TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Gunung Anak Krakatau (GAK) di Lampung Selatan kembali mengalami erupsi pada Sabtu (5/9/2026) pukul 00.01 WIB.
Kepala Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, Suwarno mengatakan, secara visual, letusan tidak teramati.
"Terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau pada hari Sabtu (5/9/2026) pukul 00.01 WIB. Visual letusan tidak teramati. Saat laporan ini dibuat, erupsi masih berlangsung," kata Suwarno dikutip dari Tribun Lampung, Sabtu (5/9/2026).
Suwarno menambahkan, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau kembali meningkat dengan sedikitnya 10 kali erupsi yang tercatat sejak Jumat (4/9/2026) dini hari hingga Sabtu (5/9/2026) dini hari.
Ia juga membenarkan informasi, Gunung Anak Krakatau mengeluarkan lava api. Meski demikian, belum ada peningkatan aktivitas secara signifikan dibanding hari-hari sebelumnya.
"Kolom abu teramati berwarna hitam dengan intensitas tebal ke arah barat dan barat laut," ujar Suwarno.
Erupsi itu terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 70 milimeter dan durasi 27 detik.
Selanjutnya, erupsi pada pukul 04.11 WIB terekam dengan amplitudo maksimum 33 milimeter dan berlangsung selama 14 detik.
Erupsi berikutnya pada pukul 04.19 WIB tercatat memiliki amplitudo maksimum 60 milimeter dengan durasi 24 detik.
Sementara itu, erupsi pada pukul 04.28 WIB terekam dengan amplitudo maksimum 70 milimeter dan berlangsung selama 31 detik.
Rangkaian tersebut menunjukkan Gunung Anak Krakatau masih mengalami erupsi berulang dalam kurun waktu kurang dari 24 jam.
Saat ini, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga.
Diketahui, Gunung Anak Krakatau merupakan gunungapi aktif tipe A di perairan Selat Sunda. Secara administrasi, gunung termasuk ke dalam pada wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.
Meski demikian, pengamatan Gunungapi Anak Krakatau dilakukan melalui 2 pos pengamatan gunungapi, yaitu Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, dan Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang, Provinsi Banten.
Meski aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) masih berlangsung, warga Lampung Selatan yang tinggal di Pulau Sebesi masih menjalankan aktivitas sehari-hari seperti biasa.
Pulau Sebesi merupakan salah satu permukiman penduduk yang berada paling dekat dengan Gunung Anak Krakatau, dengan jarak sekitar 15 hingga 20 kilometer.
Kepala Desa Tejang Pulau Sebesi, Syamsiar mengatakan, warga tidak merasakan getaran maupun guncangan akibat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
“Alhamdulillah aman, masyarakat masih beraktivitas seperti biasa,” kata Syamsiar, Sabtu (5/9/2026) siang.
Menurutnya, suara erupsi Gunung Anak Krakatau masih terdengar hingga Pulau Sebesi. Namun, suara tersebut tidak disertai getaran yang dirasakan warga maupun guncangan pada rumah.
“Kalau di Sebesi cuma suara saja, Pak. Tidak sampai bergetar rumah masyarakat,” ujarnya.
Secara administratif, Pulau Sebesi merupakan wilayah Desa Tejang Pulau Sebesi, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan.
Pulau Sebesi diketahui menjadi satu-satunya pulau di sekitar kawasan Gunung Krakatau yang berpenghuni. Pulau tersebut juga memiliki keterkaitan sejarah dengan dahsyatnya letusan Gunung Krakatau pada 1883.
Kondisi warga yang masih beraktivitas normal menjadi perhatian di tengah aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang masih berlangsung. Meskipun tidak merasakan getaran, warga tetap diminta meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti informasi resmi dari petugas.
Masyarakat, nelayan, dan wisatawan juga diminta tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau sesuai radius yang telah direkomendasikan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Kewaspadaan juga perlu diperhatikan dalam aktivitas pelayaran, mengingat perairan di sekitar Pulau Sebesi berada di kawasan Selat Sunda yang menjadi jalur aktivitas masyarakat dan nelayan.
Syamsiar menegaskan, hingga Sabtu siang, kondisi masyarakat Pulau Sebesi masih aman dan aktivitas warga berjalan seperti biasa.
Meski demikian, masyarakat tetap diimbau mengutamakan keselamatan serta mematuhi seluruh rekomendasi petugas terkait perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.