TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kepengurusan baru PB Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) diharapkan tidak sekadar melanjutkan rutinitas organisasi.
Periode 2026–2030 harus menjadi momentum lompatan besar agar pencak silat Indonesia semakin profesional, berprestasi, dan mampu menembus Olimpiade.
Baca juga: 40 Pantun Palang Pintu Betawi untuk Pernikahan, Lengkap dengan Adu Silat hingga Uji Mengaji
Harapan itu disampaikan Wakil Ketua Umum PB IPSI Muchamad Nabil Haroen setelah dilantik di Padepokan Pencak Silat Indonesia, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Sabtu (5/9/2026).
“Kita tidak boleh puas dengan apa yang telah dicapai. Periode 2026–2030 harus menjadi periode konsolidasi sekaligus akselerasi,” kata tokoh yang akrab disapa Gus Nabil tersebut.
Baca juga: Pencak Silat Diminati di Timor Leste, Indonesia Siap Dukung Pembinaan Cabor
Konsolidasi, menurut dia, berarti menyatukan seluruh perguruan dan unsur pencak silat dalam satu arah perjuangan. Sementara akselerasi dibutuhkan untuk mempercepat pembinaan atlet, meningkatkan kualitas kompetisi, memperkuat profesionalisme, dan memperluas pengakuan internasional.
Dalam acara pelantikan, Gus Nabil tampil dengan gaya khasnya mengenakan blangkon dan sarung batik. Penampilannya mencerminkan akar tradisi Nusantara yang menyatu dengan pencak silat Indonesia.
Gus Nabil menegaskan seluruh jajaran pengurus akan bekerja dalam satu visi di bawah kepemimpinan Ketua Umum PB IPSI Sugiono. Setiap pengurus diharapkan memberikan kontribusi sesuai bidang dan tanggung jawabnya.
“Seluruh pengurus berada dalam satu barisan untuk menerjemahkan dan menyukseskan visi Ketua Umum PB IPSI. Amanah yang diberikan kepada masing-masing pengurus harus menjadi kekuatan kolektif untuk membawa pencak silat Indonesia semakin maju,” ujarnya.
Dukungan Tiga Juta Kader
Gus Nabil tidak datang sendiri. Sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Pagar Nusa, dia menyatakan siap menggerakkan potensi sekitar tiga juta kader yang tersebar di seluruh Indonesia untuk mendukung agenda PB IPSI.
Dukungan itu akan diarahkan pada pembinaan atlet, peningkatan kualitas pelatih, penguatan organisasi, pendidikan karakter generasi muda, dan pengembangan pencak silat di tengah masyarakat.
“Pagar Nusa dengan sekitar tiga juta kader siap mengambil bagian dan bergotong royong menyukseskan agenda PB IPSI,” kata Gus Nabil.
Ia menegaskan, kekuatan tersebut tidak digunakan untuk mengedepankan kepentingan Pagar Nusa. Seluruh potensi organisasi akan ditempatkan sebagai bagian dari kerja bersama keluarga besar pencak silat.
“Ini bukan agenda satu perguruan, melainkan ikhtiar bersama seluruh keluarga besar pencak silat untuk membawa Indonesia semakin berprestasi dan disegani dunia,” tegasnya.
Menurut Gus Nabil, kebesaran IPSI terletak pada kemampuannya menyatukan banyak perguruan dengan sejarah, tradisi, dan karakter masing-masing.
Perbedaan tersebut merupakan kekayaan. Namun, ketika tampil membawa nama bangsa, seluruh perguruan harus berdiri sebagai satu kekuatan Indonesia.
“Kita boleh berasal dari perguruan yang berbeda, memakai warna yang berbeda, dan tumbuh dari tradisi yang berbeda. Tetapi ketika Merah Putih dikibarkan, kita adalah satu: pencak silat Indonesia,” tuturnya.
Baca juga: Indonesia-Brunei Kolaborasi Pencak Silat, Bahas Pelatihan dan Tuan Rumah Event di SEAMMYS 2026
Pembinaan Tak Bisa Lagi Konvensional
Untuk mengejar prestasi dunia, Gus Nabil menilai pembinaan atlet tidak bisa lagi hanya mengandalkan pola konvensional.
