SURYA.co.id, PASURUAN - Masyarakat Suku Tengger di lereng Gunung Bromo kembali menggelar ritual sakral Tari Sodoran sebagai bagian utama dari rangkaian perayaan Yadnya Karo.
Tarian yang hanya dipentaskan setahun sekali ini menjadi simbol penting bagi Wong Tengger dalam memaknai asal-usul kehidupan manusia.
Tari Sodoran merupakan tarian tradisional sakral yang menjadi pembuka upacara Yadnya Karo.
Puncak dari tarian ini adalah prosesi pemecahan tongkat bambu wuluh yang berisi aneka biji-bijian lokal.
Ketika bambu pecah dan biji-bijian berceceran, masyarakat segera mengambilnya sebagai simbol harapan akan kesuburan dan keberlangsungan hidup.
Baca juga: Tari Sodoran Jadi Puncak Yadnya Karo, Ritual Sakral Suku Tengger di Tosari Pasuruan
Tahun ini, tarian berlangsung pada Selasa-Rabu, 28-29 Juli 2026, berpusat di Pura Kawitan Tengger Widya Dharma dan Balai Desa Tosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.
Peserta tari terdiri dari tokoh masyarakat (kepala desa dan dusun) serta pemuda-pemudi pilihan dari 11 desa di wilayah Kecamatan Tosari, Puspo, dan Tutur.
Tari Sodoran bukanlah sekadar pertunjukan seni, melainkan ritual yang terikat aturan adat yang ketat.
Penari perempuan tidak boleh dalam masa menstruasi, dan gerakan tarian tidak boleh dimodifikasi sedikit pun.
Prosesi diawali dengan kirab manten sodor yang diiringi tiupan terompet bambu dan tabuhan gendang khas Bromo menuju pura untuk sembahyang.
Ketua Paruman Dukun Pandita Tengger Brang Kulon, Romo Eko Warnoto, menjelaskan bahwa setiap gerakan dalam Tari Sodoran mengandung filosofi mendalam tentang penyatuan kehidupan.
"Gambaran untuk menyatukan dan melangsungkan sebuah kehidupan. Maka dari itu, tari ini kalau tidak pada waktu Yadnya Karo tepat di bulan Karo ini, tidak boleh ditarikan," kata Romo Eko.
Ia menambahkan bahwa penggunaan bambu wuluh memiliki makna simbolis yang spesifik antara laki-laki dan perempuan.
"Bambu wuluh itu berisikan biji-bijian. Selesai yang terakhir, bambu itu dipecahkan dan harus pecah. Maknanya, penyatuan karena tari ini menyimbolkan asal-usul. Simbol laki-laki dan perempuan. Itu yang utama," jelasnya.
Dampak positif dari konsistensi ritual ini terlihat pada antusiasme generasi muda dalam menjaga warisan budaya.
Sri Bawon Agustin (15), salah satu penari remaja, mengaku bangga meski harus menjalani latihan intensif untuk menguasai gerakan yang sakral.
"Baru pertama kali jadi penari Sodoran. Tarinya tidak susah. Seminggu sebelum tampil latihan terus. Memang ada hitungan dan pandangan. Awal-awal pasti agak susah, tapi lama-lama bisa," ungkap Sri Bawon.
Meskipun telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia, Tari Sodoran tetap dijaga sebagai bagian dari ritual Yadnya Karo masyarakat Tengger.
Pelestarian tradisi ini tidak hanya dilakukan melalui pelaksanaan ritual setiap tahun, tetapi juga dengan melibatkan generasi muda.