Nextren.com -Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjalankan proyek percontohan atau pilot project retrofit terhadap 1.000 lampu jalan pintar pada 2026. Langkah ini dilakukan menjelang sekitar 80.000 lampu diperkirakan melewati umur teknisnya pada 2027.
Program tersebut dijalankan oleh Dinas Bina Marga DKI Jakarta. Retrofit memungkinkan komponen di dalam lampu diperbarui tanpa harus mengganti seluruh rumah lampu yang kondisinya masih layak.
Signify, perusahaan pencahayaan yang terlibat dalam modernisasi lampu jalan Jakarta pada 2016, mengaku dimintai solusi untuk pembaruan tersebut. Namun, belum ada konfirmasi bahwa Signify telah ditunjuk sebagai pelaksana resmi proyek percontohan.
Kepala Bidang Penerangan Jalan dan Sarana Umum Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Ery Ghazali, menyampaikan rencana itu dalam Signify Innovation Day 2026 di Jakarta pada 2 September 2026.“Di tahun ini kami baru pilot project, hanya untuk 1.000 unit,” kata Ery.
Hampir 189.000 PJU Jakarta Sudah Terhubung Sistem Pintar
Berdasarkan data Dinas Bina Marga DKI Jakarta untuk 2025, Ibu Kota memiliki 296.982 titik penerangan jalan umum atau PJU. Sebanyak 188.924 titik telah menggunakan sistem pintar, sedangkan sekitar 108.000 titik lainnya masih menggunakan sistem non-smart.
Dengan angka tersebut, sekitar 63,6 persen titik PJU Jakarta telah masuk ke dalam sistem pintar.
DKI menetapkan kebutuhan ideal sebanyak 321.000 titik, sehingga masih terdapat selisih sekitar 24.000 titik dari jumlah saat ini.

Dalam Rencana Strategis 2025-2029, DKI menargetkan penambahan 10.101 lampu LED pintar pada 2026, 10.181 unit pada 2027, 10.411 unit pada 2028, dan 10.641 unit pada 2029. Total target penambahannya mencapai 41.334 unit.
Namun, target tersebut disebut sebagai penambahan lampu LED dengan sistem pintar, bukan target khusus retrofit. DKI belum merinci pembagiannya antara pembangunan titik baru, konversi lampu non-smart, dan pembaruan perangkat lama.
Rumah Lampu Lama Dipertahankan
Retrofit dilakukan dengan mempertahankan rumah lampu yang kondisinya masih layak. Komponen elektronik di dalamnya diperbarui, kemudian lampu dihubungkan kembali ke sistem pengelolaan pintar.

Ketua Subkelompok Pengembangan dan Logistik Bidang Penerangan Jalan dan Sarana Umum DKI Jakarta, Harly, menjelaskan bahwa rumah lampu berbahan aluminium cetak memiliki masa pakai yang lebih panjang dibandingkan komponen elektronik di dalamnya.
Pendekatan ini memungkinkan pemerintah memperbarui performa lampu tanpa membuang seluruh perangkat. Selain berpotensi menekan biaya pengadaan, retrofit dapat mengurangi limbah material yang muncul apabila setiap lampu harus diganti secara utuh.
Signify Dimintai Solusi Pembaruan Lampu
Director-Commercial Leader Professional Business Signify Indonesia, Lucas Ardhana, mengatakan DKI mendatangi Signify untuk mencari metode pembaruan yang lebih efisien.
"Karena kami percaya rumah lampunya masih bagus, bagian dalamnya kami ganti, lalu kami garansi seperti produk baru," ujar Lucas dalam sesi tanya jawab dengan media.
Keterlibatan Signify memiliki kaitan dengan proyek modernisasi lampu jalan Jakarta pada 2016. Menurut catatan resmi Signify, hampir 90.000 lampu jalan diperbarui menjadi LED dan dihubungkan dengan perangkat lunak pengelolaan jarak jauh dalam waktu tujuh bulan. Rata-rata sekitar 430 titik lampu dihubungkan setiap hari.
Tahap kedua kemudian membawa jumlah lampu yang dikelola secara terpusat melalui platform Interact City menjadi 150.000 titik, berdasarkan [tudi kasus Interact City.
Meski demikian, keterlibatan Signify dalam proyek lama tidak otomatis menjadikannya pelaksana resmi uji retrofit 1.000 lampu pada 2026. Hingga informasi ini disampaikan, belum ada pengumuman mengenai penunjukan, mekanisme pengadaan, nilai kontrak, lokasi uji coba, maupun durasi garansi.
Karena itu, posisi Signify saat ini lebih tepat disebut sebagai perusahaan yang dimintai menyiapkan solusi pembaruan. Keputusan mengenai pelaksana proyek tetap memerlukan konfirmasi resmi dari Pemprov DKI Jakarta.
Efisiensi Energi Diklaim Mencapai 58 Persen
Dalam materi presentasinya, Dinas Bina Marga mencantumkan efisiensi energi pada 2025 sebesar 58 persen dibandingkan 2016. DKI juga menampilkan rancangan penurunan daya lampu arteri dari 400 watt menjadi 200 watt, jalan kolektor dari 250 watt menjadi 120 watt, jalan lingkungan dari 150 watt menjadi 90 watt, serta jalan MHT atau gang dari 70 watt menjadi 40 watt.

Namun, DKI menegaskan angka konversi daya tersebut masih berupa parameter desain sementara. Data pembayaran listrik yang ditampilkan dalam presentasi juga berstatus placeholder, sehingga belum dapat digunakan untuk menghitung penghematan tagihan secara pasti.
Uji terhadap 1.000 lampu akan menjadi penting untuk melihat apakah retrofit mampu mempertahankan tingkat pencahayaan, meningkatkan efisiensi, dan menjaga keandalan sistem. Pemerintah juga perlu membuka hasil pengujian, biaya per unit, tingkat kerusakan, standar garansi, serta kompatibilitas sistem dengan berbagai penyedia teknologi.
Keberhasilan kota pintar pada akhirnya tidak hanya diukur dari seberapa cepat perangkat dipasang. Kemampuan memperbarui infrastruktur yang menua secara hemat, terbuka, dan berkelanjutan akan menjadi ujian yang lebih menentukan.