TRIBUNPALU.COM - Sebaran Abu Vulkanik akibat Erupsi Gunung Anak Krakatau kini berdampak pada sejumlah wilayah di Indonesia.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat paparan Abu Vulkanik telah menjangkau kawasan DKI Jakarta, Banten, hingga Lampung.
Berdasarkan pemetaan BNPB, terdapat tiga kabupaten yang mencakup total 15 kecamatan masuk dalam pemantauan ketat.
Di Kabupaten Lampung Selatan, pemantauan difokuskan pada Kecamatan Punduh Pidada, Rajabasa, Kalianda, Ketapang, Bakauheni, Sidomulyo, dan Katibung.
Sementara di Kabupaten Pandeglang, terdapat empat kecamatan terdampak, yakni Kecamatan Carita, Labuan, Menes, serta Jiput.
Adapun di Kabupaten Tanggamus, empat wilayah yang dipantau meliputi Kecamatan Pematang Sawa, Cukuh Balak, Semaka, dan Kota Agung.
Fenomena hujan abu ini dinilai menyimpan ancaman bagi kesehatan masyarakat yang berada di kawasan terdampak.
Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi, Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P (K), membeberkan bahaya Abu Vulkanik tersebut.
Baca juga: Kejati Sulteng Setujui Pengentian Dua Perkara di Palu dan Morowali LewatKeadilan Restoratif
Penurunan Fungsi Paru Berlebih
Dokter spesialis pulmonologi dan kedokteran respirasi (dokter spesialis paru) Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P (K), FISR, FAPSR menjelaskan fungsi paru secara normal memang mengalami penurunan setiap tahun.
“Normalnya bisa menurun antara 24 sampai 28 ml per tahun,” ujar Agus saat dihubungi Kompas.com, Minggu
“Kalau terpapar debu vulkanik berbulan-bulan dan erupsinya terus berlangsung, penurunannya bisa 1,5 sampai 2 kali lipat,” jelasnya.
Baca juga: Puskesmas Toili Dibangun 2027, Dinkes Banggai Sebut Rp7 Miliar Dialokasikan
Peradangan
“Abu vulkanik itu iritatif, mengandung silika, dan dia sifatnya tajam, iritannya kuat,” ucapnya.
Iritasi tersebut dapat menyebabkan peradangan sekaligus mengganggu mekanisme pembersihan saluran napas.
Ketika epitel mengalami kerusakan, tubuh akan meningkatkan produksi lendir sebagai salah satu upaya membersihkan saluran pernapasan.
“Karena iritasi, kemudian terjadi peradangan, sehingga menyebabkan epitel itu bisa mengalami injury atau cedera,” jelas Agus.
“Akibatnya, terjadi peningkatan sekret atau lendir. Itu merupakan mekanisme tubuh untuk membersihkan saluran napas,” imbuhnya.
Jika proses iritasi berlangsung terus-menerus, peradangan yang semula terjadi sebagai respons terhadap paparan dapat berubah menjadi kondisi kronis.
Tak Punya Asma Jadi Asma
Paparan debu vulkanik dalam jangka panjang juga dapat memengaruhi orang yang sebelumnya tidak memiliki penyakit saluran pernapasan.
“Orang yang nggak pernah punya asma bisa jadi asma,” katanya.
Sementara itu, orang yang memang sudah memiliki asma atau penyakit paru kronis perlu lebih waspada.
Paparan abu dapat mempersempit saluran napas, sehingga memicu sesak atau memperberat kondisi yang sudah ada.
Agus menyarankan orang dengan penyakit paru kronis tidak menunggu sampai serangan terjadi untuk menyiapkan obat.
“Obat-obatnya harus siap, jangan sampai menunggu sesak baru kemudian mencari obat,” ujarnya.
Fibrosis Paru
Selain mempercepat penurunan fungsi paru, paparan abu vulkanik dalam waktu lama dengan konsentrasi tinggi juga dapat meningkatkan risiko fibrosis paru.
“Silika itu memiliki mekanisme yang dapat merangsang terjadinya fibrosis pada paru,” jelas Agus.
Fibrosis membuat jaringan paru menjadi lebih kaku sehingga fungsi paru dapat terganggu. Agus menekankan, kondisi tersebut tidak terjadi hanya karena paparan singkat.
“Kalau hanya jangka pendek, tidak akan menyebabkan fibrosis,” katanya.
Menurut Agus, fibrosis atau silikosis lebih berkaitan dengan paparan dalam jangka panjang dan konsentrasi debu yang tinggi.
Karena itu, mengurangi jumlah abu yang terhirup menjadi langkah penting selama paparan berlangsung.(*)
Sumber: Kompas.com