Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Arnold Welianto
TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Persediaan air minum bersih bagi para pengungsi gempa Flores di Pulau Palue, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), kini mulai menipis.
Camat Palue, Rudolfus Riba, mengatakan kondisi tersebut terjadi karena cuaca panas menyebabkan bak-bak penampungan air hujan yang menjadi sumber air bagi warga mulai mengering.
“Sekarang panas, bak kering. Persediaan air minum di bak menipis, bahkan bak penampung air hujan kering semua,” jelas Rudolfus, Senin (7/9/2026).
Kondisi itu membuat kebutuhan air bersih bagi warga yang masih bertahan di posko pengungsian menjadi semakin mendesak.
Baca juga: Gempa Belum Usai, ISPA Mengintai: Alarm Kesehatan dari Pulau Palue Sikka
Warga Palue, Nestor Langga, mengatakan selain air bersih, para pengungsi juga masih membutuhkan hunian sementara, selimut, dan alas tidur.
“Kami butuh air bersih, kami butuh rumah darurat, kami butuh selimut dan matras alas tidur,” ujarnya.
Berdasarkan data BPBD Sikka per 5 September 2026, sebanyak 924 kepala keluarga atau 3.462 jiwa masih mengungsi akibat terdampak gempa Flores.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 892 kepala keluarga atau 3.340 jiwa merupakan warga Pulau Palue yang hingga kini masih menempati posko-posko pengungsian.
Sementara itu, di Kecamatan Nita terdapat 20 kepala keluarga atau 96 jiwa yang masih mengungsi. Sedangkan di Kecamatan Kangae terdapat 12 kepala keluarga atau 53 jiwa.
Pulau Palue menjadi salah satu wilayah yang terdampak paling parah karena lokasinya hanya sekitar 20 kilometer dari pusat gempa yang terjadi pada Sabtu (15/8/2026).
Gempa tersebut menyebabkan sejumlah rumah warga mengalami kerusakan, fasilitas umum terdampak, serta mengakibatkan gangguan jaringan internet. Bencana tersebut juga menimbulkan korban jiwa dan luka-luka.
Hingga kini, warga yang masih berada di posko pengungsian membutuhkan dukungan untuk memenuhi kebutuhan dasar, terutama ketersediaan air bersih dan tempat tinggal sementara.
Di tengah kondisi cuaca yang panas dan mulai mengeringnya bak-bak penampungan air hujan, kebutuhan air bersih menjadi salah satu persoalan utama yang dihadapi para pengungsi di Pulau Palue. (awk)