Penguin di Chile Pakai Rompi Khusus untuk Percepat Penyembuhan
Nasywa Fakhirah September 06, 2026 09:00 PM

Liputan6.com, Santiago - Para peneliti di Chile merancang pakaian untuk para penguin yang terluka. Pakaian tersebut adalah rompi merah yang pas di badan dan dilengkapi serat tembaga dan seng, yang diharapkan bisa membantu burung-burung air tersebut sembuh lebih cepat.

Dikutip dari AP News, Sabtu (5/9/2026), para dokter hewan sudah berhasil menerapkan pakaian khusus tersebut untuk mengobati anjing dan kucing yang terluka. Kini, mereka mencoba teknologi tersebut kepada penguin Humboldt di Chile, rumah untuk populasi terbesar spesies yang terancam punah ini.

"Selama bertahun-tahun, rompi berbahan serat mikro yang mengandung unsur-unsur seperti tembaga dan seng sudah diuji kepada hewan peliharaan, terutama anjing dan kucing, dan telah sangat membantu dalam proses penyembuhan luka kulit," tutur direktur Kebun Binatang Buin, Ignacio Idalsoaga.

Kebun binatang ini adalah sebuah taman margasatwa di pinggiran ibu kota Chile, Santiago, tempat para peneliti melakukan pengukuran terhadap penguin untuk mengembangkan pakaian pelindung tubuh pertama tersebut.

"Kami mulai berpikir, kenapa tidak mencobanya kepada penguin?" ujarnya kepada The Associated Press di kebun binatang tersebut pada hari Rabu.

Eksperimen ini dimulai lantaran populasi penguin Humboldt di Chile menurun drastis. Para peneliti dari Chile dan luar negeri yang melakukan survei terhadap koloni-koloni perkembangbiakan utama di negara tersebut pada tahun 2024 dan 2025 menemukan penurunan sebesar 63 persen dalam jumlah sarang aktif dibandingkan dengan lokasi yang sama tiga tahun sebelumnya.

Burung-burung ini menghadapi ancaman yang semakin meningkat, termasuk terjerat jaring ikan, polusi plastik, wabah penyakit, dan persaingan dengan industri perikanan untuk memperebutkan makanan.

 

Pengaruh El Nino

Seekor penguin Afrika diajari cara berenang di habitat penguin. (AP Photo/Keith Srakocic)
Seekor penguin Afrika diajari cara berenang di habitat penguin. (AP Photo/Keith Srakocic)

Kini, penguin Humboldt juga berada di tengah-tengah salah satu fenomena cuaca paling merusak di dunia, El Nino, yang membawa air laut yang lebih hangat dari biasanya ke beberapa wilayah Samudra Pasifik.

Hal ini menyebabkan ikan air dingin yang menjadi makanan utama mereka semakin sulit untuk ditemukan. Rasa lapar memaksa induk pergi lebih jauh untuk mencari makan dan meninggalkan sarang mereka.

"Terutama sekarang, dengan semua masalah yang disebabkan El Nino, kemungkinan besar kita akan menemukan banyak anak burung yang ditinggalkan dalam beberapa minggu ke depan, dengan luka-luka yang mereka alami karena kondisi lingkungan," ujar Idalsoaga.

Klinik-klinik satwa liar di seluruh Chile menerima penguin-penguin dalam kondisi terancam dan terdampar di sepanjang pantai Chile. Sebagian dari mereka terluka akibat jaring ikan atau baling-baling kapal, yang lain dalam kondisi lemah karena kurangnya makanan, tutur seorang dokter hewan yang mengelola Conservacion Humboldt, Tomas Pino. Ini adalah organisasi nirlaba yang merehabilitasi hewan laut yang terluka di wilayah utara negara tersebut.

Pino berkata mengobati luka-luka tersebut bisa menjadi rumit. Penguin sering memutar leher panjangnya untuk mematuk luka robek dan mencabut jahitan mereka sendiri. Rompi khusus tersebut mencegah mereka melakukan hal tersebut sekaligus memanfaatkan tembaga, di mana Chile adalah produsen terbesar di dunia, sebagai obat salep.

Tembaga dan seng yang ditenun ke dalam kain bisa menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur. Seng juga bisa merangsang pembentukan pembuluh darah baru, sehingga membantu jaringan yang rusak untuk sembuh lebih cepat.

"Kami melihat para penguin cukup tahan terhadapnya," ucap Pino. "Kami perhatikan dari hari ke hari, kondisi luka-luka mereka membaik berkat rompi tersebut."

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.