TRIBUNJAKARTA.COM - Dokter Kevin Mak membagikan sejumlah tips kepada masyarakat untuk melindungi diri dari paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Abu vulkanik dilaporkan menyebar ke sejumlah wilayah Jakarta dan sekitarnya setelah aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau meningkat.
Melalui unggahannya di akun Threads, Dokter Kevin Mak mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan dalam melakukan pencegahan, terutama ketika harus beraktivitas di luar ruangan.
"Salah pencegahan, abu vulkanik bisa 'keselip' masuk ke paru-paru! Ini yang harus kamu lakuin," tulis Dokter Kevin Mak.
Dokter Kevin Mak menyarankan masyarakat menggunakan masker yang memiliki kemampuan filtrasi lebih baik ketika harus beraktivitas di luar ruangan.
Ia membandingkan kemampuan filtrasi sejumlah jenis masker.
"Untuk paparan abu vulkanik, masker kain filtrasinya ≤44 persen, surgical sekitar 89–91 persen namun lebih banyak bocor dari sisi, sementara respirator N95-equivalent >98 persen ," jelasnya.
Karena itu, ia menyarankan penggunaan masker N95 atau KN95 yang terpasang dengan baik dan menutup rapat area wajah.
Dokter Kevin Mak juga meminta masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah jika tidak ada keperluan mendesak.
Ia secara khusus menyarankan masyarakat untuk menunda sementara aktivitas seperti lari di luar ruangan maupun nongkrong di area outdoor.
"Kalau ga perlu2 banget ga usah keluar deh. Pending dulu lari diluar, nongkrong di coffee shop outdoor 1-3 hari kedepan," tulisnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk menutup jendela atau pintu, terutama bagi mereka yang berada di wilayah dengan kondisi hujan abu cukup aktif.
Menurut Dokter Kevin Mak, abu vulkanik bukan sekadar debu biasa.
Karena itu, masyarakat disarankan tidak langsung menggosok atau menyapu abu dalam kondisi kering.
Dokter Kevin Mak juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga asupan cairan selama kondisi udara terdampak abu vulkanik.
Menurutnya, dehidrasi dapat membuat mata lebih cepat kering dan tenggorokan terasa tidak nyaman, terlebih ketika ditambah paparan abu.
"Dehidrasi = mata cepet kering dan tenggorokan gampang sakit," tulisnya.
Ia juga menyebut sejumlah vitamin dan antioksidan dalam unggahannya, termasuk vitamin D, vitamin C non-asam, zinc dan glutathione.
Namun, penggunaan suplemen sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing dan tidak menggantikan langkah utama untuk mengurangi paparan abu vulkanik.
Sebelumnya, sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terpantau mencapai sejumlah wilayah.
Berdasarkan data BMKG per pukul 04.00 WIB, Minggu (6/9/2026), terdapat dua klaster sebaran abu vulkanik.
Klaster pada lapisan bawah terpantau hingga sekitar 20.000 kaki dan bergerak ke arah timur laut hingga selatan, mencakup sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat serta perairan di sekitarnya.
Sementara itu, klaster pada lapisan lebih tinggi terpantau hingga sekitar 50.000 kaki dan bergerak ke arah barat daya hingga barat laut.
Sejumlah warga di Jakarta, Bekasi dan Bogor juga melaporkan adanya debu yang lebih pekat dari biasanya.
Kondisi abu vulkanik bahkan dilaporkan terlihat di sejumlah fasilitas publik, termasuk area peron Stasiun MRT Fatmawati.
Masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan diimbau memperhatikan kondisi lingkungan dan mengikuti informasi serta arahan resmi dari pihak berwenang.