TRIBUNTRENDS.COM - Erupsi Gunung Anak Krakatau kembali berdampak terhadap aktivitas penerbangan di sejumlah wilayah. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memutuskan memperpanjang penutupan operasional sementara delapan bandara hingga pukul 18.00 WIB.
Keputusan tersebut diambil setelah Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada malam hari dan menghasilkan debu vulkanik baru.
Pemerintah menilai kondisi tersebut masih berpotensi mengganggu keselamatan penerbangan, terutama karena sebaran abu vulkanik masih berada di sekitar sejumlah bandara yang terdampak.
Dudy mengatakan keputusan memperpanjang penutupan delapan bandara dilakukan berdasarkan informasi dan analisis terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Delapan bandara yang masih ditutup operasionalnya yakni Bandara Radin Inten II Lampung, Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Pondok Cabe, Bandara Budiarto, Bandara Husein Sastranegara, Bandara Taufik Kiemas, dan Bandara Atung Bungsu.
"Kami memutuskan bahwa untuk delapan bandara yang kemarin ditutup operasional sementara, kami tutup tetap hingga pukul 18.00 sore nanti," ujar Dudy, dikutip TribunTrends dari kanal YouTube Kompas.com, Senin (7/9/2026).
Meski demikian, penutupan tersebut akan terus dievaluasi dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi abu vulkanik dan informasi terbaru dari BMKG.
Baca juga: Erupsi Gunung Anak Krakatau, Raditya Dika hingga Arya Saloka Batal Kerja, Rumah Aaliyah Kena Abu
Dudy menjelaskan, salah satu pertimbangan pemerintah memperpanjang penutupan bandara adalah kondisi angin di sekitar Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan data BMKG, arah angin pada beberapa lapisan atmosfer tidak bergerak ke arah yang sama.
Perbedaan arah angin tersebut membuat debu vulkanik berpotensi tetap bertahan di sekitar wilayah bandara yang lokasinya relatif dekat dengan Gunung Anak Krakatau.
"Sebagaimana mungkin rekan-rekan media ketahui bahwa tadi malam Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi lagi sehingga menimbulkan debu vulkanik yang baru," kata Dudy.
Ia menambahkan, arah angin di beberapa lapisan atmosfer di sekitar Gunung Anak Krakatau menunjukkan pola yang berbeda.
"Ada yang mengarah dari timur menuju tenggara, ada yang mengarah dari timur laut menuju barat daya. Kemudian juga ada yang dari barat daya atau ke barat laut," jelasnya.
Menurut Dudy, kondisi tersebut membuat abu vulkanik belum sepenuhnya menjauh dari kawasan bandara.
"Pada beberapa layer itu terjadi perbedaan arah angin sehingga menimbulkan posisi angin itu membuat debu itu masih bertahan di sekitar lokasi bandara-bandara yang dekat dengan Gunung Anak Krakatau," ujarnya.
Pemerintah belum memastikan apakah seluruh bandara tersebut akan kembali beroperasi setelah pukul 18.00 WIB. Keputusan selanjutnya akan bergantung pada perkembangan situasi dan hasil pemantauan kondisi atmosfer, khususnya pergerakan debu vulkanik.
Dudy memastikan pemerintah akan terus berkoordinasi dengan BMKG untuk mendapatkan informasi terbaru.
"Namun demikian, kami terus memantau informasi yang kami peroleh dari BMKG," katanya.
Apabila terjadi perubahan kondisi yang memungkinkan operasional bandara kembali dibuka atau justru membutuhkan perpanjangan penutupan, pemerintah akan segera menyampaikan informasi kepada masyarakat.
"Apabila terjadi perubahan informasi yang kami peroleh dari BMKG, maka kami akan segera meng-update kepada masyarakat dan juga rekan-rekan media," tegas Dudy.
Penutupan sementara sejumlah bandara tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi untuk menjaga keselamatan penerbangan di tengah aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dan keberadaan abu vulkanik di jalur penerbangan.
(TribunTrends)