Laporan Wartawan TribunPalu.com, Zulfadli
TRIBUNPALU.COM, SIGI - Hasil penelitian Fakultas Kehutanan Universitas Tadulako (Untad) tidak hanya berhenti di lingkungan kampus.
Tim Fakultas Kehutanan Untad membawa teknologi hasil penelitian tersebut ke Desa Bakubakulu, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, untuk melatih masyarakat mengolah limbah organik menjadi pupuk.
Pelatihan pembuatan pupuk organik cair (POC) dan kompos itu berlangsung di Balai Pertemuan Desa Bakubakulu, Sabtu (22/8/2026).
Kegiatan tersebut merupakan Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Diseminasi Hasil Penelitian yang didanai melalui DIPA Universitas Tadulako Tahun 2026.
Program itu diarahkan untuk mendukung pembibitan tanaman kehutanan di desa penyangga Taman Nasional Lore Lindu (TNLL).
Tim pelaksana diketuai Abdul Hapid bersama anggota Zulkaidhah dan Rahmawati.
Baca juga: Kemarau Panjang, SPN Polda Sulteng Gelar Sholat Istisqa Bersama Warga dan ASN Labuan
Sekretaris Desa Bakubakulu, Alfid Mei Mandalele, membuka kegiatan tersebut mewakili kepala desa.
Peserta pelatihan berasal dari unsur BUMDes, kelompok tani, Lembaga Pengelola Konservasi Desa (LPKD), serta masyarakat setempat.
Alfid mengapresiasi kegiatan tersebut karena materi yang diberikan dinilai dekat dengan aktivitas sehari-hari warga.
Sebagian besar masyarakat Desa Bakubakulu bekerja di sektor pertanian sehingga pemanfaatan limbah organik dinilai dapat langsung diterapkan di lahan pertanian maupun pembibitan.
"Melalui kegiatan seperti ini, masyarakat diharapkan dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang dapat diterapkan secara langsung di lingkungan dan lahan yang dikelola," ujar Alfid.
Ia mengatakan, Desa Bakubakulu merupakan salah satu desa penyangga TNLL yang memiliki potensi di sektor pertanian, perkebunan dan agroforestri.
Baca juga: 4 Gunung Api Erupsi, Matindas Wanti-wanti Kesiapan Faskes dan Pasokan Air Bersih di Daerah Bencana
Limbah Daun hingga Kotoran Ternak Diolah Jadi Pupuk
Dalam pelatihan tersebut, tim Fakultas Kehutanan Untad mengenalkan cara mengolah berbagai bahan organik yang mudah ditemukan masyarakat.
Bahan untuk pembuatan kompos antara lain sisa tanaman, daun-daunan, sekam, kotoran ternak dan limbah organik lainnya.
Sementara itu, pembuatan POC dapat memanfaatkan limbah sayuran dan buah yang kemudian diproses melalui tahapan pengolahan dan fermentasi.
Warga tidak hanya mendapat penjelasan mengenai bahan yang dapat digunakan.
Tim pengabdi juga menjelaskan tahapan pembuatan, proses fermentasi atau pengomposan, pematangan pupuk hingga cara penggunaannya pada media pembibitan dan tanaman.
Materi diberikan secara praktis agar warga dapat mengulangi proses pembuatan pupuk secara mandiri setelah pelatihan.
Baca juga: Ketua KWSLP Muhdhor Meninggal Dunia, Suasana Duka Selimuti Kediaman di Palu
Ketua tim pengabdian, Abdul Hapid, mengatakan penggunaan pupuk organik dapat mendukung pembibitan tanaman kehutanan.
Bahan organik dapat membantu memperbaiki kondisi fisik tanah, meningkatkan kandungan bahan organik serta mendukung aktivitas organisme di dalam tanah.
Pupuk organik juga dapat menyediakan unsur hara yang dibutuhkan tanaman.
Menurutnya, pemanfaatan limbah organik di sekitar desa memiliki manfaat ganda.
Selain mengurangi limbah rumah tangga dan pertanian, masyarakat juga dapat mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.
Bahan baku yang tersedia di lingkungan sekitar membuat pupuk organik berpotensi menjadi input pembibitan yang lebih murah dan mudah diproduksi.
Baca juga: Kemarau Panjang, SPN Polda Sulteng Gelar Sholat Istisqa Bersama Warga dan ASN Labuan
Hasil Riset Untad Didorong Bisa Diterapkan Warga
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Untad melakukan hilirisasi hasil penelitian agar pengetahuan yang dikembangkan di kampus dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Bagi Desa Bakubakulu yang berada di wilayah penyangga kawasan konservasi, pemanfaatan sumber daya lokal menjadi salah satu pendekatan yang dapat mendukung aktivitas ekonomi sekaligus menjaga lingkungan.
Desa Bakubakulu memiliki potensi agroforestri, hasil hutan bukan kayu serta sumber daya organik yang dapat dimanfaatkan.
Kemampuan masyarakat dalam memproduksi pupuk juga dapat mendukung pembibitan tanaman kehutanan di tingkat desa.
Pembibitan tersebut nantinya berpotensi mendukung kebutuhan penghijauan maupun rehabilitasi hutan dan lahan.
Selama kegiatan berlangsung, peserta terlihat aktif mengikuti demonstrasi dan diskusi.
Sejumlah warga menanyakan jenis bahan yang dapat digunakan, proses pengolahan hingga penerapan pupuk organik untuk tanaman.
Tim Fakultas Kehutanan Untad berharap pelatihan tersebut tidak berhenti pada transfer pengetahuan.
Baca juga: PLN Padamkan Listrik di Bahodopi Morowali Selama 8 Jam, Cek Wilayah Terdampak
Masyarakat diharapkan mampu memproduksi pupuk organik secara mandiri sehingga dapat memperkuat pembibitan tanaman, meningkatkan produktivitas lahan sekaligus mengurangi limbah organik.
Kegiatan ini juga memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa dan masyarakat dalam pengelolaan wilayah penyangga TNLL.
Dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di rumah maupun kebun, hasil penelitian Untad diharapkan dapat menjadi solusi sederhana yang memberi manfaat bagi masyarakat sekaligus mendukung upaya pelestarian hutan dan lingkungan. (*)