Harga Bensin Iran Naik 2 Kali Lipat, Bayang-bayang Kerusuhan 2019 Kembali Menghantui Teheran
Facundo Chrysnha Pradipha September 07, 2026 01:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Iran akan menggandakan harga bensin untuk konsumsi di luar kuota subsidi mulai Selasa (8/9/2026).

Harga bensin tingkat ketiga akan naik dari 5.000 menjadi 10.000 toman per liter ketika rumah tangga Iran tengah menghadapi inflasi tinggi, pelemahan mata uang, kenaikan harga kebutuhan pokok, dan tekanan pasokan bahan bakar.

Juru bicara pemerintah Fatemeh Mohajerani mengumumkan kenaikan tersebut pada Minggu (6/9/2026).

Mohajerani mengatakan pemerintah menaikkan tarif tersebut untuk menghadapi peningkatan konsumsi dan menjaga keseimbangan antara pasokan serta permintaan.

Ia juga menyebut kebijakan itu dimaksudkan untuk memperkuat "ketahanan nasional".

Harga baru akan berlaku mulai pagi hari Selasa (8/9/2026).

Namun, kenaikan tersebut tidak berlaku untuk seluruh pembelian bensin.

Pemerintah Iran tetap mempertahankan dua tingkat harga bersubsidi bagi pengendara.

Pengendara tetap mendapatkan alokasi 60 liter per bulan dengan harga 1.500 toman per liter.

Setelah kuota tersebut digunakan, pengendara masih mendapatkan tambahan 50 liter dengan tarif 3.000 toman per liter.

Tarif 10.000 toman per liter baru berlaku untuk konsumsi yang melebihi total 110 liter tersebut.

Baca juga: AS Hantam 3 Tanker, Iran Naikkan Level Perang, Ancam Serangan Lebih Cepat, Berat, dan Menyakitkan

Mohajerani mengatakan pemerintah sempat membahas sejumlah pilihan tarif sebelum menetapkan harga akhir.

"Berbagai angka disebutkan dalam pertemuan para ahli, tetapi karena presiden telah berjanji kepada rakyat, tarif 10.000 toman ditetapkan," kata Mohajerani, seperti dikutip Türkiye Today.

Defisit Bensin Capai 15 Juta Liter per Hari

Kenaikan harga bensin terjadi ketika Iran menghadapi tekanan terhadap pasokan bahan bakar domestik.

Esmail Saqqab Esfahani, kepala Organisasi Optimalisasi Energi Iran, mengatakan bulan lalu bahwa Iran menghadapi defisit bensin sekitar 14 juta hingga 15 juta liter per hari.

Kesenjangan antara konsumsi dan produksi bensin sebenarnya sudah terjadi sebelum perang.

Pertempuran dan blokade Amerika Serikat (AS) disebut semakin menekan pasokan ketika produksi domestik Iran belum mampu mengimbangi kebutuhan dalam negeri.

Kondisi tersebut membuat pemerintah berupaya menekan konsumsi sekaligus mempertahankan ketersediaan bahan bakar.

Mohajerani mengatakan seluruh pendapatan tambahan dari kenaikan harga tersebut akan digunakan untuk mendukung kehidupan rumah tangga.

Tetapi, pemerintah belum menjelaskan secara rinci bagaimana dana tambahan itu akan disalurkan.

Rial Melemah, Biaya Hidup Naik

Kebijakan harga bensin juga diterapkan ketika masyarakat Iran menghadapi tekanan ekonomi yang semakin besar.

Inflasi tinggi dan melemahnya rial telah meningkatkan biaya berbagai kebutuhan pokok.

Rial Iran diperdagangkan di atas 2,2 juta per dolar AS di pasar gelap pada Minggu (6/9/2026).

Baca juga: Iran Akan Umumkan Zona Eksklusi Baru Dekat Selat Hormuz, Kapal yang Lewat Bakal Masuk Daftar Sanksi

Angka tersebut menunjukkan pelemahan tajam dibandingkan sekitar 1,7 juta rial per dolar AS sebelum perang Timur Tengah dimulai pada 28 Februari.

Nilai rial juga berada di bawah level sekitar 1,8 juta per dolar yang tercatat pada akhir April.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebelumnya telah memberi sinyal mengenai kenaikan harga bensin pada akhir Agustus.

Saat itu pemerintah belum menetapkan tanggal penerapannya.

Rencana tersebut kemudian memunculkan kekhawatiran di kalangan warga bahwa kenaikan harga bensin dapat berdampak pada biaya transportasi dan harga barang lainnya.

Bayang-bayang Kerusuhan 2019

Kebijakan menaikkan harga bensin menjadi perhatian khusus karena bahan bakar merupakan salah satu isu ekonomi paling sensitif secara politik di Iran.

Pada November 2019, kenaikan harga bensin secara mendadak memicu demonstrasi nasional yang kemudian berkembang menjadi kerusuhan anti-pemerintah.

Reuters melaporkan berdasarkan hasil investigasinya bahwa sedikitnya 1.500 orang tewas dalam penindakan aparat terhadap demonstrasi tersebut.

Pemerintah Iran ketika itu juga memberlakukan pemadaman internet yang hampir total ketika protes meluas di berbagai wilayah.

Memori kerusuhan tersebut kembali mencuat menjelang penerapan tarif bensin baru.

Hossein Samsami, anggota Komisi Ekonomi parlemen Iran, sebelumnya memperingatkan bahwa menaikkan harga bensin dalam kondisi ekonomi saat ini dapat memicu persoalan baru.

Samsami menggambarkan kebijakan tersebut sebagai "percikan api di dalam tong mesiu."

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf juga mengatakan bulan lalu bahwa pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh Iran dapat berusaha memanfaatkan ketidakpuasan masyarakat terkait harga bensin.

Baca juga: Blokade AS Mulai Mencekik Iran! Ekonomi Teheran Terancam Kolaps di Tengah Perang

Kekhawatiran tersebut muncul ketika pemerintah berupaya mengurangi kesenjangan antara konsumsi dan pasokan bensin tanpa menghapus kuota subsidi bagi sebagian besar pengendara.

Tekanan Ekonomi AS terhadap Iran

Kenaikan harga bensin juga berlangsung ketika tekanan ekonomi Amerika Serikat terhadap Teheran semakin kuat.

Menteri Keuangan AS Scott, Bessent pada akhir Agustus menguraikan strategi yang disebutnya sebagai upaya untuk memberikan "sesak napas ekonomi" terhadap Iran.

Tekanan tersebut menjadi bagian dari upaya Washington menggunakan instrumen ekonomi untuk menekan Teheran di tengah perang yang masih berlangsung.

AS dan sekutunya telah mempertahankan berbagai sanksi terhadap Iran sejak 2018, ketika Presiden Donald Trump menarik AS dari kesepakatan nuklir internasional dengan Teheran.

Selain sanksi finansial, AS juga memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dalam upaya menekan ekspor minyak negara tersebut.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.