Mahasiswa PBSA UBBG Perdalam Sejarah Aceh melalui Book Launch The Ocean Remembers
Nur Nihayati September 06, 2026 11:39 AM

Kegiatan yang menghadirkan penulis buku, Nia Deliana dari Universitas Islam Internasional Indonesia, itu menjadi ruang akademik 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Yarmen Dinamika l  Banda Aceh 

SERAMBINEWS.COM - Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh (PBSA) Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG) Banda Aceh mengikuti kegiatan Book Launch and Discussion Indian Ocean Series #1 bertajuk The Ocean Remembers: Indians and the Tides of Empire, Jumat (4/9/2026), di Theatre Room, Lantai 4, BSI Landmark Aceh Green Building, Banda Aceh.

Kegiatan yang menghadirkan penulis buku, Nia Deliana dari Universitas Islam Internasional Indonesia, itu menjadi ruang akademik yang menarik bagi mahasiswa untuk melihat sejarah Aceh dari perspektif yang lebih luas, khususnya terkait hubungan Aceh dengan komunitas India serta jaringan maritim Samudra Hindia.

Selain penulis, kegiatan tersebut menghadirkan Sumit Mandal dari Australian National University (ANU) dan SP Gabriel dari Sunway University sebagai pemateri.

Baca juga: UBBG Bekali dan Lepas Ratusan Mahasiswa Asistensi Mengajar Tahun 2026 ke Sekolah-Sekolah

Diskusi dipandu oleh Mirza Ardi dari International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS).

Kehadiran mahasiswa PBSA UBBG dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkaya pengalaman belajar mahasiswa melalui kegiatan akademik di luar ruang perkuliahan.

"Mahasiswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan dari buku dan materi perkuliahan, tetapi juga berkesempatan menyimak langsung diskusi para akademisi dan peneliti mengenai sejarah Aceh dalam konteks hubungan lintas kawasan," terang Regina Rahmi MPd, Ketua Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Aceh FKIP UBBG kepada Serambinews.com di Banda Aceh, Minggu (6/9/2026) pagi.

Baca juga: Upacara HUT Ke-81 RI di UBBG Berlangsung Khidmat, Pembina Yayasan Ajak Mahasiswa Bangun Bangsa

Menurutnya, buku The Ocean Remembers: Indians and the Tides of Empire yang dibahas dalam kegiatan itu mengangkat jejak komunitas India dalam sejarah Aceh serta dinamika hubungan masyarakat di kawasan Samudra Hindia. 

Perspektif yang ditawarkan tidak semata-mata melihat laut sebagai batas geografis, tetapi juga sebagai ruang yang mempertemukan manusia, budaya, bahasa, perdagangan, migrasi, hingga berbagai kepentingan politik dan kekuasaan.

Bagi mahasiswa PBSA UBBG, ulas Regina Rahmi, perspektif tersebut memberikan pembelajaran penting bahwa bahasa, sastra, dan budaya Aceh tidak dapat dilepaskan dari perjalanan sejarah masyarakatnya. 

Aceh sejak dahulu merupakan wilayah yang berada pada posisi strategis dalam jalur perdagangan dan pelayaran internasional sehingga interaksi dengan berbagai bangsa dan kebudayaan telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah Aceh.

Terkait hal itu,  Regina Rahmi MPd menyampaikan rasa suka cita dan apresiasi atas keikutsertaan mahasiswa PBSA dalam kegiatan tersebut.

“Kami sangat bersuka cita melihat mahasiswa PBSA dapat hadir dan mengikuti kegiatan akademik seperti ini.

Mereka mendapatkan pembelajaran yang sangat penting, terutama untuk memahami bahwa sejarah Aceh memiliki hubungan yang sangat luas dengan berbagai masyarakat dan kebudayaan di dunia.

 Ini menjadi pengalaman belajar yang tidak selalu bisa diperoleh hanya melalui perkuliahan di dalam kelas,” ujar Regina.

Menurutnya, kegiatan seperti ini sejalan dengan semangat PBSA UBBG yang tidak hanya ingin menghasilkan mahasiswa yang mampu memahami bahasa dan sastra Aceh, tetapi juga generasi muda yang memiliki kesadaran sejarah, budaya, dan identitas keacehan.

