Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) masih terlihat di sejumlah wilayah Kota Bandar Lampung pada Senin (7/9/2026) pagi.
Baca juga: Abu Vulkanik Anak Gunung Krakatau Masih Terdeteksi di Lampung, Warga Diminta Waspada
Pantauan Tribunlampung.co.id sekitar pukul 08.00 WIB, abu vulkanik berwarna hitam terlihat menumpuk di rumah warga di Kelurahan Rajabasa Jaya, Kota Bandar Lampung.
Abu tampak menempel di teras, pintu, jendela, hingga pelataran rumah warga.
Meski abu vulkanik masih terlihat, aktivitas warga tetap berlangsung seperti biasa.
Seorang ibu rumah tangga di Bandar Lampung, Titi (39), memilih menutup sejumlah ventilasi rumah untuk mencegah abu masuk ke dalam ruangan.
Ia membeli jaring penutup ventilasi di toko bangunan terdekat dan memasangnya sesuai ukuran ventilasi udara di rumah.
Sementara di bagian dapur, Titi menggunakan plastik kresek yang ditempel dengan selotip hitam untuk menutup celah yang berpotensi menjadi jalan masuk abu.
"Tadinya di ventilasi itu sudah ada jaring penutup, tapi sudah kusam dan terpaksa diganti karena debunya tebel benar sampai lantai depan teras rumah juga kotor," ujar Titi, Senin (7/9/2026).
"Ada tiga titik ventilasi yang saya ganti, supaya abu vulkanik tidak masuk ke dalam rumah," katanya.
Titi berharap kondisi di Lampung segera membaik sehingga aktivitas masyarakat dapat kembali normal.
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Lampung merilis peta sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau pada Sabtu (5/9/2026) pukul 16.00 WIB.
Dalam peta tersebut, abu vulkanik terpantau menyebar ke sejumlah wilayah di Lampung, Bengkulu, dan Sumatera Barat.
Di Pulau Jawa, sebaran abu vulkanik mencapai wilayah Banten, Jakarta, hingga Jawa Barat.
Abu vulkanik juga terpantau bergerak ke arah timur hingga Samudera Hindia.
Sebaran abu vulkanik tersebut berasal dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung menerus dan disertai suara gemuruh.
Dalam siaran pers pada Minggu (6/9/2026), Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Siti Sumilah Rita Susilawati, menyebut berdasarkan rekaman instrumental, episode gempa erupsi menerus mulai tercatat sejak Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB dan berhenti pada Minggu (6/9/2026) pukul 00.04 WIB.
Gunung Anak Krakatau telah berstatus Level III (Siaga) sejak 2 Juli 2026 pukul 16.30 WIB setelah terdeteksi adanya peningkatan aktivitas vulkanik.
Sejak statusnya dinaikkan menjadi Level III hingga 5 September 2026, Gunung Anak Krakatau tercatat mengalami erupsi lebih dari 240 kali.
Gunung Anak Krakatau berada di Selat Sunda dan merupakan gunung api yang terbentuk setelah letusan besar Krakatau pada 1883.
Gunung ini juga pernah memicu tsunami pada 22 Desember 2018 setelah sebagian tubuhnya longsor. Tsunami tersebut menerjang pesisir Banten dan Lampung serta menimbulkan ratusan korban jiwa.
(Tribunlampung.co.id/Bayu Saputra)