Rasakan Manfaat Pemberdayaan PNM, Produk Gula Aren Susanti Kini Dilirik Eksportir
Content Writer September 07, 2026 08:38 PM

TRIBUNSORONG.COM - Di kaki perbukitan Bungbulang, Garut, Jawa Barat, Susanti membangun usaha gula aren yang ia namai Gasebu, singkatan dari Gula Semut Bungbulang. Ia sudah menekuni pengolahan gula aren sejak 2015, namun produknya kala itu masih dijual apa adanya tanpa identitas merek. 

Ia menyadari kualitas produk yang baik ternyata belum cukup untuk membuat Gasebu dikenal luas. Susanti mengaku, tantangan terbesarnya adalah keterbatasan modal usaha yang belum maksimal, ditambah minimnya akses promosi dan pencatatan usaha yang masih sederhana. 

Kondisi itu membuat peluang ekspor yang sempat terbuka lewat sejumlah kurasi harus tertunda, karena Gasebu belum memiliki sistem produksi dan pemasaran yang siap menampung permintaan dalam skala besar.

Titik balik usahanya datang ketika Susanti bergabung sebagai Nasabah PNM Mekaar dengan pinjaman awal sebesar Rp4 juta. Modal itu ia putar untuk membeli hasil produksi para petani aren di sekitar Bungbulang, yang kemudian ikut ia ajak bergabung menjadi bagian dari kelompok usaha binaannya. 

Skema ini membuat para petani turut merasakan manfaat permodalan, sementara Susanti bertanggung jawab mengelola cicilan kelompok secara kolektif.

Bagi Susanti, dukungan yang paling berarti dari PNM justru bukan sekadar permodalan, melainkan ruang untuk memperkenalkan Gasebu ke khalayak yang lebih luas. Lewat program pemberdayaan yang diusung PNM, ia mendapat pendampingan mulai dari pembuatan kemasan produk yang menarik hingga strategi pemasaran digital, termasuk dorongan untuk merambah penjualan daring dan live shopping. 

Kisah dan produk gula aren Bungbulang pun sempat viral di media sosial TikTok, momentum yang menurutnya menjadi jalan pembuka bagi produknya untuk dikenal banyak orang.

"Ini benar-benar suatu wadah yang sangat luar biasa. Saya pun merasa diapresiasi banget," ujar Susanti mengenang momen tersebut.

Baca juga: Dari Modal Rp2 Juta hingga Omzet Rp20 Juta Sehari, Cerita Dermiyanti Bertumbuh Bersama PNM

Keterbukaan akses pasar itu terasa nyata setelahnya. Sejumlah pihak mulai melirik Gasebu, salah satunya eksportir asal Cianjur, Mahkota Bumi, yang bahkan mendatangi langsung rumah produksi Susanti dan mengajukan permintaan sampel untuk penjajakan ekspor sebanyak 30 ton. 

Bagi Susanti, permintaan tersebut menjadi bukti bahwa dikenalnya Gasebu secara lebih luas membuka peluang yang sebelumnya sulit ia jangkau sendirian, terutama karena keterbatasan modal produksi yang selama ini menjadi kendala utama.

Kolaborasi antara Susanti dan AO PNM di lapangan turut menjadi kunci di balik berkembangnya Gasebu. Sosialisasi program pemberdayaan yang digagas bersama berhasil mengumpulkan puluhan warga sekitar untuk dilatih membuat gula semut dari rumah masing-masing, sehingga modal usaha dapat dikelola lebih merata di tengah masyarakat. 

Dampaknya kini mulai terasa luas, sekitar 130 orang, terdiri dari 113 petani aren dan 17 pekerja di rumah produksi, menggantungkan penghasilan pada usaha yang kian dikenal ini. Sebagian keuntungan usaha pun disisihkan untuk kegiatan sosial di lingkungan sekitar, sejalan dengan semangat memberdayakan masyarakat yang menjadi fondasi berdirinya Gasebu.

Susanti berharap dukungan branding dan pengembangan usaha yang telah ia rasakan dapat terus berlanjut ke depannya, tidak berhenti pada satu momentum saja. "Mudah-mudahan nanti ada program-program lain yang bisa lebih mengembangkan usaha kita dan bisa berdampak lebih luas lagi untuk masyarakat banyak melalui PNM," katanya.

Direktur Utama PT Permodalan Nasional Madani (Persero) Kindaris meyakini perlu pendekatan khusus untuk membuat usaha ultra mikro berkembang, diantaranya adalah dengan mengkombinasikan pembiayaan dan pemberdayaan.

“Untuk membuat usaha ultra mikro berkembang bukan hanya butuh modal uang tetapi juga dibukakan jalan untuk bisa naik kelas. Dibutuhkan dukungan yang lebih besar agar literasi dan kualitas usaha meningkat dibandingkan dengan skala usaha lainnya,” jelas Kindaris.

Kisah Susanti menjadi gambaran bagaimana PNM turut membuka jalan bagi usaha ultra mikro di pelosok daerah untuk memperkenalkan produknya ke pasar yang lebih luas. Dari sebuah kampung kecil di Bungbulang, dukungan branding itu kini mengantarkan Gasebu selangkah lebih dekat menuju pasar ekspor, sekaligus membuka dampak ekonomi yang dirasakan jauh melampaui usaha Susanti sendiri.

Baca juga: Lebih dari Modal Usaha, PNM Bantu Wujudkan Mimpi Anak Nasabah Lewat Pendidikan

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.