Regina menambahkan, mahasiswa PBSA perlu memiliki wawasan yang luas dalam memahami Aceh. Sejarah bahasa, sastra, seni dan budaya Aceh merupakan hasil dari perjalanan panjang masyarakat yang terus berinteraksi dengan berbagai kelompok dan kebudayaan.

“Mahasiswa kita harus belajar melihat Aceh dari berbagai perspektif. Kita ingin mereka menjadi generasi yang mencintai bahasa dan budaya Aceh, tetapi kecintaan itu harus dibangun dengan wawasan yang luas, kritis, dan berbasis pengetahuan.

"Kegiatan seperti ini sangat membantu mahasiswa untuk melihat Aceh dalam konteks yang lebih besar, termasuk dalam hubungan dengan dunia Samudra Hindia," jelasnya.

Dalam diskusi itu, para pembicara menguraikan berbagai aspek mengenai keberadaan dan pergerakan komunitas India di Aceh.

Pembahasan juga memperlihatkan bahwa hubungan antarmasyarakat pada masa lalu tidak hanya terbentuk melalui aktivitas perdagangan, tetapi juga melalui migrasi, interaksi sosial, pertukaran budaya, serta perjalanan gagasan dan pengetahuan.

Perspektif tersebut memberikan pemahaman baru bagi mahasiswa bahwa laut bukan sekadar pemisah antarwilayah dan antarnegara. Sebaliknya, laut merupakan jalur yang menghubungkan berbagai masyarakat.

Posisi Aceh yang berada di kawasan strategis, lanjut Regina, menjadikannya bagian penting dalam jaringan interaksi masyarakat di Samudra Hindia.

Mahasiswa PBSA yang hadir terlihat antusias mengikuti rangkaian kegiatan. Mereka memperoleh kesempatan untuk menyimak pemaparan penulis sekaligus pemateri sekaligus memahami bagaimana sebuah karya akademik mengenai sejarah dapat dibangun melalui penelitian terhadap berbagai sumber dan jejak sejarah.

Bagi mahasiswa calon guru bahasa dan sastra Aceh, pengalaman tersebut juga memiliki nilai penting dalam proses pembentukan perspektif akademik. Pengetahuan tentang sejarah dan budaya dapat menjadi bekal bagi mereka ketika kelak mengajarkan bahasa dan sastra Aceh kepada generasi berikutnya.

Kegiatan ini, kata Regina,sekaligus mempertegas pentingnya pembelajaran yang menghubungkan mahasiswa dengan lingkungan akademik, budaya, dan masyarakat. 

Regina berharap, mahasiswa PBSA UBBG semakin aktif mengikuti berbagai forum ilmiah dan kegiatan kebudayaan yang berkaitan dengan Aceh.

“Saya berharap, mahasiswa tidak berhenti belajar di ruang kelas. Datang ke forum seperti ini, bertemu dengan penulis, peneliti, budayawan, dan akademisi, lalu berdiskusi adalah bagian dari proses menjadi insan akademik.

Dari sana mereka akan memiliki cara pandang yang lebih luas dan semakin memahami betapa berharganya sejarah, bahasa, sastra, dan budaya Aceh,” ungkap Regina.

Ia tambahkan, menjaga bahasa dan budaya Aceh tidak cukup hanya dengan menghafal teori. Generasi muda perlu mengenal sejarah, memahami perjalanan masyarakat, serta melihat bagaimana kebudayaan Aceh berinteraksi dengan dunia.

Keikutsertaan mahasiswa PBSA UBBG dalam Indian Ocean Series #1 akhirnya menjadi pengalaman akademik yang tidak hanya memperkaya pengetahuan tentang sejarah hubungan Aceh dan komunitas India, tetapi juga membuka kesadaran bahwa Aceh merupakan bagian dari sejarah dunia maritim yang memiliki koneksi luas.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diajak untuk kembali melihat Aceh dengan perspektif yang lebih luas—sebagai wilayah yang memiliki sejarah panjang, identitas yang kuat, serta hubungan kebudayaan yang telah terbentuk melalui perjalanan manusia melintasi Samudra Hindia. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.