Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Sejumlah dosen dari Universitas Nusa Cendana (Undana) melaksanakan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di Desa Camplong II Kabupaten Kupang, yang mendorong agar dilakukan pemanfaatan pekarangan rumah untuk ketahanan pangan dan pencegahan stunting.
Para dosen itu diantaranya Dumanita Tamba, M.AP, Dendi Sigit Wahyudi, S.Ars., M.Ars dan
Rafi Akhsanul Kholikin, S.Sos., M.Si, Rabu (2/9/2026).
Salah satu dosen, Dumanita Tamba menjelaskan, masalah ketahanan pangan dan gizi keluarga masih menjadi tantangan di berbagai wilayah pedesaan di Indonesia, termasuk di Desa Camplong II, Kabupaten Kupang.
"Ketersediaan pangan yang cukup belum tentu diikuti oleh keberagaman konsumsi pangan yang mampu memenuhi kebutuhan gizi seluruh anggota keluarga," ujarnya.
Kondisi tersebut diperparah oleh keterbatasan pemanfaatan pekarangan rumah sebagai sumber pangan alternatif, rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai budidaya pertanian organik.
Padahal, pekarangan rumah memiliki potensi besar sebagai media produksi sayuran, buah-buahan, tanaman obat keluarga, dan sumber protein nabati yang dapat memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga secara berkelanjutan.
Kabupaten Kupang juga masih menghadapi permasalahan stunting yang menjadi salah satu isu prioritas pembangunan nasional.
Stunting tidak hanya disebabkan oleh kurangnya asupan gizi, tetapi juga dipengaruhi oleh pola konsumsi pangan keluarga, pengetahuan ibu mengenai gizi seimbang, sanitasi, serta ketersediaan pangan bergizi di tingkat rumah tangga.
Oleh karena itu, kata dia, upaya pencegahan stunting memerlukan pendekatan yang bersifat preventif, partisipatif, dan berkelanjutan melalui pemberdayaan masyarakat.
"Salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah meningkatkan kemampuan keluarga dalam memproduksi pangan sehat secara mandiri melalui pemanfaatan pekarangan," ujarnya.
Konsep pekarangan pangan telah lama menjadi bagian dari strategi ketahanan pangan nasional karena mampu meningkatkan akses masyarakat terhadap pangan bergizi dengan biaya yang relatif rendah.
Apabila dikelola menggunakan prinsip pertanian organik, pekarangan tidak hanya menghasilkan produk pangan yang sehat dan aman dikonsumsi, tetapi juga mendukung pelestarian lingkungan melalui pengurangan penggunaan pupuk dan pestisida kimia.
Sistem pertanian organik memanfaatkan bahan-bahan alami yang tersedia di sekitar rumah, seperti kompos, pupuk kandang, dan pestisida nabati, sehingga lebih mudah diterapkan oleh masyarakat pedesaan dengan modal yang terbatas.
Capacity building merupakan proses peningkatan kemampuan individu, kelompok, maupun organisasi agar mampu melaksanakan fungsi, memecahkan permasalahan, serta mencapai tujuan secara mandiri dan berkelanjutan.
Menurut Dumanita, kegiatan ini bertujuan untuk mendorong optimalisasi pemanfaatan pekarangan rumah sebagai sumber pangan bergizi keluarga dan meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai gizi seimbang dan pencegahan stunting. (fan)