Tribunlampung.co.id, Pesawaran - Aktivitas angkutan penyeberangan dari Pulau Pahawang menuju Dermaga Ketapang maupun sebaliknya masih berlangsung di tengah sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Baca juga: Warga Bandar Lampung Sibuk Bersihkan Rumah dan Kendaraan dari Abu Vulkanik GAK
Namun, tidak seluruh kapal beroperasi. Sebagian pengemudi memilih menghentikan aktivitas sementara untuk membersihkan abu yang masih menempel di bagian kapal.
Hal itu disampaikan Hamsim, salah satu pengemudi kapal yang melayani angkutan penumpang, barang, dan wisata, kepada Tribun Lampung, Minggu (6/9/2026).
Menurut Hamsim, sejumlah kapal masih melayani aktivitas penyeberangan. Sementara itu, kapal yang masih dipenuhi abu memilih melakukan pembersihan terlebih dahulu.
“Kalau yang lagi berlanjut, berlanjut. Cuma yang lagi bersih-bersih kapal, ya masih bersih-bersih kapal,” kata Hamsim.
Ia mengatakan, kondisi cuaca pada Minggu pagi relatif lebih cerah dibandingkan sebelumnya. Meski demikian, kabut masih terlihat di sekitar wilayah tersebut.
“Kalau untuk cuaca, ya sedikit agak cerah, cuma kabut masih ada. Yang lain juga seperti itu,” ujarnya.
Untuk aktivitas penyeberangan wisata, kata Hamsim, perjalanan biasanya berlangsung dari pagi hingga sore hari.
Sementara kapal yang melayani angkutan penumpang umumnya beroperasi hingga sekitar pukul 14.00 WIB.
“Kalau untuk penyeberangan wisata, ya dari pagi sampai sore. Tapi kalau untuk penyeberangan angkut penumpang saja, ya paling sampai jam 2,” jelasnya.
Hamsim menambahkan, hingga Minggu pagi belum ada imbauan khusus dari pemerintah yang diterima para pengemudi kapal terkait penghentian aktivitas penyeberangan.
“Belum ada imbauannya,” katanya.
Sementara terkait kondisi abu, Hamsim menyebut pada hari sebelumnya, sekitar pukul 15.00 hingga 16.00 WIB, abu mulai terasa cukup tebal. Kondisi tersebut membuat kapal perlu dibersihkan.
“Kalau kemarin sih, sekitar jam 4-3 itu sudah abu, sudah mulai kencang. Kalau pagi ini ya enggak seberapa,” pungkasnya.
Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda masih berlangsung hingga Sabtu (5/9/2026) malam.
Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno mengatakan, aktivitas erupsi yang terjadi saat ini masih dihitung sebagai satu kali kejadian.
Erupsi tersebut mulai tercatat pada pukul 12.18 WIB dan berlangsung terus-menerus tanpa jeda hingga Sabtu malam.
"Erupsi yang terjadi saat ini masih dihitung satu kali kejadian karena berlangsung terus-menerus tanpa jeda sejak pukul 12.18 WIB," kata Suwarno, Sabtu (5/9/2026).
Menurut Suwarno, erupsi baru akan dicatat sebagai kejadian berbeda apabila letusan sebelumnya telah berhenti sepenuhnya, kemudian terdapat jeda sebelum kembali terjadi letusan.
"Kalau erupsi sebelumnya sudah berhenti total, kemudian ada jeda dan terjadi letusan lagi, itu baru dihitung sebagai kejadian berikutnya," jelasnya.
Berdasarkan hasil pemantauan petugas, kolom abu vulkanik yang dihasilkan dari erupsi Gunung Anak Krakatau diperkirakan mencapai sekitar 150 meter di atas puncak gunung.
Material abu tersebut terbawa angin ke arah barat laut.
"Kolom abu kurang lebih 150 meter dan terbawa angin ke arah barat laut," ujarnya.
Sebaran abu vulkanik dilaporkan telah mencapai sejumlah wilayah di Lampung, di antaranya kawasan Tanjung Karang, Bandar Lampung, hingga Tanggamus.
Warga di sejumlah permukiman di wilayah terdampak juga melaporkan adanya paparan debu vulkanik yang diduga berasal dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Kondisi ini menunjukkan material erupsi GAK tidak hanya terpantau di sekitar kawasan gunung, tetapi juga mulai terbawa angin hingga ke sejumlah wilayah daratan Lampung.
Petugas pemantauan masih terus mengamati perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau, termasuk perubahan tinggi kolom abu dan arah sebaran material vulkanik.
(Tribunlampung.co.id/Okyindrajaya)