Warga Belum Banyak Tahu CKG, Pemkab Bangka Selatan Minta Stakeholder Gencarkan Sosialisasi
Ardhina Trisila Sakti September 07, 2026 06:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA – Masih banyak masyarakat di Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung yang belum mengetahui adanya program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Puskesmas.

Kondisi tersebut menjadi salah satu kendala dalam meningkatkan cakupan pemeriksaan kesehatan masyarakat. Pemerintah daerah meminta seluruh stakeholder ikut menginformasikan program tersebut hingga ke wilayah masing-masing.

Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Kabupaten Bangka Selatan, dr Agus Pranawa berujar sosialisasi menjadi bagian penting untuk memastikan masyarakat mengetahui layanan CKG yang tersedia di Puskesmas. 

Pemerintah daerah meminta perangkat daerah, kecamatan hingga kelurahan dan desa turut menyampaikan informasi tersebut kepada masyarakat.

Menurutnya, keterlibatan stakeholder diperlukan agar sasaran yang telah ditetapkan pemerintah pusat dapat dijangkau secara maksimal.

“Kendalanya paling dari masyarakat terkait dengan sosialisasi, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui bahwasanya kita ada Cek Kesehatan Gratis,” ujar dia kepada Bangkapos.com, Senin (7/9/2026).

Agus Pranawa menjelaskan, program CKG menyasar masyarakat berdasarkan kelompok usia atau siklus hidup sehingga jenis pemeriksaan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kelompok.

Sasaran tersebut meliputi bayi baru lahir, balita dan anak prasekolah, anak sekolah dan remaja, dewasa hingga lanjut usia. Pelaksanaan CKG dilakukan satu kali dalam setahun untuk setiap sasaran yang telah ditentukan.

Pada kelompok bayi baru lahir, balita dan anak prasekolah, pemeriksaan diarahkan untuk mendeteksi penyakit bawaan lahir serta memantau pertumbuhan dan perkembangan.

Pemeriksaan juga mencakup kesehatan gigi, pendengaran, mata, tuberkulosis dan status imunisasi. Sementara remaja mendapat pemeriksaan terkait obesitas, kesehatan indra, anemia dan kesehatan jiwa.

“Program CKG disesuaikan secara personal berdasarkan kelompok usia atau siklus hidup untuk memastikan deteksi dini penyakit yang paling relevan,” jelas Agus Pranawa.

Untuk kelompok dewasa, pemeriksaan mencakup tekanan darah, gula darah, kolesterol, asam urat serta kesehatan mental.

Sedangkan kelompok lanjut usia diarahkan pada deteksi kanker, risiko stroke dan penyakit jantung serta pemeriksaan fungsi kognitif. 

Pemeriksaan tersebut sekaligus menjadi pintu masuk untuk menemukan penyakit tidak menular yang kerap tidak disadari masyarakat.

Hipertensi menjadi salah satu perhatian karena penyakit tersebut kerap tidak menunjukkan gejala pada penderitanya.

Kondisi itu membuat seseorang bisa saja baru mengetahui dirinya mengalami hipertensi setelah terjadi komplikasi seperti stroke atau ketika penyakit sudah berada pada kondisi berat.

Karena itu, hasil pemeriksaan CKG diharapkan tidak berhenti pada proses skrining, tetapi dilanjutkan dengan edukasi dan pengobatan.

“Ketika ada penyakitnya itu kita harapkan masyarakat sudah mendapatkan edukasi dan juga pengobatan,” sebutnya.

Pasien yang telah terdiagnosis hipertensi maupun diabetes melitus akan mendapatkan tata laksana dan pendampingan dari fasilitas kesehatan.

Penanganan di tingkat Puskesmas dilakukan untuk mencegah kondisi pasien berkembang menjadi lebih berat dan menimbulkan komplikasi.

Apabila membutuhkan penanganan lebih lanjut, pasien dapat dirujuk ke rumah sakit sesuai kondisi yang ditemukan.

“Untuk pengobatan lebih lanjutnya nanti bisa waktu kunjungan ke Puskesmas atau dirujuk ke Rumah Sakit ketika ketemu kasus-kasus seperti hipertensi dan juga diabetes mellitus,” pungkas Agus Pranawa.

(Bangkapos.com/Cepi Marlianto)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.