleksi, fasilitas, dan pengelolaan yang lebih baik.

Karena itu, melalui inovasi Gerbang Literasi Desa, Pemerintah Kabupaten OKU Timur terus mendorong pengembangan Pojok Baca menjadi Perpustakaan Desa.

“Kita terus menggaungkan pengembangan Pojok Baca Desa menjadi Perpustakaan Desa. Harapannya, akses masyarakat terhadap bahan bacaan semakin terbuka dan budaya membaca dapat tumbuh lebih kuat di lingkungan desa,” ungkapnya.

Menurut dr. Sheila, keberhasilan gerakan tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah, sekolah, keluarga, penggiat literasi, serta masyarakat perlu bergerak bersama agar kebiasaan membaca dapat kembali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

“Tentu ini tidak bisa dilakukan hanya oleh satu pihak. Dibutuhkan kolaborasi semua pihak agar kebiasaan membaca terus dilestarikan. Dengan literasi yang baik, masyarakat juga diharapkan mampu menyaring informasi yang datang dari luar dan mendapatkan pengetahuan yang benar-benar berkualitas,” katanya.


Tantangan Literasi di Era Digital

Dalam arahannya, Gubernur Sumatera Selatan Dr. H. Herman Deru memberikan apresiasi kepada seluruh insan literasi yang selama ini berperan dalam mengembangkan budaya membaca di Sumatera Selatan.

Mulai dari Duta Literasi, Bunda dan Bapak Literasi, penerbit, hingga pihak swasta dinilai memiliki peran penting dalam membangun ekosistem literasi di daerah.

Gubernur menekankan bahwa literasi merupakan fondasi bagi masyarakat untuk berpikir kritis, memahami informasi secara tepat, dan meningkatkan kualitas hidup.

“Terima kasih kepada semua insan literasi di Provinsi Sumatera Selatan dan 17 kabupaten kota atas kontribusi dan peran aktif dalam dunia literasi,” ungkap Herman Deru.

Ia menyebut berbagai capaian di bidang literasi menjadi hasil dari kerja bersama seluruh pihak yang selama ini konsisten mendorong budaya membaca di Sumatera Selatan.

Sementara itu, Duta Literasi Provinsi Sumatera Selatan, dr. Ratu Tenny Leriva HD, menyoroti tantangan literasi yang semakin kompleks di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Menurutnya, tantangan literasi saat ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca teks, tetapi juga kemampuan masyarakat dalam mengelola dan menyaring derasnya informasi yang diterima.

Budaya instan yang semakin berkembang, kata dia, menjadi salah satu tantangan karena dapat membuat masyarakat enggan membaca materi yang membutuhkan waktu dan pemahaman lebih mendalam.

“Kita terus berupaya mencari solusi dalam menghadapi tantangan literasi di era sekarang ini. Sosialisasi gemar membaca harus terus dilakukan, termasuk memberikan pemahaman kepada anak-anak agar mampu menyaring informasi yang mereka terima,” ujar dr. Ratu Tenny.

Ia juga mendorong sekolah dan keluarga untuk membiasakan kegiatan membaca secara teratur serta menyediakan bahan bacaan yang sesuai dengan minat pembaca dan ruang membaca yang nyaman.


OKU Timur Hadirkan Berbagai Inovasi Literasi

Untuk memperkuat budaya membaca di daerah, Bunda Literasi Kabupaten OKU Timur telah meluncurkan sejumlah inovasi dan program literasi.

Program tersebut antara lain SEHATI SEPUSTAKA (Sekolah Hebat Untuk Literasi, Satu Sekolah Satu Perpustakaan), GERBANG LITERASI DESA (Gerakan Pengembangan Pojok Baca Menjadi Perpustakaan Desa), GERISA (Gerakan Literasi Untuk Semua), PELITA KELUARGA (Penguatan Literasi Keluarga), serta program Literasi Untuk Semua.

Berbagai inovasi tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem literasi yang menjangkau berbagai kelompok masyarakat, mulai dari lingkungan pendidikan, keluarga, hingga desa.

Komitmen tersebut juga mendapat dorongan positif melalui prestasi Perpustakaan Desa Sidomakmur, Kecamatan Belitang, yang berhasil meraih peringkat terbaik kelima atau Juara Harapan II dalam Lomba Perpustakaan Desa/Kelurahan tingkat Sumatera Selatan.

Prestasi itu menjadi salah satu gambaran bahwa pengembangan literasi di tingkat desa memiliki potensi besar apabila didukung oleh pengelolaan dan partisipasi masyarakat yang berkelanjutan.

Festival Literasi Sumatera Selatan 2026 sendiri diisi dengan berbagai kegiatan, mulai dari pameran stand literasi Dinas Perpustakaan Sumatera Selatan dan 17 kabupaten/kota, pameran buku dari berbagai penerbit, hingga pameran naskah kuno dan buku langka asal Sumatera Selatan.

Selain itu, pengunjung juga dapat melihat koleksi filateli yang turut menjadi bagian dari kekayaan pengetahuan dan sejarah.

Dalam kegiatan tersebut, dr. Sheila didampingi Asisten II Setda OKU Timur H. Rayenaidi, S.H., M.M., Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan OKU Timur Dr. Sopiyanhadi, S.Pd., M.M., Kepala DPPPA OKU Timur Inoferwenti Intan, S.E., M.M., Plt. Kepala Dinkop UKM Hairil Ramli, S.E., M.M., Kabid PAUD PNF Disdikbud Desty Tirtayana Elha, S.E., M.M., serta Kabid Perdagangan Disperindag Dewi Rahmayanti, M.M.

Melalui Festival Literasi Sumsel 2026, gerakan membaca kembali mendapat perhatian. Bagi OKU Timur,tantangan selanjutnya adalah memastikan gerakan tersebut tidak berhenti pada kegiatan dan seremoni, tetapi benar-benar tumbuh dari rumah, berkembang di sekolah, dan mengakar hingga ke desa-desa.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.