Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi sejak Jumat (4/9/2026), kembali mengingatkan dunia pada sejarah letusan dahsyat Krakatau pada 27 Agustus 1883.
Gunung yang berada di Selat Sunda, di antara Pulau Jawa dan Sumatera, itu pernah mengalami letusan besar yang dampaknya dirasakan hingga berbagai wilayah di dunia.
Dikutip dari Natural History Museum pada Senin (7/9), kekuatan letusan Krakatau diperkirakan setara dengan ledakan sekitar 200 megaton TNT.
Dahsyatnya letusan itu menyebabkan lebih dari 36 ribu orang meninggal dunia, sebagian besar akibat tsunami yang terjadi setelah erupsi.
Energi letusan Krakatau diperkirakan sekitar empat kali lebih besar dibandingkan Tsar Bomba, bom nuklir milik Uni Soviet terbesar yang pernah diledakkan manusia.
Jika dibandingkan dengan bom atom Hiroshima, energi letusan Krakatau diperkirakan mencapai sekitar 13 ribu kali lebih kuat.
Letusan juga menyemburkan sekitar 20 kilometer kubik material vulkanik, seperti abu dan batu apung, ke atmosfer.
Dalam jumlah besar, erupsi juga melepaskan sulfur dioksida yang kemudian memengaruhi atmosfer dan iklim Bumi.
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Profesor Erma Yulihastin menyebut, Gunung Krakatau pernah menjadi mimpi buruk dunia.
Menurutnya, abu vulkanik dari letusan 1883 menyebar sangat luas hingga membuat langit di sejumlah wilayah dunia menjadi gelap selama berhari-hari.
Dampaknya terhadap atmosfer dan iklim juga terasa di berbagai belahan dunia.
Atas sejarah dahsyat tersebut, aktivitas Gunung Anak Krakatau yang kembali erupsi kini menjadi perhatian, termasuk di tingkat internasional.
"Krakatau itu pernah jadi mimpi buruk dunia. Ketika Krakatau meletus tahun 1883, hampir seluruh dunia merasakan imbasnya. Dunia gelap selama berhari-hari. Negara-negara di Belahan Bumi Utara kehilangan musim dingin. Itulah mengapa letusan Anak Krakatau atau Krakatoa ini sudah pasti jadi perhatian dunia," tulis Erma di X, Sabtu (5/9/2026).
Untuk diketahui, Gunung Anak Krakatau yang saat ini sedang erupsi merupakan kaldera yang terbentuk akibat letusan dahsyat Gunung Krakatau pada Agustus 1883.