LEPAR, BABEL NEWS - Turnamen sepak bola di Desa Tanjung Labu, Kecamatan Lepar, Kabupaten Bangka Selatan, diwarnai kericuhan hingga terjadi aksi saling pukul. Laga yang mempertemukan Merdeka Toboali dengan Persita B Tanjung Labu itu berlangsung pada Minggu (6/9). Kerusuhan tersebut terekam dalam sejumlah video amatir dan viral di media sosial.
Dalam video berdurasi satu menit satu detik, puluhan orang terlihat masuk ke tengah lapangan saat pertandingan berlangsung. Debu berterbangan ketika kerumunan orang terlibat keributan di tengah lapangan. Seorang pemain mengenakan kaus merah bermotif belang hitam terlihat ditarik oleh sejumlah orang dan beberapa kali mendapat pukulan.
Kepala Desa Tanjung Labu, Pindo Putra Yandi membenarkan video viral tersebut terjadi di desanya. Keributan itu terjadi saat pertandingan sepak bola tengah berlangsung. Meski sempat terjadi keributan, pertandingan tetap dapat dilanjutkan hingga selesai. Merdeka Toboali akhirnya memastikan kemenangan melalui adu penalti dengan skor 4-3 atas Persita B Tanjung Labu.
"Benar, video viral tersebut terjadi di Desa Tanjung Labu. Kericuhan itu terjadi saat pertandingan sedang berlangsung," kata Pindo Putra Yandi, Senin (7/9).
Pindo Putra Yandi mengatakan perangkat pertandingan turut berupaya menjadi penengah saat keributan terjadi di lapangan. Panitia juga memastikan kondisi setelah pertandingan berakhir kembali kondusif dan tidak terjadi keributan susulan.
Bahkan, tim Merdeka Toboali diantar hingga ke Pelabuhan Penutuk setelah pertandingan sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan. Meskipun sejumlah pemain dari kedua kesebelasan mengalami luka lebam. "Sebagai panitia kami tetap menjaga kondusifitas," sebutnya.
Pindo Putra Yandi menegaskan panitia akan memaksimalkan pengawasan selama rangkaian pertandingan hingga turnamen berakhir. Perhatian lebih akan diberikan selama beberapa hari ke depan karena kompetisi telah memasuki fase penting menuju partai puncak. Babak final turnamen dijadwalkan berlangsung pada 20 September 2026.
"Hari ini pertandingan masih akan dilanjutkan, karena sudah masuk delapan besar, final akan berlangsung pada tanggal 20 September 2026 mendatang," pungkas Pindo Putra Yandi.
Terpancing emosi
Polisi menyebut keributan dipicu aksi salah satu pemain yang diduga memprovokasi penonton saat pertandingan berlangsung. Situasi sempat memanas, namun pertandingan akhirnya kembali dilanjutkan hingga babak adu penalti.
Kapolsek Lepar Pongok, Ipda Adi Haryono, mengatakan keributan bermula ketika sebuah bola mati ditendang ke arah penonton. Situasi kemudian memanas setelah seorang pemain disebut menantang dan memancing emosi penonton. Keterangan tersebut diperoleh berdasarkan kondisi di lapangan dan kesaksian sejumlah pihak yang berada di lokasi, termasuk panitia dan pihak Askab PSSI.
"Kericuhan itu terjadi gara-gara ada salah satu pemain memprovokasi penonton, pemain sendiri gitu nantang-nantang penonton," kata Adi Haryono.
Adi Haryono menegaskan pemain tersebut justru disebut menjadi pihak yang memancing emosi penonton sebelum keributan terjadi. Polisi menyebut terdapat banyak saksi yang melihat langsung rangkaian kejadian tersebut di lokasi pertandingan. Keterangan dari saksi-saksi tersebut akan menjadi bagian dari gambaran kejadian yang terjadi saat pertandingan.
"Pemain itu justru yang mancing emosi penonton, bukan penonton. Setelah itu baru kita selesaikan, pertandingan dilanjutkan sampai adu penalti," jelas Adi Haryono.
Ia memastikan, kericuhan tersebut tidak menimbulkan korban jiwa. Meski demikian, pengamanan tetap dilakukan setelah pertandingan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya keributan susulan. Tim Merdeka Toboali bahkan dikawal hingga menuju Pelabuhan Penutuk setelah pertandingan berakhir.
Pengamanan juga akan diperketat karena rangkaian Tanjung Labu Cup masih berlanjut ke pertandingan berikutnya. Polsek Lepar Pongok akan mengerahkan personel untuk menjaga situasi tetap kondusif selama pertandingan berlangsung. Apabila jumlah personel dinilai kurang, polisi akan meminta bantuan tambahan dari Polres Bangka Selatan.
"Kami akan upayakan kondusif, jika anggota pengamanan kurang, kami akan minta backup dari Polres," sebutnya. (u1)
PSSI Bakal Investigasi
KERICUHAN yang mewarnai pertandingan Tanjung Labu Cup di Desa Tanjung Labu, Kecamatan Lepar, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung berbuntut panjang. Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) memastikan insiden tersebut akan diinvestigasi untuk menentukan pihak yang bertanggung jawab. Sanksi dapat dijatuhkan kepada pihak yang terbukti membuat kericuhan sesuai statuta PSSI dan peraturan pertandingan.
Ketua Asosiasi Kabupaten (Askab) PSSI Bangka Selatan, Felly Husaini, mengatakan pemeriksaan tidak hanya akan menyasar pemain yang terlibat dalam pertandingan. Perangkat pertandingan, panitia pelaksana, tim yang bertanding, penonton hingga suporter juga akan menjadi bagian dari investigasi. PSSI akan melihat fakta dan keterlibatan masing-masing pihak sebelum menentukan sanksi.
"PSSI akan menginvestigasi kejadian ricuhnya pertandingan Tanjung Labu Cup dan akan memberikan sanksi kepada pihak yang membuat ricuh pertandingan sesuai dengan statuta PSSI dan peraturan pertandingan," tegas Felly, Senin (7/9).
Menurut Felly, proses investigasi akan dilakukan secara objektif untuk memastikan keputusan yang diambil berdasarkan fakta kejadian. PSSI tidak ingin pemeriksaan hanya bertumpu pada informasi yang beredar, tetapi juga mempertimbangkan keterangan dari berbagai pihak. Karena itu, setiap informasi yang berkaitan dengan kericuhan akan dikumpulkan dan ditelaah dalam proses investigasi.
PSSI Bangka Selatan juga membuka ruang bagi pihak-pihak yang merasa dirugikan untuk menyampaikan laporan dan masukan. Informasi dari pihak keamanan, termasuk kepolisian, akan menjadi bahan dalam proses investigasi tersebut. Keterangan dari pemain yang merasa dirugikan serta pihak lain yang dianggap perlu juga akan diterima PSSI.
"PSSI Bangka Selatan akan menerima laporan dan masukan dari para pihak keamanan kepolisian, pihak pemain yang merasa dirugikan serta pihak lainnya yang dianggap perlu," urai Felly. (u1)