Penerbangan Padang-Jakarta Batal, Penumpang Numpuk hingga Lesehan di Lantai BIM
Rahmadi September 07, 2026 03:27 PM

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Sejumlah calon penumpang pesawat rute Padang–Jakarta terpaksa duduk membentang di lantai area ruang tunggu Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Padang Pariaman, Sumatra Barat, Senin (7/9/2026).

Pemandangan ini terjadi setelah penerbangan mereka dibatalkan secara mendadak imbas erupsi Gunung Anak Krakatau yang memicu penutupan ruang udara dan bandara penerima di Jakarta.

Penumpukan calon penumpang tak terelakkan sejak pagi hingga siang hari.

Banyak di antara mereka yang sudah menunggu berjam-jam hingga akhirnya memilih melantai di sekitar area terminal karena keterbatasan tempat duduk.

Sembari memangku tas dan barang bawaan, para penumpang mengamati layar informasi penerbangan untuk kepastian jadwal penerbangan mereka.

Baca juga: Hukuman Penyerang Andrie Yunus Dipangkas, Menteri HAM: Kalau Terbukti, Sangat Wajar Dipecat

Salah seorang penumpang maskapai Super Air Jet tujuan Jakarta, Alif, mengaku sudah berada di area bandara sejak pagi hari.

Ia yang sedianya dijadwalkan terbang pada pukul 13.00 WIB harus mengelus dada saat mendengar pengumuman pembatalan dari pihak maskapai.

Menunggu Kepastian di Atas Lantai Bandara

Alif menyampaikan bahwa dirinya terpaksa duduk lesehan di lantai bandara karena kondisi ruang tunggu yang kian padat oleh ratusan calon penumpang lainnya.

"Sudah tiga jam saya di bandara ini. Rencana berangkat jam 13.00 WIB ke Jakarta, tapi pesawat dibatalkan karena dampak erupsi Anak Gunung Krakatau," kata Alif saat ditemui di BIM, Senin (7/9/2026).

Alif menjelaskan, kepergiannya ke Ibu Kota adalah untuk urusan pekerjaan, di mana tiket penerbangan tersebut dibiayai oleh tempatnya bekerja.

Baca juga: Cerita Penumpang Terdampak Erupsi Krakatau: Bertahan di BIM demi Kerja hingga Memilih Batal Liburan

Oleh karena itu, ia memilih bertahan duduk di lantai terminal sembari menunggu kepastian penerbangan ketimbang langsung pulang.

"Saya ke Jakarta untuk kerja, tiket hari ini juga pihak kantor yang membayar. Saya rencana nunggu kepastian berangkat dulu," ujarnya.

Ia menambahkan, opsi reschedule atau penjadwalan ulang penerbangan hingga malam hari tidak menjadi masalah baginya, asalkan tetap bisa terbang hari ini.

"Kalau reschedule juga tidak masalah, baik jadwal malam untuk hari ini. Yang penting ada kepastian," tutur Alif.

Antara Tugas Kantor dan Pilihan Refund

Sambil terus duduk menunggu pengumuman resmi, Alif menegaskan akan terus memantau perkembangan terkini dari meja informasi pihak maskapai.

Baca juga: Kabut Asap Makin Tebal di Padang, DPRD Dorong Sekolah Siapkan Opsi Belajar dari Rumah

Jika hingga sore atau malam penerbangan tetap tidak memungkinkan, ia baru akan mengambil langkah koordinasi dengan manajemen kantornya.

"Sementara saya nunggu dulu informasi dari pihak maskapai. Kalau hari ini tidak jadi berangkat, saya konfirmasi ke kantor supaya kerjaan tidak terganggu," jelasnya.

Berbeda dengan Alif, calon penumpang Super Air Jet lainnya, Hani, memilih langkah berbeda di tengah situasi tersebut.

Hani yang juga terdampak pembatalan rute Padang–Jakarta memilih untuk langsung mengajukan pembatalan tiket dan meminta pengembalian dana (refund).

Ia menilai kondisi bencana alam seperti erupsi gunung berapi sangat sulit diprediksi kapan akan berakhir dan aman untuk penerbangan.

"Karna musibah ini kita tidak ada yang tau kan selesainya kapan," ungkap Hani di lokasi yang sama.

Baca juga: Penerbangan Batal, Penumpang Asal Baso Harus Bolak-balik ke BIM, Ongkos Bertambah

Puluhan Penerbangan Lumpuh Total

Hani menambahkan, karena tujuan keberangkatannya ke Jakarta sekadar untuk mengisi waktu liburan, ia tidak merasa harus terburu-buru mengejar penerbangan hari ini.

"Saya ke Jakarta juga rencana mau liburan, jadi tidak perlu buru-buru," tambahnya singkat.

Sementara itu, Branch Communication & CSR Department Head InJourney Airports Bandara Internasional Minangkabau, Feni Lindriany, membenarkan adanya gangguan massal jadwal penerbangan tersebut.

Feni menjelaskan, pembatalan penerbangan terjadi akibat diterbitkannya Notice to Airmen (NOTAM Closed) untuk Bandara Soekarno-Hatta (CGK) karena terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Berdasarkan pembaruan data operasional BIM per pukul 12.00 WIB pada Senin (7/9/2026), tercatat ada 28 penerbangan rute Padang–Jakarta (PP) yang mengalami pembatalan (cancel flight).

Baca juga: Pemkab Dharmasraya Buka Seleksi 8 Kepala Dinas, Pendaftaran Mulai 7 September

"Total pembatalan mencakup 14 penerbangan kedatangan dan 14 penerbangan keberangkatan dari berbagai maskapai seperti Lion Air, Citilink, Pelita Air, Super Air Jet, Garuda Indonesia, hingga Batik Air," terang Feni.

Meskipun rute menuju Jakarta lumpuh total, operasional BIM secara keseluruhan masih melayani 17 penerbangan lainnya, khususnya untuk rute internasional dan regional domestik non-Jakarta yang tidak terdampak sebaran abu vulkanik. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.