Kualitas Udara Memburuk, Pemkab Natuna Terapkan Belajar dari Rumah di 6 Kecamatan Mulai Senin Besok
Septyan Mulia Rohman September 06, 2026 08:41 PM


TRIBUNBATAM.id, NATUNA
- Memburuknya kualitas udara pada sejumlah wilayah di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) akibat kabut asap kiriman membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Natuna mengambil langkah cepat.

Melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), pemerintah untuk sementara menghentikan pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan pada enam kecamatan di Pulau Bunguran. 

Pembelajaran kemudian dialihkan menjadi Belajar dari Rumah (BDR) selama tiga hari, mulai Senin (7/9/2026) hingga Rabu (9/9/2026). 

Kebijakan ini menjadi langkah terbaru pemerintah setelah sebelumnya wilayah Serasan, Subi dan Pulau Panjang lebih dulu menerapkan BDR akibat kondisi udara yang semakin memburuk.

Keputusan ini diambil setelah Pemkab Natuna mempertimbangkan keselamatan dan kesehatan peserta didik serta tenaga pendidik, di tengah kondisi kualitas udara yang berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya.

Enam kecamatan yang mulai menerapkan BDR yakni:

  • Kecamatan Bunguran Timur
  • Kecamatan Bunguran Tengah
  • Kecamatan Bunguran Selatan
  • Kecamatan Bunguran Timur Laut
  • Kecamatan Bunguran Utara, dan
  • Kecamatan Bunguran Batubi. 

Sekretaris Disdikbud Natuna, Nasria, membenarkan penerapan BDR tersebut.

"Benar sekali, langkah ini diambil setelah menimbang kondisi udara di sejumlah wilayah Pulau Bunguran yang semakin memburuk," ujar Nasria kepada TribunBatam.id, Minggu (6/9/2026).

Ia menjelaskan, kebijakan tersebut berlaku bagi satuan pendidikan di bawah kewenangan Disdikbud Natuna.

"Belajar Dari Rumah ini berlaku untuk satuan PAUD, SD, SMP dan SKB," katanya.

Nasria mengatakan, keputusan tersebut diambil setelah Disdikbud menerima laporan mengenai kondisi Indeks Kualitas Udara (IKU) di sejumlah wilayah Pulau Bunguran.

Menurutnya, kondisi udara di enam kecamatan tersebut telah masuk kriteria berbahaya sejak Jumat (4/9/2026).

"Ada enam kecamatan yang diberlakukan BDR mulai besok. Sebelumnya Serasan, Subi dan Pulau Panjang telah lebih dulu BDR," ujarnya.

Dengan kebijakan tersebut, proses belajar-mengajar secara tatap muka di sekolah yang berada di wilayah terdampak dihentikan sementara selama tiga hari.

"Jadi pelaksanaan proses belajar-mengajar secara tatap muka di satuan pendidikan terdampak dihentikan sementara mulai 7 sampai 9 September 2026," kata Nasria.

Selama pelaksanaan BDR, masing-masing satuan pendidikan diminta menyiapkan skema pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik.

Nasria menegaskan, penerapan BDR selama tiga hari tersebut belum tentu menjadi keputusan akhir.

Pemerintah akan terus memantau perkembangan kualitas udara di wilayah Natuna.

Artinya, apabila kondisi udara belum membaik setelah tiga hari, kebijakan BDR dapat kembali diperpanjang.

Bahkan, Disdikbud Natuna membuka kemungkinan penerapan BDR diperluas apabila kabut asap semakin menyebar.

"Bahkan jika meluas, akan ada kemungkinan juga seluruh Kabupaten Natuna diterapkan BDR. Tapi kaMI berharap kondisi ini cepat membaik," pungkas Nasria.

Sebelumnya, Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Natuna, Harmidi, menyebut kualitas udara di sejumlah wilayah Pulau Bunguran sudah masuk kategori tidak sehat.

Berdasarkan pengamatan menggunakan AQI US, kualitas udara di Kota Ranai berada pada angka 156 dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 63,2 mikrogram per meter kubik. 

Kondisi serupa juga ditemukan di sejumlah wilayah lainnya.

Di Tanjung, Kecamatan Bunguran Timur Laut, AQI US berada di angka 157 dengan PM2.5 sebesar 63,4 mikrogram per meter kubik. 

Sementara di Cemaga, Kecamatan Bunguran Selatan, AQI US berada di angka 156. Sedangkan Kelarik, Kecamatan Bunguran Utara, juga tercatat 156.

"Jadi, dari empat sampel tempat, boleh kita katakan kota-kota yang ada di Kabupaten Natuna rata-rata kualitas udaranya sudah tidak sehat," kata Harmidi.

Menurutnya, kondisi kabut asap semakin pekat karena pergerakan angin yang relatif lemah.

Selain asap kiriman dari Kalimantan, munculnya sejumlah titik panas atau hotspot akibat karhutla di wilayah Natuna juga ikut memperburuk kondisi udara.

"Ini semakin pekat karena ditambah juga ada hotspot-hotspot baru karhutla di Natuna, selain asap kiriman," ujarnya.

Ia menjelaskan, asap yang masuk ke Natuna terbawa oleh perputaran angin dari arah Kalimantan. 

Harmidi pun mengimbau masyarakat, terutama kelompok yang rentan terhadap gangguan pernapasan, untuk mengurangi aktivitas di luar rumah.

"Kami mengajak masyarakat, terutama yang rentan terhadap penyakit yang berkaitan dengan ISPA, kalau hendak keluar mungkin segera gunakan masker. Kalau tidak terlalu penting, mungkin cukup di rumah saja untuk saat-saat seperti ini. Dan terus pantau kondisi kualitas udara kita untuk beraktivitas di luar," pungkasnya. (Tribunbatam.id/Birri Fikrudin)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.