Oleh : Martha Bunga Yellana Putri Harving
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Dosen Pengampu : Luluk Ulfa Hasanah
TRIBUNFLORES.COM,MAUMERE-Gempa bumi tidak hanya mengguncang tanah, tetapi juga mengguncang rasa aman masyarakat. Di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, gempa bumi pada 15 Agustus 2026 masih diikuti gempa susulan.
Ketika masyarakat belum sepenuhnya pulih dari kerusakan dan masih menghadapi ketidakpastian, persoalan kesehatan mulai menjadi ancaman yang tidak kalah serius. Salah satunya adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Data Puskesmas Tuanggeo mencatat 641 kasus ISPA setelah gempa. Angka ini harus menjadi alarm, bukan sekadar angka dalam laporan.
Puskesmas Tuanggeo merupakan fasilitas kesehatan tingkat pertama yang berada di Desa Ladolaka, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka.
Baca juga: Kisah Pilu Janda Korban Gempa di Palue Sikka, Rumah Hancur Kini Berteduh di Tenda Darurat
Namun, fasilitas kesehatan tersebut ikut mengalami kerusakan, bersama dua pustu lainnya. Dalam kondisi pelayanan kesehatan yang terbatas, terdapat 4.853 orang yang mengungsi secara mandiri dan 49 tenaga medis yang harus memberikan pelayanan kepada masyarakat terdampak.
Kerusakan juga terjadi pada rumah warga. Sebanyak 290 rumah rusak di Desa Nitunglea, 158 rumah di Desa Roki Role, 100 rumah di Desa Tuanggeo, dan 135 rumah di Desa Ladolaka.
Di sisi lain, kondisi pengungsian yang padat dan keterbatasan fasilitas sanitasi dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit saluran pernapasan.
Di sinilah ISPA harus dipandang sebagai persoalan kesehatan pascabencana, bukan sekadar penyakit biasa. Ketika gempa susulan masih terjadi, masyarakat dapat terus berpindah tempat, berkumpul di lokasi pengungsian, atau berada di lingkungan yang penuh debu dan belum tertata.
Situasi tersebut dapat memperbesar tantangan dalam mencegah dan menangani penyakit.
Karena itu, respons kesehatan harus berjalan melalui empat pendekatan: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
Upaya promotif dilakukan dengan memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai ISPA, etika batuk dan bersin, kebersihan tangan, serta pentingnya menjaga kebersihan dan ventilasi tempat pengungsian.
Informasi harus disampaikan secara sederhana dan berulang karena masyarakat berada dalam kondisi darurat.
Upaya preventif harus diarahkan pada pengurangan faktor risiko. Pembersihan puing bangunan perlu dilakukan dengan perlindungan yang sesuai untuk mengurangi paparan debu.
Tempat pengungsian harus memiliki ventilasi yang baik, kebersihan yang terjaga, serta akses air bersih dan sanitasi. Pemantauan kasus ISPA juga penting untuk mendeteksi peningkatan kasus sejak dini.
Jika masyarakat sudah mengalami gejala, pelayanan kuratif harus tersedia dan mudah dijangkau. Pemeriksaan dan pengobatan oleh tenaga kesehatan perlu dilakukan sesuai kondisi pasien.
Kerusakan fasilitas kesehatan tidak boleh menyebabkan masyarakat kehilangan akses terhadap pelayanan dasar. Dalam keadaan bencana, pelayanan kesehatan justru harus semakin aktif mendatangi masyarakat.
Sementara itu, pendekatan rehabilitatif harus memastikan pemulihan berlangsung dalam jangka panjang. Fasilitas kesehatan yang rusak perlu segera dipulihkan, akses pelayanan kesehatan harus dijaga, dan masyarakat yang mengalami trauma maupun kecemasan perlu mendapatkan perhatian.
Data Puskesmas Tuanggeo menunjukkan adanya kunjungan terkait trauma dan kecemasan, termasuk 121 kunjungan rumah dan dua kunjungan posko.
Gempa susulan mengingatkan kita bahwa kondisi Palue masih belum sepenuhnya aman. Oleh karena itu, penanganan bencana tidak boleh berhenti pada penyelamatan korban dan pembangunan kembali bangunan. Kesehatan masyarakat harus menjadi prioritas selama masa tanggap darurat hingga pemulihan.
Sebanyak 641 kasus ISPA seharusnya cukup menjadi peringatan bahwa setelah bencana fisik datang, ancaman kesehatan dapat mengikuti.
Masyarakat Palue tidak hanya membutuhkan tempat yang aman untuk berlindung, tetapi juga lingkungan yang sehat dan pelayanan kesehatan yang tetap hadir.
Gempa mungkin belum berhenti mengguncang Palue. Namun, jangan sampai kelalaian dalam menjaga kesehatan menjadi guncangan kedua bagi masyarakat yang sudah terdampak.