TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta tengah menindaklanjuti adanya informasi keberadaan monyet ekor panjang (MEP) yang dilaporkan masuk ke area permukiman warga di Kapanewon Banguntapan, Kabupaten Bantul.
Humas BKSDA Yogyakarta, Desy Rachmawati, menjelaskan, informasi mengenai MEP yang dilaporkan masuk ke area permukiman warga dan menimbulkan ketidaknyamanan di wilayah Banguntapan sedang dilakukan pengecekan dan verifikasi di lapangan.
"Untuk saat ini, kami masih menunggu hasil pengecekan dari tim di lokasi sehingga informasi yang kami sampaikan nantinya dapat sesuai dengan kondisi faktual serta data yang diperoleh di lapangan," katanya, saat dihubungi Tribunjogja.com, Senin (7/9/2026).
Setelah proses pengecekan selesai dan terdapat informasi yang dapat disampaikan, maka pihaknya akan memberikan keterangan sesuai dengan kewenangan dan berdasarkan hasil verifikasi yang dilakukan oleh tim BKSDA Yogyakarta.
Sementara itu, Kepala Bidang Damkarmat Badan Penanggulangan Bencana Daerah Bantul, Kristanto Kurniawan, berujar, bahwa masalah MEP berada di kewenangan BKSDA Yogyakarta.
"Penanganan MEP tersebut dilakukan oleh BKSDA," ucap Kristanto.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bantul, Joko Waluyo, menyebut bahwa sampai saat ini belum ada laporan hasil pertanian yang dirusak oleh keberadaan MEP.
"Belum ada laporan hasil pertanian dirusak atau terganggu dengan MEP," ujar dia.
Salah satu warga Kalurahan Wirokerten, El, menyampaikan, keberadaan MEP baru diketahui oleh warga setempat sekitar bulan Agustus 2026. Berdasarkan kabar warga setempat, ada dua ekor monyet yang terlihat beredar di rumah warga.
"Ceritanya beredar dari warga setempat ada rumahnya disamperin oleh seekor monyet. Warga kira hanya satu monyet, ternyata ada dua monyet," katanya, saat dihubungi Tribunjogja.com, Senin (7/9/2026).
Berdasarkan desas-desus yang beredar di masyarakat, kawanan satwa ini diduga turun dari kawasan Gunung Merapi. Namun demikian, El belum bisa memastikan kebenaran asal-usulnya.
Pergerakan monyet tersebut terus dipantau oleh warga setempat. Hingga tanggal 22 Agustus 2026, satu monyet ekor panjang berwarna abu-abu ditemukan di bawah kolong mobil di salah satu kompleks perumahan dekat Jalan Pleret.
"Kemudian, monyet itu berpindah ke daerah Grojagan (Kalurahan Wirokerten). Terus pindah lagi ke Glondong (Kalurahan Wirokerten) sampai ditemukan di pohon anggur milik warga pada hari ini, 7 September 2026," jelas El.
Keberadaan seekor monyet liar di sekitar permukiman warga memicu keresahan masyarakat setempat. Meski belum menunjukkan perilaku agresif, hadirnya satwa tersebut di dekat aktivitas harian warga menimbulkan kekhawatiran.
Selain itu, ukurannya yang cukup besar menjadi alasan utama kecemasan warga, sehingga warga mengkhawatirkan dampaknya terhadap keamanan lingkungan dan kelancaran kegiatan sehari-hari.
Menurutnya, monyet liar masuk ke lingkungan permukiman warga setempat menjadi hal yang pertama kali terjadi. Untuk itu, pihaknya berharap kepada sejumlah pihak agar segera melakukan evakuasi terhadap monyet tersebut.
"Harapan utama warga adalah agar monyet tersebut dapat segera dievakuasi dengan aman oleh pihak terkait seperti Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) atau Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)," harap El.(nei)