Anak Krakatau hingga Gunung Ibu Erupsi Bersamaan, Daryono: Sistem Vulkanik Berada di Tahap Kritis
Seli Andina Miranti September 06, 2026 05:47 PM

Laporan Kontributor Tribunjabar.id, Dian Herdiansyah.

TRIBUNJABAR.ID, SUKABUMI- Fenomena erupsi yang terjadi hampir bersamaan pada empat gunung api di Indonesia pada Minggu (6/9/2026) menjadi perhatian.

Empat gunung api tersebut yakni Gunung Anak Krakatau, Gunung Semeru, Gunung Ili Lewotolok, dan Gunung Ibu.

Fenomena tersebut terjadi di tengah dinamika kawasan Indonesia yang berada di wilayah Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik.

Cincin api pasifik merupakan kawasan atau jalur gunung api yang berbentuk menyerupai cincin yang mengelilingi Samudra Pasifik, termasuk wilayah Indonesia. Terdapat banyak batas lempeng tektonik di sepanjang jalur cincin api tersebut yan menyebabkanbanyak gunung api aktif dan banyak gempa bumi.

Baca juga: Bandara Husein Bandung Ditutup, 8 Penerbangan Dibatalkan Akibat Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau

Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Dr. Daryono, menjelaskan bahwa aktivitas erupsi pada empat gunung api tersebut tidak berarti keempatnya terhubung oleh satu saluran magma di bawah permukaan.

Menurutnya, secara geologi tidak terdapat mekanisme berupa "jalur pipa" atau jaringan saluran magma bawah tanah tunggal yang menghubungkan dapur magma keempat gunung tersebut.

"Erupsi yang terjadi bersamaan ini murni dikarenakan masing-masing sistem vulkanik memang telah berada pada tahap kritis akumulasi tekanan fluida dan magma di dalamnya," ujar Daryono.

Daryono menjelaskan, Indonesia berada di zona konvergensi lempeng yang kompleks. Sejumlah lempeng tektonik, termasuk Lempeng Indo-Australia, Pasifik, dan Filipina, berinteraksi melalui proses penunjaman di kawasan Indonesia dan sekitarnya.

Kondisi tektonik tersebut menjadi salah satu faktor yang membentuk jalur gunung api aktif di Indonesia.

Meski aktivitas keempat gunung api meningkat dalam waktu berdekatan, kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya satu sumber pemicu langsung yang sama.

POTRET UDARA - Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda saat dipotret Badan Geologi, Sabtu (5/9/2026).
POTRET UDARA - Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda saat dipotret Badan Geologi, Sabtu (5/9/2026). (Istimewa)

Perbedaan Tinggi Kolom Abu

Daryono mengatakan, perbedaan tinggi kolom abu dari masing-masing gunung api menunjukkan adanya perbedaan karakter dan dinamika erupsi.

Pada Gunung Anak Krakatau, sebaran abu vulkanik dilaporkan berdampak hingga sejumlah wilayah, termasuk Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu.

Menurut Daryono, luasnya sebaran abu tersebut berkaitan dengan volume material yang terlontar serta kondisi atmosfer dan sirkulasi angin regional.

"Material erupsi yang masuk ke lapisan troposfer tengah hingga atas dapat didistribusikan oleh sirkulasi angin regional, seperti angin monsun, sehingga abu vulkanik dapat terbawa hingga wilayah yang jauh dari sumber erupsi," jelasnya.

Sementara itu, Gunung Semeru dengan kolom abu sekitar 1.000 meter, Gunung Ili Lewotolok sekitar 600 meter, dan Gunung Ibu sekitar 400 meter menunjukkan karakter erupsi yang lebih terlokalisasi.

Baca juga: Bahaya Kesehatan Abu Vulkanik Anak Krakatau yang Sampai ke Jabar, Jangan Samakan dengan Debu Biasa

Daryono menjelaskan, tinggi kolom erupsi tidak hanya ditentukan oleh besar kecilnya letusan.

Tekanan gas di dalam saluran magma atau conduit serta gaya apung termal dari material erupsi yang berinteraksi dengan udara di atmosfer juga turut memengaruhi ketinggian kolom abu.

Dipengaruhi Silika dan Kandungan Gas

Dari sisi vulkanologi, karakter abu dan lontaran material erupsi juga dipengaruhi oleh komposisi magma.

Dua faktor penting yang memengaruhi karakter tersebut adalah proporsi silika (SiO2) dan kandungan volatil seperti H2O, CO2, serta SO2.

Magma dengan viskositas tinggi dan kandungan gas yang melimpah cenderung lebih mudah menghasilkan erupsi eksplosif.

"Sebaliknya, pada gunung dengan magma berfluiditas lebih tinggi atau sistem saluran yang relatif terbuka (open-vent system), tekanan gas dapat dilepaskan secara lebih berulang melalui kolom erupsi berskala menengah," kata Daryono.

Pancuran lava Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Sabtu (5/9/2026) dini hari. Suara erupsi Gunung Anak Krakatau ini terdengar sampai Bandung Raya.
Pancuran lava Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Sabtu (5/9/2026) dini hari. Suara erupsi Gunung Anak Krakatau ini terdengar sampai Bandung Raya. (instagram)

Kondisi tersebut membuat karakter erupsi cenderung lebih terlokalisasi di sekitar kawasan kawah utama.

Fenomena empat gunung api yang mengalami erupsi dalam waktu berdekatan, lanjut Daryono, pada dasarnya merupakan gambaran kompleksnya sistem vulkanik Indonesia.

Karena itu, aktivitas setiap gunung api tetap perlu dipantau berdasarkan parameter masing-masing, termasuk kegempaan vulkanik, deformasi tubuh gunung, tekanan gas, karakter letusan, serta sebaran material erupsi.

Masyarakat juga diimbau mengikuti informasi dan rekomendasi resmi dari otoritas terkait untuk mengantisipasi dampak aktivitas vulkanik.

Abu Sampai ke Sukabumi

Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau mulai dirasakan warga di wilayah Sukabumi, Jawa Barat.

Baca juga: Abu Vulkanik Anak Krakatau Diduga Sampai ke Bandung Raya, Menempel di Kendaraan hingga Halaman Rumah

Gunung Anak Krakatau sendiri berjarak sekitar kurang lebih 159 kilometer dari pusat Kabupaten Sukabumi dan 190 kilometer dari pusat Kota Sukabumi. 

Sementara itu, Gunung Anak Krakatau berjarak sekitar 145 kilometer dari pesisir barat Kabupaten Sukabumi.

Abu berupa debu halus tersebut bahkan terlihat menempel pada kendaraan yang terparkir di rumah serta sejumlah barang yang berada di luar ruangan.

Kondisi itu turut dirasakan pengendara sepeda motor yang beraktivitas di jalan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.