Ilmu pengetahuan dan teknologi harus diterapkan dalam identifikasi bakat, penyusunan program latihan, pemantauan kondisi fisik, pencegahan cedera, hingga evaluasi performa atlet.
Kompetisi juga harus diselenggarakan secara berkualitas dan berkelanjutan agar atlet memiliki cukup jam terbang. Sistem pemeringkatan dibutuhkan untuk membuat proses seleksi dan pembinaan lebih terbuka, objektif, serta terukur.
Di sisi lain, standardisasi dan sertifikasi profesi perlu diperkuat untuk meningkatkan kompetensi pelatih maupun wasit-juri.
“Kita tidak boleh puas dengan apa yang telah dicapai. Pembinaan atlet harus semakin berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Kompetisi harus semakin berkualitas. Profesionalisme pelatih dan wasit-juri harus diperkuat,” kata Gus Nabil.
Ia juga mendukung agenda pengembangan industri pencak silat. Langkah tersebut penting untuk membuka ruang kompetisi profesional sekaligus memberikan prospek ekonomi yang lebih baik bagi atlet, pelatih, perguruan, dan pelaku usaha terkait.
“Industri pencak silat harus mulai dibangun dengan serius,” ujarnya.
Prestasi Tanpa Kehilangan Jati Diri
Modernisasi, lanjut Gus Nabil, tidak boleh membuat pencak silat tercerabut dari nilai-nilai dasarnya. Pencak silat harus tetap menjadi sarana pembentukan manusia yang berani, disiplin, dan berakhlak.
“Kita mewarisi pencak silat dari para leluhur bukan hanya sebagai teknik bela diri, tetapi sebagai jalan pembentukan manusia,” ucapnya.
Di dalam pencak silat, kata dia, terdapat keberanian tanpa kesombongan, kekuatan yang dikendalikan oleh akhlak, serta persaudaraan yang melampaui perbedaan perguruan dan daerah.
Karena itu, tanggung jawab PB IPSI tidak berhenti pada penyelenggaraan pertandingan dan pencapaian medali. Pencak silat harus hadir dalam pendidikan karakter generasi muda sekaligus menjadi kekuatan kebudayaan dan diplomasi bangsa.
Baca juga: Mundur dari PB IPSI, Prabowo Berharap Penggantinya Bisa Wujudkan Pencak Silat Tampil di Olimpiade
Target Menembus Olimpiade
Ketua Umum PB IPSI Sugiono menegaskan target utama kepengurusannya adalah memperjuangkan pencak silat menembus Olimpiade dan menjadikannya bagian dari pendidikan formal.
“Pencak silat bukan sekadar warisan budaya, melainkan identitas dan instrumen diplomasi bangsa,” ujar Sugiono.
Gus Nabil menyatakan siap bekerja bersama seluruh pengurus untuk menyukseskan target tersebut. Namun, dia menyadari perjuangan menuju Olimpiade tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat.
“Ini bukan pekerjaan satu ketua umum, satu kepengurusan, atau satu periode. Ini adalah kerja panjang seluruh insan pencak silat Indonesia,” katanya.
Ia juga menegaskan jabatan sebagai Wakil Ketua Umum PB IPSI hanyalah sarana untuk bekerja dan mengabdi.
“Yang jauh lebih penting adalah apa yang dapat kita wariskan setelah masa pengabdian ini selesai,” ujar Gus Nabil.
Pelantikan dan pengukuhan Pengurus Besar IPSI Masa Bakti 2026–2030 dilakukan Ketua Umum KONI Pusat Letjen TNI (Purn) Marciano Norman.
Acara tersebut dihadiri Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir, serta perwakilan Komite Olimpiade Indonesia.
Hadir pula pimpinan dan tokoh senior perguruan historis IPSI, ketua umum perguruan besar pencak silat, serta jajaran pengurus provinsi IPSI dari 38 provinsi.