Pengantar:
Anugerah ini diserahkan pada Sabtu, 29 Agustus 2026, di Gedung AAC Dayan Dawood, Kampus Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Momentum tersebut bukan sekedar seremoni, melainkan pengakuan atas peran nyata seorang pemimpin daerah yang mampu menjembatani kepentingan pusat dan daerah, serta memastikan negara hadir di tengah krisis.
Baca juga: Safrizal ZA, Penggerak Penanganan Bencana Aceh
HASIL kerja taktis Safrizal bersama semua pihak di bawah koordinasi Satgas PRR berbuah manis menjelang beroperasinya transisi fase bencana per 30 Juli 2026. Indikator kelayakan masa tanggap darurat yang mengukur pemulihan fungsi infrastruktur utama dan layanan publik menembus angka di atas 90 persen menjelang akhir Juli.
Seluruh ruas jalan dan jembatan nasional yang sempat terputus telah tersambung penuh, disusul pulihnya fungsi kantor pemerintah serta fasilitas kesehatan. Di sektor pendidikan, sekolah kembali berdenyut melalui kelas darurat.
“Keberhasilan rehabilitasi dan rekonstruksi tidak cukup diukur dari banyaknya proyek yang selesai dikerjakan. Ukuran sesungguhnya adalah ketika masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan secara normal,” kata Safrizal.
Capaian paling krusial terlihat pada penanganan pengungsi yang mencatatkan rekor zero KK di tenda darurat pasca-pembangunan unit Hunian Sementara (Huntara) yang mencapai 99 persen dari target 18.861 unit hingga Juli 2026.
Dalam konferensi pers di Banda Aceh, Jumat (24/7/2026), Safrizal ZA menyampaikan bahwa Pemerintah Pusat mengalokasikan anggaran sebesar Rp58,973 triliun, untuk pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab-rekon) pascabencana di Aceh selama tiga tahun ke depan.
Dana tersebut merupakan bagian dari total anggaran Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana yang telah disetujui pemerintah sebesar Rp100,166 triliun. “Dari Rp100,166 triliun, untuk Aceh alokasinya adalah Rp58,973 triliun. Ini hampir 60 persen dari total alokasi,” kata Safrizal.
Baca juga: Video - Full Pidato Menggelegar Safrizal ZA di Panggung Serambi Awards 2026, Kupas soal Kepemimpinan
Tanpa menunggu jadwal resmi, Satgas memotong waktu dengan mencicil pengerjaan fisik lebih awal. “Kami tidak mau membuang waktu. Sebagian proyek rehab-rekon sudah kami cicil saat tanggap darurat berjalan,” tegas Safrizal. Saat ini pembangunan Hunian Tetap (Huntap) bernilai Rp2 triliun dari Kementerian PKP terus dipacu di lokasi yang telah clear, sembari menuntaskan negosiasi sengketa lahan HGU di Aceh Tamiang.
Sektor layanan dasar turut mengalami lompatan besar. Kelistrikan serta telekomunikasi pasca-perbaikan 3.815 BTS terdampak kini pulih 100 persen, diimbangi normalnya operasional SPBU, SPBE, dan agen LPG.
Menjawab hancurnya SPAM, pasokan air bersih disokong 765 sumur bor fungsional lintas lembaga, ditambah 150 titik jaringan air bersih yang dibangun mandiri oleh Satgas dan ditargetkan bertambah 150 titik lagi hingga November mendatang.
Di sektor ekonomi, sebanyak 114 pasar rakyat (89 persen) telah beroperasi kembali. Penyelamatan UMKM dipercepat lewat restrukturisasi modal bagi 121.984 debitur KUR terdampak, didukung program pelatihan usaha di kawasan Huntara.
Sektor agraris dan perikanan pun bangkit. Pemulihan fisik konstruksi lahan sawah mencetak angka impresif 89,5 persen (28.170 hektare) yang siap kembali memasuki masa tanam dan panen.
Untuk lahan yang tertimbun lumpur ekstrem, Satgas bersama kementerian terkait tengah mengkaji opsi pencetakan sawah baru. Sementara di sektor perikanan, validasi data 14.051 pembudidaya tambak di 12 kabupaten/kota telah rampung guna penyiapan stimulus benih. Kepemimpinan Safrizal turut mengukir terobosan hukum dan lingkungan yang inovatif.
Memanfaatkan Kepmenhut No. 191 Tahun 2026, ribuan ton kayu hanyutan bencana yang semula mengancam ekosistem disulap menjadi ‘Rumah Tumbuh’ panggung ramah banjir di Aceh Tamiang berkolaborasi dengan tim arsitek ITB. Seluruh lompatan ini mempertegas bahwa pemulihan Aceh tak sekadar membangun kembali, melainkan menata ulang ketangguhan masa depan. “Tentu yang ingin kami bangun bukanlah hasil pembangunan, tetapi sebuah sistem yang mampu terus berjalan untuk masyarakat,” pungkas Safrizal.
Kinerja dan ketegasan komando Safrizal telah sukses memandu Aceh melewati masa krisis paling gelap dalam hitungan bulan. Atas gebrakan dan dedikasi luar biasa inilah, Dr. Drs. Safrizal ZA, M.Si, dianugerahi Serambi Awards 2026 oleh Harian Serambi Indonesia, dinobatkan sebagai “Gebrakan Sang Pemimpin: Penggerak Penanganan Bencana Aceh”.(*)