TRIBUNNEWS.COM - Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) berdampak hingga ke Kota Bandung, Jawa Barat.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandung pun melakukan penyemprotan jalan sebagai salah satu langkah antisipasi debu yang berterbangan.
"Untuk penyemprotan jalan untuk menghindari debu itu naik kembali, itu akan dilakukan penyemprotan untuk hari ini di dua tempat, Jalan Asia Afrika dan Jalan Dago pukul 12.00 WIB," kata Kepala Pelaksana BPBD Kota Bandung, Didi Ruswandi.
Mengutip TribunJabar.id, penyemprotan tersebut diharapkan membantu menekan debu yang kembali beterbangan akibat lalu lintas kendaraan.
Selain langkah tersebut, Didi juga menyinggung soal mitigasi bencana lain di Kota Bandung, termasuk gempa bumi.
"Kalau gempa sampai sekarang memang belum ada alat yang bisa memprediksi kapan terjadi dan besaran terjadi,"
"Mungkin kita menyiapkan masyarakatnya, menyiapkan kapasitas mitigasi," pungkasnya.
Kualitas udara di Kota Bandung pada Senin (7/9/2026) hari ini kualitasnya memburuk.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung mengonfirmasi hal tersebut.
"Per jam sekarang kualitasnya sedang. Tadi pagi itu sedang menjelang buruk, sekarang sedang," ujar Kepala DLH Kota Bandung, Darto kepada TribunJabar.id.
Ia menuturkan, masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan diimbau untuk menghindari aktivitas di luar ruangan.
Baca juga: Paper Test Abu Vulkanik Negatif, Kenapa Penerbangan Soetta Belum Dibuka?
"Bagi kelompok sensitif, sebaiknya jangan keluar rumah atau keluar ruangan secara berlebihan karena kondisinya sekarang sedang, statusnya kuning," kata Darto.
Untuk itu, ia mengimbau warga yang memiliki gangguan pernapasan untuk memakai masker KN95 apabila beraktivitas di luar.
Abu vulkanik juga mengganggu aktivitas kegiatan belajar mengajar (KBM) di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.
Proses KBM di sejumlah sekolah terganggu hingga dialihkan ke sistem daring, Senin (7/9/2026).
Meski begitu, hanya siswa saja yang belajar daring, sementara aktivitas pelayanan pendidikan di sekolah tetap berjalan.
Mengutip TribunJabar.id, di SMPN 5 Purwakarta, guru dan tenaga pendidik lainnya tetap datang ke sekolah sambil mengenakan masker.
Mereka melaksanakan pembelajaran secara daring di ruang kerja masing-masing.
Budi Nurhayati selaku Wakil Kepala Bidang Humas SMPN 5 Purwakarta mengatakan, pembelajaran daring ini sudah tertulis dalam Surat Edaran dari Bupati Purwakarta.
Pihak sekolah menerima SE tersebut sekitar pukul 10.22 WIB.
Dari situ, pihak sekolah lalu menginformasikan kepada orang tua siswa terkait imbauan belajar dari rumah.
Selain itu, wali kelas juga diimbau untuk mengawasi anak-anaknya agar selalu menggunakan alat pelindung diri seperti masker ketika berkegiatan di luar rumah.
"Kepala sekolah melalui kami, Humas, memberikan imbauan kepada wali kelas untuk kemudian disampaikan ke grup orang tua,"
"Selama aktivitas vulkanik ini, jika anak keluar dari rumah harus menggunakan alat pelindung diri, di antaranya berupa masker," katanya.
(Tribunnews.com, Muhammad Renald Shiftanto)(TribunJabarlid, Nappisah/Hilman Kamaludin)