85 Hektare Lahan Terbakar, Meranti Hadapi September dengan Ancaman Karhutla
Firmauli Sihaloho September 07, 2026 04:19 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, MERANTI — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kepulauan Meranti memasuki fase mengkhawatirkan.

Hanya dalam beberapa hari di September 2026, lahan yang terbakar mencapai sekitar 85 hektare, menjadikan bulan ini sebagai periode dengan kebakaran terluas dibandingkan kejadian karhutla yang tercatat sebelumnya.

Luasnya areal yang terbakar tersebut menjadi alarm baru bagi pemerintah daerah dan masyarakat.

Sebab, kebakaran yang terjadi di Desa Gemala Sari, Kecamatan Rangsang, menunjukkan bahwa karhutla dapat berkembang menjadi bencana dengan cakupan luas dalam waktu relatif singkat.

Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kepulauan Meranti, Tarmizi, mengatakan kebakaran di Gemala Sari menjadi salah satu kejadian paling besar yang ditangani sepanjang 2026.

“Yang paling luas memang yang di Gemala Sari. Luas sementara sekitar 85 hektare,” kata Tarmizi, Senin (7/9/2026).

Menurutnya, luasan tersebut masih berdasarkan pendataan sementara di lapangan. BPBD terus melakukan pemantauan dan penanganan untuk memastikan api tidak kembali muncul maupun meluas ke kawasan lain.

Baca juga: Karhutla Rantau Panjang Diselidiki, Bupati Siak Sempat Sebut Nama Pemilik, Polisi: Belum Tersangka

Baca juga: Hotspot Riau Turun Signifikan 7 September 2026, dari 292 Menjadi 176 Titik Panas

Besarnya luasan lahan yang terbakar pada September menjadi perhatian serius karena sebelumnya kejadian karhutla di Meranti cenderung berada pada luasan yang lebih kecil.

Karhutla di Gemala Sari juga memperlihatkan tantangan penanganan kebakaran di wilayah Meranti yang memiliki banyak kawasan gambut.

Api tidak hanya berpotensi menyebar melalui permukaan, tetapi juga dapat menjalar di bawah permukaan tanah sehingga menyulitkan proses pemadaman dan pendinginan.

Tarmizi menegaskan penanganan tidak berhenti setelah api terlihat padam.

Petugas harus memastikan bara di dalam lahan benar-benar mati agar tidak kembali menjadi titik api.

“Setelah pemadaman, kita tetap melakukan pendinginan dan pemantauan. Ini penting karena di lahan gambut api bisa saja masih bertahan di bawah permukaan,” ujarnya.

Ia mengatakan BPBD bersama unsur terkait terus melakukan upaya pemadaman dan pemantauan di lokasi. Kondisi cuaca dan lahan yang kering juga menjadi faktor yang harus diwaspadai karena dapat mempercepat penyebaran api.

Tarmizi mengingatkan masyarakat untuk tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar.

Menurutnya, pencegahan menjadi langkah paling penting karena ketika kebakaran sudah meluas hingga puluhan hektare, kebutuhan personel, peralatan, air dan waktu penanganan juga semakin besar.

“Jangan sampai masyarakat menganggap membakar lahan itu hal biasa. Kondisinya bisa cepat membesar dan sulit dikendalikan,” tegasnya.

BPBD pun meminta masyarakat segera melaporkan apabila menemukan kepulan asap maupun titik api.

Deteksi dan penanganan sejak awal dinilai menjadi kunci untuk mencegah kejadian kecil berubah menjadi karhutla berskala besar.

Dengan 85 hektare lahan terbakar dalam satu kejadian, September kini menjadi peringatan keras bahwa ancaman karhutla di Meranti belum berakhir.

Pemerintah dan masyarakat diminta tidak lengah, terutama menghadapi kondisi lahan yang mudah terbakar.

Update hari ini, karhutla juga terjadi desa Desa Tanjung Samak, Kecamatan Rangsang dengan luas 1 hektar. Saat ini dijelaskan proses pendinginan masih berlangsung dilakukan tim gabungan. (tribunpekanbaru.com/ Teddy Tarigan)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.