Harga Cabai Rawit Hijau di Palu Tembus Rp105 Ribu per Kg, Disperindag Ungkap Penyebabnya
Regina Goldie September 07, 2026 04:08 PM

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Zulfadli

TRIBUNPALU.COM, PALU - Harga cabai rawit hijau di sejumlah pasar pantauan Kota Palu, Sulawesi Tengah, mengalami lonjakan cukup signifikan.

Pada Senin (7/9/2026), harga cabai rawit hijau tercatat mencapai Rp105 ribu per kilogram.

Harga tersebut naik Rp55 ribu dibandingkan sebelumnya yang masih berada di kisaran Rp50 ribu per kilogram.

Data itu berdasarkan laporan perkembangan harga rata-rata bahan pangan pokok masyarakat yang dipantau Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Sulawesi Tengah.

Kepala Disperindag Sulteng Richard Arnaldo mengatakan kenaikan harga cabai tidak terlepas dari berkurangnya pasokan dari daerah penghasil.

Menurutnya, kondisi cuaca kering yang berkaitan dengan fenomena El Nino turut memengaruhi produksi dan ketersediaan cabai.

Baca juga: Tolak Solusi Utang SMI dari Menkeu, Ketua Fraksi PKB Sulteng: DBH Itu Hak, Pinjaman Itu Beban

"Suplai dari daerah penghasil cabai berkurang dikarenakan kondisi cuaca, El Nino, kering. Sehingga banyaknya cabai itu terbatas dari daerah penghasil," kata Richard, saat ditemui diruang kerjanya, Kelurahan Lolu Selatan, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu.

Kenaikan tidak hanya terjadi pada cabai rawit hijau.

Harga cabai rawit merah juga melonjak dari sebelumnya Rp49.167 menjadi Rp95 ribu per kilogram.

Artinya, harga komoditas tersebut naik sekitar Rp45.833 per kilogram.

Sementara cabai merah keriting naik dari Rp37.500 menjadi Rp60 ribu per kilogram.

Cabai merah biasa juga mengalami kenaikan dari Rp20 ribu menjadi Rp35 ribu per kilogram.

Richard menjelaskan, kondisi tersebut terjadi ketika pasokan dari daerah penghasil menurun, sementara permintaan masyarakat masih tetap ada.

Bahkan, permintaan cenderung meningkat seiring berlangsungnya sejumlah kegiatan kemasyarakatan, termasuk perayaan Maulid.

Baca juga: Dukung Program Berani Menyala, Pemprov Sulteng Sebar 751 Lampu Jalan Tenaga Surya di 2026

"Jadi harga jadinya agak bergerak drastis naik ke atas, cukup tinggi di pasar pantauan," ujarnya.

Disperindag Sulteng, kata Richard, terus memantau pergerakan harga melalui sistem pemantauan harga pasar setiap hari.

Pemantauan dilakukan di sejumlah pasar yang tersebar di kabupaten dan kota se-Sulawesi Tengah.

Selain cabai, harga tomat juga terpantau mengalami kenaikan.

Namun, tomat tidak termasuk dalam kelompok bahan pokok sehingga tetap dipantau sebagai bagian dari komoditas pangan segar.

Richard mengatakan pemerintah juga berupaya mengantisipasi dampak kenaikan harga melalui koordinasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD), khususnya sektor pertanian dan daerah penghasil.

Jika terdapat daerah yang memiliki kelebihan stok, pasokan dapat didorong masuk ke Sulawesi Tengah melalui kerja sama dengan distributor untuk membantu menjaga ketersediaan di pasar.

Disperindag juga menyiapkan pelaksanaan pasar murah di sejumlah titik pada September 2026 sebagai salah satu langkah menjaga stabilitas harga.

Baca juga: Meriahkan Maulid Nabi, Santri Ar Rayyan Kapiroe Ikuti Lomba Tiga Bahasa

Di sisi lain, kondisi sejumlah bahan pokok utama masih relatif aman.

"Untuk bahan pokok seperti beras, minyak dan gula, alhamdulillah dalam kondisi normal dan stok cukup," kata Richard.

Sebelumnya, kondisi harga cabai pada Agustus 2026 masih relatif terkendali.

Berdasarkan data BPS Sulawesi Tengah, cabai rawit bahkan memberikan andil terhadap deflasi sebesar 0,03 persen pada Agustus 2026.

Kondisi tersebut berbeda dengan perkembangan harga pada September ketika pasokan cabai mulai terbatas akibat cuaca kering dan berkurangnya hasil dari sejumlah daerah penghasil. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.