Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menekankan pentingnya literasi keuangan bagi generasi muda.
Baca juga: LPS Lampung Dorong Edukasi Literasi Lewat Financial Festival
Menurutnya, kemampuan mengelola dan merencanakan keuangan harus mulai dibangun sejak usia muda.
Hal itu disampaikan Zulkifli Hasan saat menjadi pembicara dalam kegiatan Lampung Financial Festival 2026 di Hotel Novotel Bandar Lampung, Sabtu (5/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi momentum mendorong generasi muda meningkatkan pemahaman mengenai pengelolaan keuangan.
"Untuk membuat anak-anak muda kita sadar mengenai pentingnya pengetahuan tentang keuangan. Karena harus direncanakan," ujar Zulhas.
Ia mengatakan, seseorang harus mampu menghitung kebutuhan keuangan, baik untuk kebutuhan jangka pendek maupun jangka panjang.
Zulhas kemudian menceritakan pengalamannya merencanakan kebutuhan modal ketika mulai berusaha setelah lulus SMA.
"Saya dulu mulai dari lulusan SMA, saya sudah rencanakan berapa butuh uang tiga bulan, tiga bulan lagi berapa, berapa butuh uang saya satu tahun, berapa sebelum modal total tahun kedua," katanya.
Menurutnya, literasi keuangan bukan sekadar pengetahuan, tetapi kemampuan membuat perencanaan dan mengambil keputusan ekonomi secara tepat.
"Kalau kita tidak bisa menghitung, terus gimana? Nah, jadi literasi itu penting mengenai keuangan," jelasnya.
Zulhas juga mendorong anak muda melihat sektor pangan sebagai peluang usaha.
Menurutnya, komoditas seperti kopi dan singkong dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, bukan sekadar dijual sebagai bahan mentah.
"Kita kan jual kopi mentah. Itu kopi bisa macam-macam. Bisa jadi kue, bisa jadi parfum, bisa jadi cappuccino, macam-macam," ujarnya.
Zulhas menilai kreativitas anak muda menjadi kunci untuk mengembangkan potensi tersebut.
Sementara itu, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengajak generasi Z dan post-Gen Z meningkatkan literasi keuangan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dadaerah
Ia menyebut sektor keuangan berkaitan dengan hampir seluruh aktivitas masyarakat, mulai dari rumah tangga, pertanian, UMKM hingga investasi.
"Hampir semua keputusan yang kita ambil ini bersentuhan dengan keuangan," ujar Mirza.
Mirza mengungkapkan masih terdapat kesenjangan antara inklusi dan literasi keuangan di Lampung.
Indeks inklusi keuangan telah mencapai 90,94 persen, sedangkan literasi keuangan masyarakat berada di kisaran 72 persen.
"Artinya akses masyarakat mendapatkan akses keuangan, digital keuangan itu jauh lebih mudah dibandingkan pengetahuan mereka dalam menggunakan literasi keuangan," katanya.
Menurut Mirza, kondisi tersebut menjadi tantangan di tengah pesatnya penggunaan layanan keuangan digital.
Di Lampung tercatat sekitar 889 ribu pengguna QRIS dengan 22,4 juta transaksi senilai sekitar Rp1,87 triliun.
Ia juga menyebut sekitar 24,7 persen penduduk Lampung atau hampir 2,3 juta orang merupakan generasi Z.
Potensi bonus demografi tersebut, kata dia, harus diarahkan menjadi kekuatan ekonomi melalui pengetahuan, keterampilan, kewirausahaan dan kemampuan mengambil keputusan keuangan yang tepat.
"Jadi, mengambil keputusan keuangan yang tepat, ini adalah skill yang wajib dimiliki seorang Gen Z dan post-Gen Z di Provinsi Lampung," tegasnya.
Mirza menambahkan, ekonomi Lampung saat ini tumbuh 5,29 persen dan menjadi yang tertinggi kedua di Sumatera.
Pertumbuhan tersebut didukung komoditas unggulan seperti singkong, jagung, padi, kopi, karet serta nanas, sehingga literasi keuangan dan digital diharapkan mampu mendorong generasi muda ikut mengembangkan potensi ekonomi tersebut.
(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto)