TRIBUN-MAROS.COM, MAROS - Kekeringan di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, semakin meluas.
Terbaru, Kecamatan Cenrana ikut terdampak musim kemarau berkepanjangan.
Dengan bertambahnya Cenrana, kini sudah ada 11 dari 14 kecamatan di Maros yang terdampak kekeringan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Maros, Towadeng, mengatakan kondisi tersebut terus berkembang sejak pemerintah menetapkan status tanggap darurat kekeringan pada awal Agustus 2026.
“Awalnya masih delapan kecamatan, berkembang menjadi sembilan dan 10. Per hari ini sudah 11 kecamatan,” kata Towadeng, Senin (7/9/2026).
Sebelas kecamatan tersebut yakni Simbang, Bantimurung, Bontoa, Lau, Marusu, Maros Baru, Turikale, Moncongloe, Tanralili, Mandai, dan Cenrana.
Sementara tiga kecamatan yang belum terdampak kekeringan yakni Mallawa, Camba, dan Tompobulu.
BPBD Maros telah menyalurkan bantuan air bersih ke seluruh wilayah yang terdampak.
Cenrana menjadi wilayah terbaru yang mendapat suplai air bersih dari pemerintah.
“Kecamatan Cenrana menjadi wilayah terbaru yang mendapatkan suplai air bersih,” bebernya.
Towadeng mengatakan, BPBD menyalurkan air bersih ke sebuah pesantren di Desa Labuaja, Kecamatan Cenrana.
Pesantren tersebut sebelumnya mengajukan permintaan bantuan karena mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
Namun, keterbatasan armada membuat pendistribusian air harus dilakukan berdasarkan skala prioritas.
“Karena keterbatasan armada yang kami miliki, agak sulit kami menjangkau. Sehingga kami melakukan pemetaan-pemetaan skala prioritas untuk pelayanan kepada masyarakat,” jelasnya.
Hingga Senin (7/9/2026), BPBD Maros telah menyalurkan lebih dari 350 tangki air bersih ke berbagai wilayah terdampak.
Selain menggunakan mobil tangki berkapasitas 5.000 liter, BPBD juga mengoperasikan kendaraan berukuran lebih kecil.
Kendaraan jenis Gran Max tersebut dilengkapi tandon berkapasitas 2.500 liter.
“Selain menggunakan mobil tangki berkapasitas 5.000 liter, kami juga mengoperasikan kendaraan berukuran lebih kecil seperti Gran Max yang dilengkapi tandon berkapasitas 2.500 liter,” ucapnya.
Bantuan armada juga datang dari Balai Air Payau yang berada di Kabupaten Maros.
Kendaraan jenis Traga dengan tandon 2.500 liter digunakan untuk menjangkau permukiman warga yang tidak dapat dilalui mobil tangki berukuran besar.
“Mobil tangki air kami yang kapasitas 5.000 itu agak sulit masuk di wilayah perumahan karena area sempit dan kondisi jalan yang tidak memungkinkan untuk dilalui kendaraan besar,” imbuhnya.
Dalam sehari, BPBD Maros kini menyalurkan sekitar 30 tangki air bersih ke berbagai wilayah.
Distribusi dilakukan berdasarkan skala prioritas.
Termasuk untuk kebutuhan kegiatan keagamaan, pesantren, rumah ibadah hingga kegiatan masyarakat.
Salah satu kegiatan yang membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar yakni Maulid Lompoa di Kecamatan Marusu beberapa waktu lalu.
Dalam kegiatan tersebut, kebutuhan air mencapai sembilan tangki per hari.
“Di pagi hari kami menyuplai tiga, di siang tiga, dan malam hari tiga tangki,” ujarnya.
Saat ini, suplai air juga diarahkan untuk kegiatan Maulid yang berlangsung di Tekolabbua.
Dari 11 kecamatan terdampak, Bontoa menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian khusus BPBD Maros.
Wilayah pesisir Bontoa mengalami kondisi kekeringan cukup parah.
Bahkan, pedagang air yang selama ini menjadi salah satu sumber pasokan warga mulai kesulitan menjangkau wilayah pesisir.
“Khusus Bontoa setiap hari kita suplai enam tangki,” sebut Towadeng.
Menurutnya, kondisi Bontoa berbeda dengan sejumlah wilayah lainnya.
Warga di kawasan pesisir tidak dapat mengandalkan sumber air tanah melalui pengeboran.
Karena itu, warga hanya mengandalkan curah hujan dan bantuan suplai air dari pemerintah.
Untuk mendukung penanganan kekeringan, BPBD Maros telah mengusulkan penggunaan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) sekitar Rp300 juta untuk tahap awal.
Towadeng mengatakan anggaran tersebut masih dalam tahap pengusulan.
“Besaran penggunaan BTT nantinya akan disesuaikan dengan kebutuhan, kemampuan armada, jumlah personel, serta jangka waktu pelayanan,” ujarnya.
Ia menegaskan penggunaan anggaran BTT harus dilakukan secara teliti dan sesuai peruntukan.
Pasalnya, penggunaan anggaran tersebut memiliki mekanisme pertanggungjawaban yang ketat dalam pemeriksaan.
“Harus betul-betul kita manfaatkan dengan teliti, bijak, dan sesuai dengan peruntukannya,” pungkasnya.
Sementara itu, Bupati Maros Chaidir Syam mengatakan kondisi El Nino saat ini semakin parah.
Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, belum ada tanda-tanda curah hujan akan turun dalam waktu dekat.
“Nanti baru turun hujan di bulan Oktober,” ujar Chaidir Syam.
Salah satu dampak paling terasa yakni terganggunya pelayanan air bersih dari Instalasi Pengolahan Air (IPA) Pattontongan.
IPA Pattontongan kini tidak lagi dapat melayani masyarakat setelah sumber air dari Bendung Lekopancing mengering.
Kondisi tersebut berdampak terhadap pelayanan air bersih di Kecamatan Mandai, Moncongloe, dan Tanralili.
“Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, Pemkab Maros terus melakukan distribusi air bersih dengan memanfaatkan sumber air lainnya menggunakan mobil tangki,” ucapnya.
Selain dari pemerintah, bantuan air bersih juga datang dari pihak swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).
Palang Merah Indonesia (PMI) dan sejumlah organisasi kemasyarakatan turut membantu distribusi air bersih kepada warga terdampak kekeringan.(*)