Laporan Wartawan TribunJatim.com, Imam Nawawi
TRIBUNJATIM.COM, LUMAJANG - Pendapatan sebagian driver ojek online (ojol) terdampak kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.
Hal ini dirasakan Holil yang sudah mengantre selama 30 menit di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Sukodono, Lumajang, untuk memburu Pertalite, Senin (7/9/2026).
Baca juga: 54 Penerbangan di Bandara Juanda Batal Imbas Erupsi Anak Gunung Krakatau, Juanda Buka Layanan 24 Jam
Saat ditemui TribunJatim.com, pria asal Desa Grati, Kecamatan Sumbersuko, ini masih menunggu 10 kendaraan lagi untuk mendapatkan BBM subsidi di SPBU.
Holil mengaku, waktunya habis untuk mengantre di SPBU.
Bahkan, dalam sehari ini, ia telah membatalkan tiga orderan karena BBM kendaraannya tidak cukup untuk mengirim pesanan.
"Sudah tiga kali antre SPBU, di Bago tadi saya cari tidak ada, sekarang SPBU ketiga. Pembatalan orderan sudah otomatis terjadi, ada mungkin 3 orderan terpaksa dibatalkan, lha wong antre BBM," ujarnya.
Menurutnya, kondisi seperti ini sudah berlangsung lima hari ini, sebab di setiap SPBU terjadi antrean panjang karena banyak orang berebut.
"Ini saya sudah tiga puluh menit antre, sampai sekarang belum juga dapat. Otomatis tidak bisa kerja," ucapnya.
Mengingat di kios penjualan BBM eceran juga kosong, ditambah antrean panjang berebut beli Pertalite di SPBU.
Kata dia, kondisi ini membuat kerja driver ojol terganggu.
"Sempet kemarin cari pertalite tidak ada barangnya (di SPBU) jadi tidak bisa kerja. Cari eceran juga tidak ada," kata Holil.
Menanggapi hal itu, Pertamina Patra Niaga menilai bahwa kelangkaan BBM di Kabupaten Lumajang akibat kemacetan panjang di wilayah Ketapang, Banyuwangi.
Sehingga menghambat mobil tangki dalam melakukan pengiriman menuju SPBU.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi mengatakan, kemacetan di jalur Ketapang, Banyuwangi sekitar 12 kilometer seiring adanya revitalisasi kapasitas dermaga ASDP.
Kata dia, kondisi tersebut membuat pengiriman BBM ke wilayah Jember, Lumajang dan sekitarnya tidak berjalan optimal.
"Kami memahami adanya antrean yang terjadi di sejumlah SPBU Jember, Lumajang dan sekitarnya. Pertamina terus memperkuat penyaluran dan mengatur prioritas pengiriman, khususnya untuk SPBU di pusat kota," tanggapnya.
Selain itu, Pertamina juga berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang untuk mengakan terjadinya panic buying, supaya warga tidak melakukan pembelian BBM berlebih.
"Di saat yang sama, kami juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah agar masyarakat tetap tenang dan membeli BBM sesuai kebutuhan," kata Ahad.
Pertamina juga memetakan kebutuhan di masing-masing wilayah.
Kata dia, untuk mengatur prioritas pengiriman, serta memperkuat pasokan pertalite melalui optimalisasi dan alih supply supaya distribusi dapat berjalan lebih lancar.
"Pertamina merespons kebutuhan tersebut dengan memperkuat penyaluran. Pada 5 September 2026, realisasi supply Pertalite telah mencapai sekitar 110 persen yang menunjukkan bahwa proses build up stok di SPBU mulai berjalan," imbuhnya.
Pertamina juga berkoordinasi dengan IT Tanjungwangi Banyuwangi untuk mendorong alih supply dari IT Surabaya dan IT Malang.
Kata Ahad, untuk percepatan pemenuhan kebutuhan SPBU di Lumajang guna mengurai antrean panjang BBM.
"Dengan demikian, armada dapat lebih difokuskan untuk memperkuat penyaluran BBM di wilayah Jember, Lumajang, dan sekitarnya."
"Pertamina memastikan ketersediaan BBM tetap menjadi prioritas dan penyaluran terus dipantau secara berkala," pungkasnya.