Gunung Anak Krakatau Erupsi, Warga Pesisir Banten Khawatir Tsunami dan Siap untuk Mengungsi
Daniel DwiYulianto September 06, 2026 05:42 PM

Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi sejak Jumat (4/9/2026) memicu kekhawatiran akan potensi tsunami.

Sebagian warga di Kabupaten Pandeglang, terutama yang tinggal di kawasan pesisir, bahkan sudah bersiap untuk mengungsi.

Mudopar (43), warga Kecamatan Labuan, mengatakan getaran mulai terasa pada Sabtu (5/9/2026) pagi, sekitar pukul 05.30 WIB.

Awalnya, warga merasa bingung karena getaran yang dirasakan berbeda dengan gempa bumi.

Setelah mendapat informasi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau, warga mulai memahami bahwa getaran tersebut diduga berkaitan dengan erupsi.

Mudopar mengatakan sebagian warga sempat khawatir dan mulai mempertimbangkan untuk mengungsi.

Namun, ia bersama keluarganya memilih untuk tetap bertahan di rumah sambil meningkatkan kewaspadaan.

"Sebagian ada yang khawatir sampai ada kekhawatiran untuk mengungsi. Kalau saya pribadi bersama keluarga masih bertahan, hanya statusnya tetap waspada," ujar Mudopar, dikutip dari TribunBanten.com, Minggu (6/9/2026).

Kekhawatiran serupa juga dirasakan warga di Kampung Ciparahu, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang.

Warga setempat, Ikhwan, mengatakan masyarakat di wilayahnya belum melakukan evakuasi.

Namun, ia menyebut kemungkinan ada warga Kampung Legon yang tinggal lebih dekat dengan pesisir dan memilih untuk mengungsi.

"Di kampung mah enggak ada yang ngungsi. Tapi di Kampung Legon dekat pesisir kayaknya ada, soalnya mungkin trauma pasti, pas kejadian tsunami tahun 2018 itu," kata Ikhwan.

Menanggapi kekhawatiran tersebut, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi atau PVMBG memberikan penjelasan.

Kepala PVMBG Kementerian ESDM, Rita Susilawati, mengatakan pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau pascaerupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil.

Menurutnya, kondisi tersebut belum menunjukkan adanya potensi keruntuhan tubuh gunung dalam skala besar yang dapat memicu tsunami.

"Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau pasca-erupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan skala besar yang dapat memicu tsunami," terang Rita.

Meski demikian, PVMBG tetap mengimbau masyarakat untuk tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.