Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Masih Terdeteksi di Lampung, Warga Diminta Waspada
taryono September 07, 2026 08:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Warga Lampung diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) yang masih terdeteksi di sejumlah wilayah, meski ketebalannya mulai menipis, Senin (7/9/2026) sekitar pukul 12.00 WIB.

Baca juga: DPRD Kota Bandar Lampung Setujui Raperda Perubahan APBD TA 2026, Soroti Soal Banjir

Masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah disarankan menggunakan masker medis atau jenis N95 serta kacamata pelindung untuk mengantisipasi gangguan kesehatan akibat paparan abu halus.

"Kami mengimbau hindari keluar rumah jika tidak mendesak. Tutup rapat jendela atau ventilasi bangunan, serta pastikan wadah penampungan air minum dan makanan tertutup rapat agar tidak terkontaminasi abu," kata Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Radin Inten II Lampung, Rudi Harianto, Senin (7/9/2026).

Rudi menjelaskan, berdasarkan pantauan citra satelit Himawari, masih terdeteksi dua klaster sebaran debu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

"Jadi mengacu pantauan citra satelit Himawari, terdeteksi dua klaster sebaran debu vulkanik, meskipun abu vulkanik menipis," ujarnya.

Klaster pertama terdeteksi dari permukaan hingga ketinggian 15.000 feet dan bergerak ke arah tenggara hingga barat laut.

Sebaran tersebut mencakup sebagian wilayah Banten, Jawa Barat, Lampung, Bengkulu, hingga Samudra Hindia di sebelah barat.

Sementara klaster kedua terpantau hingga ketinggian 50.000 feet. Sebaran abu bergerak ke arah barat daya hingga barat, menuju Samudra Hindia dan menjauhi wilayah Indonesia.

Menurut Rudi, abu vulkanik juga masih teramati di kawasan Bandara Radin Inten II Lampung, meski kondisinya tidak setebal sehari sebelumnya.

"Sebetulnya pantauan di tempat kami seperti di kawasan Bandara Radin Inten II debu masih teramati, tetapi tingkat ketebalannya sudah mulai menipis. Artinya sudah tidak sepekat kemarin," ungkap Rudi.

Di tengah kondisi tersebut, Rudi meminta masyarakat tidak mudah mempercayai informasi yang beredar di media sosial mengenai dampak erupsi Gunung Anak Krakatau.

Ia menegaskan, narasi mengenai bakal terjadinya tsunami maupun gempa besar di Selat Sunda yang marak beredar belakangan ini merupakan informasi hoaks.

"Masyarakat kami minta tetap tenang dan jangan percaya narasi bombastis yang tidak jelas sumbernya. Patuhi radius aman 3 kilometer yang ditetapkan PVMBG dan selalu pantau pembaruan informasi dari sumber resmi terpercaya," kata Rudi.

Gunung Anak Krakatau Erupsi

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan Gunung Anak Krakatau berada pada Level III atau Siaga sejak 2 Juli 2026.

Gunung Anak Krakatau kemudian mengalami erupsi pada Jumat (4/9/2026) sekitar pukul 23.07 WIB.

Aktivitas erupsi tersebut menjadi perhatian karena berpotensi berdampak terhadap wilayah di sekitar Selat Sunda.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengintensifkan pemantauan selama 24 jam terhadap perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Pemantauan dilakukan untuk mengetahui dampaknya terhadap atmosfer, penerbangan, serta kondisi laut di sekitar Selat Sunda.

(Tribunlampung.co.id/Bayu Saputra)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.