Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Petrus Chrisantus Gonsales
TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Proses pembelajaran di SMP Negeri 1 Maumere, Kabupaten Sikka menggunakan sistem fakultatif dengan pembagian sift di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Maumere, Jalan Mawar, Kelurahan Madawat, Kecamatan Alok.
Pantauan TribunFlores.com, Senin (7/9/2026) pukul 10.04 Wita, para siswa kelas IX menggunanan seragam putih biru duduk di dalam kelas membentuk huruf U mendengarkan pengajajaran dari masing-masing guru pengampuh mata pelajaran.
Para guru pun mendapatkan satu ruangan tersendiri untuk ruang guru. Situasi ini berlangsung sudah seminggu pascagempa Flores di Agustus 2026 yang lalu.
Kepada TribunFlores.com, Kepala SMP Negeri 1 Maumere, Maria Heliana, S.Pd mengatakan tujuh ruang kelas dan lima tenda darurat yang ada di SKB tidak mampu menampung 618 siswa-siswi SMP Negeri 1 Maumere.
Baca juga: Bukan Ruang Kelas, Melainkan Tenda, Siswa SMP Negeri 1 Maumere Belajar Dalam Kepungan Debu
"Kalau kami menggunakan ini semua, di dalam satu tenda harus ada 64 siswa. Sehingga secara efektif untuk oembelajaran pasti sangat tidak efektif," ujarnya.
Kegiatan faklultatif yanh dijalankan adalah tiga hari proses belajar mengajar berlangsung di sekolah, sedangkan tiga hari para siswa belajar secara daring.
Dikatakan Heliana, pengaturan jadwal fakultatif yakni pada Senin, Rabu, dan Jumat untuk kelas IX, memanfaatkan tujuh ruang kelas.
Pada Selasa, Kamis dan Sabtu untuk kelas VII dan VIII. Memanfaatkan tujuh ruang kelas dan lima tenda darurat.
"Untuk kelas VIII mereka akan menggunakan lima buah tenda," pungkas Heliana.
Sebelumnya, sebanyak 20 rombongan belajar di SMP Negeri 1 Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) direlokasi.
Keputusan relokasi dilakukan dengan mempertimbangkan aspek keselamatan peserta didik dan tenaga pendidik, terutama jika kembali terjadi gempa susulan.
Sekitar 30 tiang bangunan SMPN 1 Maumere mengalami retak dan kemiringan akibat gempa. Kondisi tersebut menyebabkan gedung sekolah tidak dapat digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.
Dinas PKO Sikka bersama konsultan telah melakukan identifikasi terhadap 70 sekolah. Dari hasil identifikasi tersebut, sebanyak 24 sekolah mengalami kerusakan total dengan 96 ruang kelas. (moa)