Abu Anak Krakatau Disebut Tak Mengarah ke Yogyakarta, Sultan HB X Ingatkan Waspada Gunung Merapi
ninda iswara September 07, 2026 02:07 PM

TRIBUNTRENDS.COM - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X mengingatkan masyarakat, terutama warga di wilayah yang terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, agar berhati-hati saat melakukan pembersihan.

Sultan menekankan pentingnya penggunaan masker untuk melindungi saluran pernapasan dari paparan abu vulkanik.

Peringatan tersebut disampaikan Sultan di Yogyakarta, Senin (7/9/2026), merespons aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang sempat menyebabkan sebaran abu vulkanik ke sejumlah wilayah. Menurut Sultan, penanganan abu vulkanik tidak bisa disamakan dengan membersihkan debu atau pasir biasa.

Abu Vulkanik Mengandung Material Tajam

Sultan mengatakan masyarakat perlu memahami karakter abu vulkanik sebelum melakukan pembersihan. Berdasarkan pengalaman DIY menghadapi sejumlah erupsi gunung berapi, abu vulkanik mengandung material kaca dan batuan yang sangat halus sekaligus tajam.

Material tersebut dapat membahayakan kesehatan apabila terhirup. Karena itu, Sultan meminta masyarakat menggunakan masker, terutama ketika berada di luar ruangan atau saat melakukan aktivitas pembersihan abu.

"Abu vulkanik itu mengandung material yang berbahaya dan tajam. Jadi, sekarang lebih baik memang memakai masker. Saya melihat di YouTube, di Jakarta sepertinya pakai kipas besar. Itu justru membuat abu terbang berserakan ke mana-mana. Mengusir abu itu tidak mudah. Genteng memang menjadi lebih bersih, tetapi karena abunya lembut, bisa terbang ke mana-mana. Kalau warga masyarakat menghirupnya, risikonya malah membesar," papar Sultan.

Baca juga: Daftar 8 Bandara yang Masih Ditutup Imbas Erupsi Gunung Anak Krakatau, Menhub: Perbedaan Arah Angin

Abu Kena Hujan Bisa Jadi Licin

Selain memperhatikan cara membersihkan, Sultan juga mengingatkan warga mengenai kondisi abu vulkanik ketika terkena air hujan. Menurut dia, abu yang bercampur air dapat berubah menjadi endapan menyerupai lumpur yang keras dan sangat licin.

Kondisi tersebut berpotensi membahayakan warga yang berusaha membersihkan bagian atap rumah. Sultan meminta masyarakat tidak sembarangan naik ke genteng, terutama ketika kondisi sedang hujan atau atap sudah terkena air.

"Kalau menunggu hujan, abu malah menjadi seperti beton dan licin. Saya khawatir nanti orang yang tidak punya pengalaman, membersihkannya memakai sapu sambil memanjat genteng, malah bisa terpeleset. Apalagi kalau hujan, akan sangat licin. Memang tidak mudah. Di halaman pun tidak bisa langsung bersih karena abunya beterbangan. Kalau pasir terus disapu bisa hilang, tetapi abu vulkanik tidak seperti itu," tegasnya.

Abu Anak Krakatau Disebut Tak Mengarah ke DIY

Sultan juga menyampaikan bahwa berdasarkan pengalaman terhadap sebaran abu vulkanik Gunung Semeru sebelumnya, material abu dari Gunung Anak Krakatau saat ini tidak mengarah ke wilayah DIY.

Ia memperkirakan kolom abu tidak akan mencapai jarak yang sangat jauh.

Sultan Ingatkan Warga DIY Tetap Waspada Merapi

Dalam kesempatan tersebut, Sultan juga mengingatkan masyarakat DIY agar tidak lengah terhadap aktivitas Gunung Merapi.

Ia menyebut Gunung Merapi telah berstatus Siaga dalam beberapa tahun terakhir. Masyarakat pun diminta tetap mengikuti perkembangan informasi dan rekomendasi dari pihak berwenang.

Sultan mengajak masyarakat untuk menghadapi ancaman bencana alam dengan sikap tenang dan menerima kondisi yang terjadi.

"Ya kehendaknya sudah begitu, terima saja. Kita tidak bisa mengatakan tidak, diterima dengan ikhlas kalau Allah berkehendak seperti itu. Kalau Gunung Merapi memang sudah dua sampai tiga tahun ini berstatus Siaga terus. Harapan saya ya masyarakat tetap siaga saja," ujar Sultan HB X.

Erupsi Menerus Anak Krakatau Berakhir

Sebelumnya, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan erupsi menerus Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda telah berakhir pada Minggu (6/9/2026) dini hari.

Erupsi tersebut sempat menyebabkan sebaran abu vulkanik hingga sejumlah wilayah, termasuk Banten dan Bengkulu. Setelah erupsi menerus berakhir, aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali bertransisi menjadi erupsi strombolian. Meski demikian, Kepala Badan Geologi Lana Saria menyebut probabilitas terjadinya letusan susulan masih tinggi.

Hingga kini, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat juga direkomendasikan tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif.

Selain itu, warga yang berada di luar ruangan diwajibkan menggunakan masker sebagai langkah pencegahan terhadap risiko gangguan saluran pernapasan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

(TribunTrends)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.