Mengenang Pak Sutopo yang Selalu 'Ada' saat Bencana Melanda Indonesia
Moh. Habib Asyhad September 07, 2026 04:34 PM

Ketika ada bencana melanda Indonesia, kita selalu ingat sosok ini: Sutopo Purwo Nugroho (1969-2019). Informasi-informasi yang dia sampaikan laiknya penyejuk di tengah segala kepanikan.

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Nama Sutopo Purwo Nugroho selalu melayang-layang di benak kita ketika bencana datang melanda Indonesia. Pada masanya, eks Kepala Humas Badan Nasional Penanggulangan Benaca (BNPB) itu, terutama lewat cuitan-cuitannya di Twitter, selalu berhasil "menenangkan" warga ketika datang bencana.

“HOAK. Beredar informasi di media sosial yang menyebutkan bahwa akan terjadi gempa susulan yang lebih besar di wilayah X dalam waktu dekat. Itu tidak benar. BMKG tidak pernah mengeluarkan pernyataan tersebut. Tetap tenang dan selalu pantau informasi resmi.”

Atau...

“Dampak gempa magnitudo X di wilayah Y menyebabkan beberapa rumah rusak ringan. Tim Reaksi Cepat masih melakukan pendataan di lapangan. Kondisi mutakhir dilaporkan aman terkendali. Mohon masyarakat tidak terpancing isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.”

Begitulah cuitan-cuitan Pak Sutopo di Twitter ketika ada persoalan-persoalan terkait kebencanaan. Taktis dan presisi.

Nama lengkapnya Sutopo Purwo Nugroho. Dia lahir di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, pada 7 Oktober 1969, dan meninggal dunia pada 7 Juli 2019 di Guangzhou, China, pada usia 49 tahun.

Orang-orang mengenal Pak Sutopo sebagai sosok yang ramah dan, ini yang paling penting, rajin meluruskan berita hoaks terkait kebencanaan lewat media sosial itu. Tak ayal, informasi-informasi yang dia sampaikan membuat tenang kita semua.

Pak Sutopo pernah bercerita bahwa dia selalu mengutamakan pendidikan. Bagaimana lagi, orangtuanya, Suharsono Harsosaputro dan Sri Roosmandari, selalu menanamkan itu pada dirinya.

Sejak SD hingga SMA, Pak Sutopo selalu menjadi juara kelas. Saat jadi mahasiswa juga pernah jadi mahasiswa teladan, juara nasional, hingga lulus dengan predikat cumlaude. Semua pencapaian itu dia dedikasikan kepada ayah dan ibunya.

Pak Sutopo menamatkan kuliah di Program Studi Hidrologi, Jurusan Geografi Fisik, Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada (UGM). Setelah itu dia melanjutkan pendidikan jenjang S2-nya di Institut Pertanian Bogor (IPB) dan mendapatkan gelar MSi dan PhD di situ.

Mengutip National Geographic Indonesia, penelitian utama Pak Sutopo dilakukan di bidang hidrologi dan konservasi tanah dan air.

Dalam karier, Pak Sutopo mengawalinya di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) hingga menjadi Peneliti Ahli Utama golongan IV/e. Dari situ, dia kemudian diperbantukan di BNPB sebelum akhirnya menjadi Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB – khalayak lebih mengenalnya sebagai Kepala Humas BNPB.

Terkait pekerjaan, Pak Sutopo mengaku sebagai sosok yang fokus dalam bekerja. Karena itulah tak heran saat usianya 42 tahun, pangkatnya sudah IV/e. Ketika itu, “Saya di BNPB sebagai PNS dengan pangkat tertinggi paling senior. Perkara sampai sekarang masih eselon II, itu cuma nasib,” kata pria yang pernah jadi penyintas kanker stadium IV itu.

Dari semua pencapaiannya, ada satu yang terasa masih kurang baginya: gelar profesor riset di bidang hidrologi yang hampir diraihnya tapi kandas di tengah jalan.

Ceritanya pada November 2012, Pak Sutopo hendak melakukan orasi profesor riset. Ketika itu semua berkas dan administrasinya sudah disetujui oleh pihak Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Surat keputusan (SK) dirinya sebagai peneliti utama sudah ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Anak-anaknya sudah membuatkannya jas. Ayahnya sudah syukuran. Gedung dan katering sudah dipesan.

Tapi, “Satu bulan sebelum orasi, acaranya dibatalkan oleh LIPI. Gara-gara saya menjabat Kapusdatinmas di BNPB yang bukan lembaga riset. Padahal status saya saat itu peneliti BPPT yang diperbantukan di BNPB. Hanya gara-gara soal pasal karet ditafsirkan pejabat LIPI akhirnya dibatalkan,” kisahnya.

Hal itu tentu saja membuat Pak Sutopo amat kecewa. Dia kemudian mencoba menghadap Kepala LIPI ketika itu, Lukman Hakim, dan Sestama LIPI untuk mempertanyakannya.

