TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Ketua RW 007 Kelurahan Gunung Sari, Kecamatan Rappocini, Makassar, Muhammad Ramli tetap aktif mengurus lingkungan di tengah kesibukannya sebagai sopir pribadi yang telah dijalani selama 20 tahun.
Ramli lahir di Ujungpandang, 9 Maret 1963.
Ia memimpin enam RT dengan wilayah yang mencakup sekitar 1.153 kepala keluarga (KK), mulai dari kawasan Jalan Skarda hingga Jalan Sultan Alauddin.
Sebagai Ketua RW, Ramli rutin berkeliling dari satu RT ke RT lainnya.
Ia memantau kondisi warga dan mencari tahu persoalan yang dihadapi masyarakat, terutama terkait kebersihan dan keamanan lingkungan.
Bersama para Ketua RT, Ramli menyosialisasikan pentingnya memilah sampah kepada warga.
Menurutnya, sosialisasi perlu dilakukan secara langsung karena masih ada masyarakat yang harus terus diingatkan mengenai pola pengelolaan sampah.
"Kami sama-sama dengan Ketua RT menyampaikan kepada warga supaya mengerti masalah pemilahan sampah," kata Ramli, Jumat (4/9/2026).
Selain mendatangi warga, ia mendorong pemasangan spanduk dan stiker sebagai pengingat agar pesan pemilahan sampah tetap terlihat.
Ramli juga memantau proses pengangkutan sampah setelah warga mengumpulkannya.
Ia tidak ingin sampah menumpuk karena terlambat diangkut.
Jika menemukan kendala, ia menyampaikan informasi tersebut kepada pihak kelurahan dan petugas pengangkutan.
"Alhamdulillah, selama ini jarang saya mendapat keluhan dari masyarakat bahwa sampahnya belum diambil. Karena memang saya kontrol terus," ujarnya.
Selain kebersihan, Ramli memberi perhatian pada keamanan lingkungan.
Salah satu fasilitas yang aktif digunakan warga adalah pos kamling di Jalan Skarda.
Pos kamling merupakan tempat warga melakukan ronda malam untuk menjaga keamanan lingkungan.
Bagi Ramli, fasilitas tersebut juga menjadi wadah bagi masyarakat dan pemuda untuk terlibat dalam kegiatan bersama.
Ia berharap keterlibatan pemuda dapat mempererat hubungan mereka dengan masyarakat.
"Remaja itu memang sudah ada dari dulu, cuma wadahnya belum ada. Dengan adanya pos kamling, mereka jadi terlibat dan bekerja sama dengan masyarakat," katanya.
Di RW 007 juga terdapat sanggar seni yang dikelola warga.
Sanggar tersebut menjadi tempat anak-anak dan remaja berlatih kesenian, termasuk seni tari.
Pos kamling dan sanggar seni menjadi bagian dari penilaian ketika Kelurahan Gunung Sari mengikuti lomba lurah berprestasi.
Ramli menilai pembangunan lingkungan tidak cukup hanya dengan memperbaiki fasilitas.
Warga juga perlu memiliki ruang untuk berkegiatan dan mengembangkan potensi.
Ia mengaku sejak awal ingin melihat RW 007 berkembang.
Keinginan tersebut menjadi salah satu motivasinya mencalonkan diri sebagai Ketua RW.
"Motivasi saya memang, kalau suatu waktu menjabat sebagai Ketua RW, saya mau melihat RW 07 ini ada perubahan," ujarnya.
Menurut Ramli, perubahan yang diharapkan harus mengarah pada kemajuan lingkungan.
"Prinsip saya itu, harus ada perubahan, yang positif, yang maju," ucapnya.