TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda berdampak pada sebaran abu vulkanik yang meluas ke tujuh provinsi di Pulau Jawa dan Sumatera, Minggu (6/9/2026).
BMKG mendeteksi pergerakan abu di atmosfer terbelah ke dalam dua kelompok ketinggian yang berbeda.
Kelompok pertama melayang di batas ketinggian 20.000 kaki dan mengarah ke DKI Jakarta, Banten, serta Jawa Barat.
Sementara kelompok kedua berada jauh di atasnya, yaitu mencapai 50.000 kaki atau sekitar 15 kilometer dari permukaan laut, membentang ke Lampung, Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Sumatera Barat.
Berikut rincian wilayah yang masuk dalam peta sebaran abu vulkanik:
1. Lampung
Mengalami dampak abu vulkanik di permukaan tanah sejak Sabtu malam.
Wilayah terdampak meliputi Kota Bandar Lampung (Rajabasa, Tanjung Karang Pusat, Sukarame, Kemiling), Kabupaten Tanggamus, Kota Metro, Kabupaten Pringsewu, dan Kabupaten Pesisir Barat.
Angin membawa sisa abu dari Lampung Selatan ke Bandar Lampung hingga Minggu pagi.
2. Banten
Terlewati dua klaster sebaran abu vulkanik sekaligus.\
Baca juga: Bandara Soetta Sempat Ditutup Akibat Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau, 33 Penerbangan Terdampak
Klaster ketinggian hingga 50.000 kaki bergerak ke arah barat daya hingga barat laut mencakup sebagian Banten.
Sementara klaster ketinggian hingga 20.000 kaki bergerak dari permukaan mengarah ke Banten, Jakarta, dan Jawa Barat.
3. DKI Jakarta
Masuk dalam klaster sebaran abu vulkanik ketinggian hingga 20.000 kaki.
Kondisi keberadaan abu vulkanik di kawasan bandara ini berimbas pada penghentian operasional sementara Bandara Soekarno-Hatta.
4. Jawa Barat
Terdeteksi masuk klaster ketinggian hingga 20.000 kaki.
Bahkan terdapat suara dentuman hingga wilayah Bandung Raya bagian barat.
5. Bengkulu
Sebagian wilayah Bengkulu masuk dalam klaster sebaran abu vulkanik pada ketinggian hingga sekitar 50.000 kaki.
Sebaran tersebut bergerak ke arah barat daya hingga barat laut dan meluas ke wilayah perairan di sebelah barat Bengkulu, Lampung dan Banten.
6. Sumatera Selatan
Sebagian wilayah Sumatera Selatan juga masuk dalam cakupan sebaran abu vulkanik pada klaster dengan ketinggian hingga 50.000 kaki.
7. Sumatera Barat
Wilayah Sumatera Barat turut disebut dalam cakupan sebaran abu vulkanik pada ketinggian hingga sekitar 50.000 kaki.
Baca juga: Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau Sampai ke Kota Bogor, Rumah dan Kendaraan Warga Dipenuhi Debu
8. Selat Sunda
Sebaran abu juga terpantau di kawasan Selat Sunda bagian selatan.
Wilayah ini menjadi area yang cukup dekat dengan sumber erupsi Gunung Anak Krakatau sehingga aktivitas vulkanik juga berpengaruh terhadap kondisi udara dan jalur transportasi di sekitar Selat Sunda.
9. Samudra Hindia
Sebaran abu pada lapisan yang lebih tinggi dilaporkan bergerak hingga Samudra Hindia.
Laporan Pos Pengamatan Pasauran mencatat erupsi Gunung Anak Krakatau berlangsung menerus sejak Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB.
Pada periode pengamatan Sabtu pukul 18.00–24.00 WIB, gunung tertutup kabut dengan cuaca berawan hingga mendung, angin lemah hingga sedang mengarah ke utara dan barat laut.
"Kondisi terkini Gunung Anak Krakatau Erupsi menerus, berlangsung sejak tanggal 04 September 2026 pukul 23.07 WIB hingga saat laporan ini dibuat," demikian keterangan dari Situs Magma, Kementerian ESDM, Minggu (6/9/2026) pukul 00.31 WIB.
Petugas merekam satu kali gempa letusan dengan amplitudo 70 mm.
Pengamatan visual mengonfirmasi munculnya fenomena lava fountain atau pancaran lava air mancur berwarna merah menyala yang disertai suara dentuman serta gemuruh berulang.
PVMBG menjelaskan suara dentuman tersebut merambat hingga ratusan kilometer akibat pelepasan gas secara cepat, turbulensi aliran lava, serta pengaruh suhu, tekanan udara, dan arah angin.
Hal ini yang menyebabkan suara dentuman dan getaran kaca terasa hingga wilayah Banten, Lampung, dan Bandung Raya.
"Suara dentuman dan getaran yang dirasakan masyarakat diduga kuat berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pada waktu yang sama," kata Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria.
Saat ini status Gunung Anak Krakatau bertahan di Level III (Siaga).
PVMBG melarang masyarakat, wisatawan, dan pendaki beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
Terkait kekhawatiran potensi tsunami seperti kejadian 22 Desember 2018, PVMBG mengonfirmasi bahwa struktur morfologi tubuh Gunung Anak Krakatau saat ini masih relatif kecil pasca-erupsi 2018, sehingga belum berpotensi mengalami keruntuhan tubuh gunung secara masif.