Dia kemudian bertanya kepada ketika semua sudah siap tiba-tiba dipermasalahkan statusnya. Dia heran kenapa tidak dari awal, saat dia menulis makalah orasi dan bolak-balik ke LIPI, dipersoalkan.

“Kata mereka, karena waktu itu tidak tahu,” ujar Sutopo.

Sejurus kemudian, LIPI memberi solusi kepada Pak Sutopo supaya di resign dari BNPB dan kembali ke BPPT supaya bisa mendapatkan gelar profesor riset. Dia kemudian berkonsultasi ke Kepala BNPB Mayjen (purn) Syamsul Maarif yang saat itu menyarankannya tetap di BNPB karena diperlukan masyarakat.

Bimbang, Pak Sutopo “mengadu” kepada sang ayah yang kemudian memberinya beberapa wejangan. “Topo, orang hidup itu tidak selamanya lurus. Ada kalanya belak-belok. Ada jurang dalam perjalanan kita. Jika ada orang tidak suka sama kamu, kamu jangan dendam. Jangan kamu balas. Mungkin itu sudah jalan hidupmu. Kamu tidak jadi profesor tidak apa-apa. Bapak sudah bangga dengan apa yang kamu raih. Biarkan masyarakat yang menilai kamu,” begitu kata sang ayah.

Pak Sutopo pun lega. Meski begitu, dia merasa tetap diperlakukan tidak adil oleh lembaga tempatnya bernaung. “Mengapa ada pejabat yang mempersulit orang lain. Harusnya bangga ada profesor muda yang banyak prestasi dan bisa menjadi contoh orang lain,” katanya.

Dan sebagaimana kita tahu, hingga akhir hayatnya, Pak Sutopo mengabdi untuk BNPB sejak Agustus 201. Jabatan terakhirnya: Kepala Pusat Data, informasi, dan Humas BNPB.

Di luar itu, Pak Sutopo juga mengajar di pascasarjana IPB, UI, dan Universitas Pertahanan. Setidaknya sudah 11 jurnal ilmiah internasional yang dia hasilkan, 100 jurnal ilmiah nasional, dan pelbagai artikel ilmiah di media massa, serta berbagai buku atau bagian dari buku yang diterbitkan di tingkat nasional.

Di kehidupan pribadi, Pak Sutopo menikah dengan Retno Utami Yulianingsih dan mendapatkan dua anak. Pada Januari 2018 dia membuat pengumuman bahwa dia mengidap kanker paru-paru stadium IV dan masih berada di bawah tahap perawatan.

Baik keluarga maupun dokternya pun memintanya untuk berhenti beraktivitas. Tapi dia menolak, dia ingin tetap memberi informasi-informasi “menenangkan” kepada khalayak, meski terpaksa memakai morfin.

Dan yang paling penting, di masa-masa sakit itu, dia tak pernah surut dan tetap bersemangat, terutama ketika berbicara kepada wartawan. Di masa-masa itu dia masih terus aktif memantau bencana di media sosial, menyediakan informasi, dalam berbagai kejadian, termasuk informasi soal tenggelamnya KM Sinar Bangun dan gempa Lombok pada 2018.

Kisah hidupnya kemudian diabadikan dalam buku berjudul Sutopo Purwo Nugroho: Terjebak Nostalgia. Yang menulis adalah Fenty Effendy dan buku itu telah diluncurkan pada 1 September 2019.

Deretan prestasi Pak Sutopo sebagaimana dilansir Bpbd.banjarkab.go.id:

2018

  1. The First Responder Asia, dari The Strait Times, Singapura
  2. The Most Inspirational Aparatur Sipil Negara (ASN), dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB)
  3. Communicator of the Year 2018, dari Kementerian Komunikasi dan Informasi
  4. Pegawai Sipil Negara (PNS) Inspiratif Terfavorit 2018, dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB)
  5. Outstanding Spokesperson of the Year 2018, dari dari Jakarta Foreign Correspondents Club (JFCC)
  6. Pejabat Tinggi Pratama Teladan, dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB)
  7. Tokoh Komunikasi Kemanusiaan, dari Kementerian Komunikasi dan Informasi
  8. Human Initiative Award 2018, dari PKPU
  9. Tokoh Teladan Anti Hoax, dari Mafindo
  10. Humas Pemerintah Terbaik, dari Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas Indonesia)
  11. Inspirator Terbaik Penyintas Kanker Paru, dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)
  12. IAGI Award 2018, dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
  13. PNS Inspiratif 2018, dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB).

2019

  1. Obsession Award 2019 Kategori Best Bureaucrats, dari Obsession Media Group (OMG)
  2. Tokoh Perubahan Republika 2018, dari Republika
  3. Public Relation Berkinerja Cemerlang, dari Majalah PR Indonesia
  4. Liputan6 Awards 2019 Kategori Pengabdian Masyarakat, dari SCTV

Di masa-masa seperti sekarang, kita memang butuh orang-orang berdedikasi laiknya Pak Sutopo. Semoga kau tenang di sana, Pak. Jasamu abadi!

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.