Gubernur Wayan Koster Dorong Bali Jadi Laboratorium Lingkungan Binaan Berbasis Teknologi dan Budaya
Ida Ayu Suryantini Putri September 06, 2026 07:03 AM

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Gubernur Bali Wayan Koster secara resmi membuka Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (TI IPLBI) ke-14 yang digelar di Aula Gedung Pascasarjana Universitas Udayana, Denpasar, Jumat 4 September 2026.

Dalam kesempatan tersebut, Koster mendorong agar Bali berkembang menjadi laboratorium pengembangan lingkungan binaan masa depan yang mempertemukan kemajuan teknologi dengan kebudayaan lokal dan keberlanjutan.

Pada kegiatan bertema “Kecerdasan Budaya untuk Lingkungan Binaan Berkelanjutan: Kecerdasan Buatan, Konteks Lokal, dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan” tersebut, Gubernur Koster hadir sebagai pembicara utama (keynote speaker).

Baca juga: Kemarau Diprediksi Akan Lebih Panjang, Akhir November 2026 Bali Baru Masuk Awal Musim Hujan

Dalam paparannya, Koster menegaskan bahwa pesatnya perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak boleh mengikis identitas dan tradisi masyarakat lokal. Menurutnya, pemanfaatan teknologi harus tetap menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan alam.

“Kecerdasan buatan tidak boleh menggantikan kecerdasan budaya. Justru kecerdasan buatan harus ditempatkan sebagai instrumen untuk memperkuat kecerdasan manusia dan kecerdasan budaya,” tegas Koster.

Ia menjelaskan bahwa prinsip tersebut sangat krusial dalam merancang lingkungan binaan di Bali, terutama di tengah ancaman perubahan iklim, potensi bencana, serta berbagai tantangan pembangunan masa depan.

Baca juga: Turun, Harga Emas Batangan Hari Ini 5 September 2026, Emas 1 Gram di Galeri24 Bali Rp2.587.000

Pembangunan daerah harus tetap berpijak pada karakter lokal sebagaimana tertuang dalam Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun (2025–2125) untuk menjaga Alam Bali, Manusia Bali, dan Kebudayaan Bali secara berkelanjutan.

Selain itu, nilai-nilai Sad Kerthi juga harus dijadikan landasan etis dan ekologis agar pembangunan tidak hanya berorientasi pada kemajuan fisik semata, melainkan juga menjaga keseimbangan ekosistem dan kebudayaan.

Gubernur Koster secara khusus meminta para akademisi dan peneliti untuk terus menggali kekayaan pengetahuan lokal Bali, seperti Arsitektur Tradisional Bali dan sistem Subak, melalui riset dan pemanfaatan teknologi modern.

“Modernisasi berbasis kebudayaan bukan kembali ke masa lalu, tetapi membawa nilai-nilai terbaik masa lalu untuk menjawab tantangan masa depan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Koster mengimbau agar riset mengenai lingkungan binaan tidak berhenti pada level publikasi ilmiah semata, melainkan diwujudkan dalam bentuk solusi konkret seperti prototipe, desain, standar kebijakan, hingga model pembangunan yang tangguh, adaptif, rendah karbon, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, peneliti, dunia usaha, desa adat, dan masyarakat dalam membangun ekosistem inovasi tersebut.

“Bali 100 Tahun bukan hanya proyek pembangunan. Bali 100 Tahun adalah proyek peradaban,” pungkas Koster.

Sementara itu, Ketua Panitia TI IPLBI ke-14, Prof. Ni Ketut Agusintadewi, menyampaikan bahwa forum tahunan ini menjadi wadah untuk mempertemukan gagasan, hasil penelitian, dan praktik terbaik guna menyikapi masa depan lingkungan binaan.

Ia berharap kegiatan ini dapat melahirkan penelitian serta praktik lingkungan binaan yang berkualitas, inovatif, dan berkelanjutan tanpa menghilangkan karakter lokal.

Rangkaian TI IPLBI ke-14 sendiri berlangsung selama tiga hari, pada 3–5 September 2026.

Agenda kegiatan diisi dengan seminar nasional, masterclass fenomenologi dan AI, workshop, lomba fotografi, penerbitan buku, hingga field trip arsitektur. 

Acara ini turut dihadiri oleh Ketua IPLBI Periode 2024–2027, Dr. Ir. Susilo Kusdiwanggo, serta ratusan akademisi, peneliti, arsitek, dan praktisi dari berbagai daerah. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.