Laporan Wartawan Tribunpalu.com, Ismet
TRIBUNPALU.COM, MOROWALI – Di bawah tenda sederhana, puluhan anak duduk mengikuti pelajaran.
Tidak ada dinding kokoh yang memisahkan mereka dari panas matahari maupun hembusan angin.
Di tempat seadanya itulah siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) Tanjung Harapan, Kecamatan Sambori Kepulauan, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, menjalani aktivitas belajar setiap harinya.
Bagi mereka, tenda darurat bukan sekadar tempat berteduh.
Tempat itu telah menjadi ruang kelas selama sekolah mereka belum memiliki bangunan yang layak.
Kondisi tersebut bahkan telah berlangsung selama kurang lebih sembilan tahun.
Sejak MTs Tanjung Harapan berdiri pada 2017, para siswa belum memiliki ruang kelas yang dapat digunakan secara layak untuk kegiatan belajar mengajar.
Baca juga: Lahan Kering Picu Karhutla di Bongka Koi, Brimob-Damkar dan Warga Kompak Jinakkan Api
Saat ini, sekitar 31 siswa tercatat mengikuti pendidikan di sekolah tersebut.
Salah seorang guru MTs Tanjung Harapan, Ihsan, mengatakan keterbatasan fasilitas tidak menyurutkan semangat guru dan siswa untuk tetap melaksanakan proses belajar mengajar.
Hal itu disampaikan Ihsan saat dikonfirmasi TribunPalu.com melalui sambungan telepon WhatsApp, Senin (7/9/2026).
Menurut Ihsan, para siswa tidak selalu belajar di tenda.
Dalam kondisi tertentu, mereka juga diarahkan menggunakan fasilitas Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) setempat untuk melaksanakan pembelajaran.
Selama bertahun-tahun, kondisi tersebut menjadi bagian dari keseharian siswa dan guru di MTs Tanjung Harapan.
Di saat Kabupaten Morowali dikenal sebagai salah satu kawasan dengan geliat industri yang terus berkembang, persoalan pendidikan dasar di wilayah kepulauan masih menjadi pekerjaan rumah.
Baca juga: Warga Keluhkan Mutasi Kendaraan Terkesan Lambat, Ini Penjelasan Kepala Samsat Palu
Anak-anak di MTs Tanjung Harapan tetap datang untuk belajar, membawa buku dan mengejar cita-cita, meski ruang kelas yang mereka tempati masih berupa tenda darurat.
Sembilan tahun berlalu sejak sekolah itu berdiri.
Namun, keinginan mereka untuk mendapatkan pendidikan tidak ikut berhenti.
Kini, harapan para siswa dan guru bukan hanya bisa terus belajar, tetapi juga memiliki ruang kelas yang layak tempat mereka dapat menuntut ilmu dengan rasa aman dan nyaman seperti siswa pada umumnya.(*)